Madrasah Didorong Miliki Daya Saing Kemampuan Komputasi

Kompas.com - 02/11/2020, 18:56 WIB
Menag Fachrul Razi dalam webinar Kesiapan Menghadapi Era New Normal dari Perspektif Lintas Agama yang digelar oleh Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan Kementerian Agama, di Jakarta, Sabtu, 25 Juni 2020. DOK. KOWANIMenag Fachrul Razi dalam webinar Kesiapan Menghadapi Era New Normal dari Perspektif Lintas Agama yang digelar oleh Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan Kementerian Agama, di Jakarta, Sabtu, 25 Juni 2020.

KOMPAS.com - Menteri Agama ( Menag) Fachrul Razi mendorong dilakukannya injeksi Computational Thinking (CT) di lingkungan Madrasah. Hal ini perlu dilakukan demi mempersiapkan siswa madrasah yang berdaya saing dan mampu beradaptasi dalam dunia digital di Era Industri 4.0.

Computational Thinking (CT) atau pemikiran komputasi merupakan kecakapan berpikir seperti para ilmuwan komputer dan menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata.

Baca juga: Menag Dorong Pesantren Jadi Motor Pembangunan Indonesia

"Saat ini, kita memasuki Era Industri 4.0, ada pergeseran kebutuhan profil kompetensi dulu dengan kebutuhan kompetensi anak-anak kita sekarang dan nanti di abad 21," ucap dia lewat keterangan resminya, melansir laman Kemenag, Senin (2/11/2020).

Dia mengaku, di Era Industri 4.0 membawa implikasi terhadap disrupsi jenis dan bentuk profesi di masa depan. Banyak ahli memprediksi bahwa di masa mendatang akan ada banyak profesi pekerjaan yang hilang atau tidak lagi dibutuhkan dan akan lahir jenis dan bentuk profesi baru yang mungkin belum kita kenal.

"Banyak pekerjaan mungkin akan tergantikan oleh robot. Inilah tantangan dunia pendidikan kita saat ini," terangnya.

Demi mengantisipasi itu, dia berpesan untuk tiga hal. Pertama, dia berharap pendidikan harus mampu membekali siswa dengan kemampuan untuk mengatur, memerintahkan, dan menguasai robot. Bukan malah sebaliknya manusia yang diatur dan dikuasai oleh robot.

"Kedua, saatnya kita mulai mengubah mindset dan orientasi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada formalitas administratif saja, seperti ijazah, gelar, piagam, dan sebagainya," ucap Menteri Fachrul.

Ketiga, Menag mengingatkan pentingnya penguasaan kemampuan dasar tentang logika, kemampuan berbahasa dan berkomunikasi yang baik, kemampuan dasar matematika dan ilmu alam. Pesatnya kemajuan teknologi artificial intelligence (AI) dan robotik saat ini tidak mungkin dapat dikendalikan, jika tidak mempunyai kemampuan dasar yang dibutuhkan.

"Dalam konteks inilah kebutuhan penguasaan computational thinking bagi anak didik kita merupakan sebuah keniscayaan dan tuntutan zaman yang tidak bisa terhindarkan jika kita ingin mereka tetap survive di masa mendatang," harapnya.

Guru dan siswa harus jadi pemain AI dan robotic di 2021

Dia juga mengingatkan agar para siswa, siswi serta guru madrasah tidak hanya puas menjadi penonton dan penikmat teknologi saja. Tetapi sebaliknya, mereka juga harus menjadi pemain teknologi artificial intelligence dan robotik abad 21.

Dia menambahkan, madrasah pun memiliki tanggung jawab untuk mengendalikan pesatnya kemajuan iptek yang nyaris bebas nilai tersebut, dengan landasan nilai-nilai agama.

Baca juga: Menag: Terobosan Penting demi Tingkatkan Mutu Madrasah

"Inilah tantangan anak-anakku, siswa dan siswi madrasah agar mampu mengintegrasikan Iptek dan Imtaq secara seimbang dan proporsional,” tukas Menag," tegas dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X