Psikolog: Seseorang Matang Menikah di Umur 20-an

Kompas.com - 19/10/2020, 21:34 WIB
Ilustrasi menikah ShutterstockIlustrasi menikah

KOMPAS.com - Usia matang seseorang untuk menikah di umur 20-an. Pada usia tersebut, seseorang sudah bisa mengambil keputusan lebih matang dan cepat.

Demikian dikatakan oleh psikolog dan pendiri klinik tumbuh kembang anak Rainbow Castle, Devi Sani, saat menanggapi kejadian pelajar SMK bernama Ahmad Rizal (18) asal Lombok Barat, NTB, yang menikahi dua gadis berumur masih belia. Istri pertama baru lulus SMP, sedangkan istri kedua masih duduk di Madrasah Aliah.

Baca juga: Fakta Pelajar SMK Nikahi 2 Gadis, Tak Diketahui KUA, Habiskan Dana Rp 50 Juta

"Pada usia 20-an itu, dari segi psikologis, yakni bagian otak itu sudah bisa menentukan kamu, jadi bisa mengambil keputusan lebih clear dan matang, dan bisa mengambil risiko," kata Devi kepada Kompas.com, Senin (19/10/2020).

Meski sudah bisa mengambil keputusan, bilang Devi, tapi faktor pendidikan keluarga dan sekolah juga bisa mempengaruhi, ketika seseorang memiliki keinginan untuk serius menjalin pernikahan dengan pasangannya.

"Jadi, bagaimana anak itu dididik oleh pendidikan keluarga dan sekolah, sehingga menjadi nilai tambah untuk pemikirannya dalam mengambil tindakan yang bagus atau tidak di kehidupannya," tutur dia.

Setidaknya, dia mengaku, ada tiga hal yang harus dimiliki saat menjalankan pernikahan. Ketiganya adalah kualitas, keterampilan (skill), dan sikap mau bertanya.

Masalah kualitas, bilang dia, seseorang harus memiliki sikap kesabaran dalam menjalani bahtera rumah tangga, bisa menjaga hubungan penikahan, berkomitmen dalam pernikahan, dan memiliki tujuan yang baik dalam pernikahan.

Poin keterampilan, dia menyebutkan, kedua pasangan harus memiliki komunikasi yang efektif, saling kerjasama dalam membangun pernikahan, dan mampu bernegosiasi bersama pasangan.

"Ini kita lakukan supaya bisa mengatur ketika saat terjadi konflik. Jadi harus saling komunikasi dan bersama-sama membangun pernikahan yang baik," sebut Devi.

Sedangkan poin terakhir, sikap saling bertanya antar pasangan perlu dilakukan. Salah satu hal yang bisa ditanyakan terkait keinginan memiliki anak cepat atau tidak, masalah keuangan, dan lainnya.

Baca juga: Dalam Satu Bulan, Pelajar SMK di Lombok Nikahi 2 Gadis

"Itu pertanyaan yang bisa ditanyakan ke kita sendiri atau pasangan kita. Jadi harus ditanyakan, masalah anak, keuangan, siapa yang harus bekerja setelah pernikahan," pungkas Devi.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X