Guru Besar UGM: Masyarakat Tak Perlu Mendramatisir Resesi

Kompas.com - 26/09/2020, 13:21 WIB
Ilustrasi resesi ekonomi shutterstock.comIlustrasi resesi ekonomi
|

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia menjadi permasalahan serius. Selain berdampak disegala sektor, juga pada perekonomian.

Karena pandemi tak kunjung usai, ada sebagian masyarakat atau media yang mendramatisir kondisi resesi. Padahal, resesi itu merupakan bagian dari siklus perekonomian suatu negara.

Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada ( UGM), Prof. Dr. Insukindro, MA, resesi kerap dialami suatu negara.

Baca juga: Global MBA Rankings 2021: MM UGM, Sekolah Bisnis yang Mendunia

"Banyak surat kabar menggunakan kata-kata jurang resesi, sebenarnya tidak ada seperti itu. Baik resesi, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan lainnya, itu bisa terjadi kapan saja," ujarnya seperti dikutip dari laman UGM, Kamis (24/9/2020).

Dijelaskan, definisi yang paling populer menyebut resesi terjadi ketika penurunan PDB terjadi selama dua kuartal berturut-turut.

Namun demikian, The National Bureau of Economic Research sendiri tidak mendefinisikan resesi secara demikian, melainkan sebagai penurunan signifikan dalam aktivitas perekonomian yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan.

"Sekarang dipahami kalau dua kuartal berturut-turut GDP turun maka itu resesi. Di Indonesia ekonom birokrat dan akademisi banyak yang menganggap itu konsep resesi yang sudah dipakai di Amerika, padahal ternyata NEBR tidak menggunakan konsep itu," jelasnya.

Adapun besaran ekonomi ini, umumnya terkait dengan siklus ekonomi atau siklus bisnis. Dengan menggunakan siklus bisnis, secara umum resesi dimulai saat aktivitas perekonomian mencapai titik puncak dan berakhir saat perekonomian berada pada titik palung.

Lebih lanjut, resesi adalah bagian dari siklus ekonomi yang dapat diperkirakan dengan fluktuasi ekonomi (fe). Nilai lebih kecil dari nol berarti resesi, dan sebaliknya nilai lebih besar dari nol berarti ekspansi.

Dengan pengertian ini, menurutnya, Indonesia sebenarnya sudah mengalami resesi pada kuartal pertama tahun 2020.

Untuk itulah pemerintah, ekonom, maupun media massa perlu menghentikan narasi yang menggambarkan resesi sebagai kondisi yang menakutkan.

Bahkan seperti belum pernah dialami Indonesia sebelumnya, atau sesuatu yang baru terjadi karena pandemi Covid-19 ini.

Pandemi saat ini membuat resesi yang dialami Indonesia lebih tajam dari tahun-tahun sebelumnya, dan hal ini merupakan masalah serius yang perlu ditangani.

Baca juga: Guru Besar UGM: Obat Covid Lewat Uji Klinis, Jangan Buru-Buru Diklaim

" Resesi itu sendiri bisa terjadi hampir setiap tahun. Yang akan jadi masalah kalau penurunannya dalam dan lama," tandas Insukindro.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X