YCAB: Mesin dan Kurikulum SMK Sudah Kuno

Kompas.com - 23/09/2020, 20:22 WIB
Aktivitas pembelajaran siswa SMK.
DOK. Direktorat SMK KemendikbudAktivitas pembelajaran siswa SMK.

KOMPAS.com - Siswa yang mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Keatas ( SMK) memang diprioritaskan untuk terjun langsung di dunia kerja. Namun, faktanya sekolah SMK saat ini banyak mengalami ketinggalan kurikulum, ditambah dengan alat atau mesin yang digunakan banyak yang kuno.

"Memang nature-nya seperti itu, terjun di dunia usaha. Tapi nyatanya, SMK banyak yang alami ketinggalan kurikulum, dan mesin yang digunakan sudah kuno," kata Founder dan CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Foundation, Veronica Colondam dalam acara webinar "Transformasi Guru di Era Industri 4.0", Rabu (23/9/2020).

Baca juga: Pelajar SMK Harus Ditanamkan Ilmu Soft Skill

Memang, kata Veronica, jika mau diperbarui harusnya membutuhkan funding (pendanaan) yang tidak sedikit. Namun, kenyataannya memperoleh funding itu sangat sulit didapatkan.

Siswa SMK harus miliki "soft skill"

Presiden Komisaris SEA Group Pandu Sjahrir juga menyoroti perkembangan SMK. Menurut dia, siswa di SMK jangan hanya menggunakan hard skill saja, tapi saat ini harus juga memiliki soft skill.

Soft skill merupakan kecerdasan emosional, sifat kepribadian, keterampilan sosial, komunikasi, berbahasa, kebiasaan pribadi, dan optimisme yang mencirikan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Sedangkan hard skill merupakan sesuatu yang bisa diraih dan dipelajari.

Demi memperoleh soft skill yang baik, bilang Pandu, sosok guru yang harus mengajarkan hal itu kepada siswa. Maka dari itu, tenaga pendidik yang ada saat ini, khususnya di SMK harus diberikan ilmu soft skill tersebut.

Dengan memiliki soft skill, semua siswa mampu beradaptasi dengan cepat. Karena, dunia ini cepat mengalami perubahan di bidang teknologi dan sebagainya.

"Ingat zaman kita masih pakai BBM messenger, sekarang bicaranya sudah pakai whatsapp, anak-anak di bawah kita tiktok dan instagram, jadi berubah cepat, jangan belajar hard skill saja, tapi soft skill juga," jelas Pandu.

Veronica menambahkan, bila ada hard skill tanpa soft skill, itu diibaratkan ada pendidikan tapi tidak memiliki akhlak dan budi pekerti. Pada akhirnya, ilmu yang didapatkan oleh para siswa bisa digunakan untuk hal yang negatif.

"Apa gunanya dapat education tinggi-tinggi tapi karakternya tidak bagus, dapat ilmu malah jadi hacker. Jadi saya pikir jangan hard skill, tapi harus ada soft skill-nya," tukas Vero biasa wanita ini disapa.

Direktur Jenderal (Dirjen) Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wikan Sakarinto pernah mengatakan, anak didik atau pelajar di SMK harus ditanamkan soft skill, seperti kemampuan komunikasi, sikap, dan karakter baik oleh tenaga pendidik.

Dengan soft skill baik, Wikan meyakini para lulusan SMK nantinya akan mampu berkomunikasi dengan baik saat nantinya mereka menjadi wirausaha atau bekerja di dunia industri.

Baca juga: Kemendikbud: Pendidikan Vokasi Percepat Lulusan SMK Peroleh Kerja

"Jadi disamping hard skill yang diajarkan kepada anak didik, soft skill lebih utama yang harus diajarkan tenaga pendidik ke anak didik," ungkap Wikan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X