YCAB: Siswa Masih Rasakan Keadilan Belajar Online Belum Merata

Kompas.com - 23/09/2020, 13:45 WIB
Pelajar bersama orang tuanya memanfaatkan internet gratis untuk belajar di warung makan di Desa Mlati, Kediri, Jawa Timur, Senin (27/7/2020). Pemilik warung menyediakan internat gratis bagi pelajar untuk menunjang pembelajaran jarak jauh saat pandemi COVID-19 tanpa harus memesan makanan atau minuman guna meringankan beban orang tua membeli paket internet. ANTARA FOTO/PRASETIA FAUZANIPelajar bersama orang tuanya memanfaatkan internet gratis untuk belajar di warung makan di Desa Mlati, Kediri, Jawa Timur, Senin (27/7/2020). Pemilik warung menyediakan internat gratis bagi pelajar untuk menunjang pembelajaran jarak jauh saat pandemi COVID-19 tanpa harus memesan makanan atau minuman guna meringankan beban orang tua membeli paket internet.

KOMPAS.com - Siswa masih merasakan kurangnya pemerataan kualitas dalam proses belajar online di masa pandemi Covid-19. Banyak siswa tidak memiliki smartphone dan kuota internet ketika hendak menjalankan proses belajar online.

Demikian disampaikan Founder dan CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Foundation, Veronica Colondam dalam acara webinar "Transformasi Guru di Era Industri 4.0", Rabu (23/9/2020).

Baca juga: Akhirnya, Donasi Smartphone dari Jurnalis Itu Sampai ke Papua...

"Iya ada ketidakadilan dalam akses internet dan alatnya (smartphone atau ponsel pintar) yang sedang terjadi oleh pelajar di pandemi Covid-19. Ini yang sedang kita hadapi juga, karena Covid-19 pelajar dari kita hilang 30 persen," ungkap Veronica.

Realita di lapangan

Bayangkan, kata Veronica, dirinya menemukan salah satu kasus, ada satu keluarga yang memiliki smartphone hanya satu buah. Padahal, keluarga itu memiliki tiga anak yang semuanya sedang mengenyam dunia pendidikan.

"Itu keluarga yang punya smartphone cuma ibunya, karena untuk berdagang. Jadi itu smartphone digunakan bergantian untuk ketiga anaknya," jelas wanita yang akrab disapa Vero ini.

Dia menegaskan, keadaan itu memang sangat menakutkan, karena ada jurang pemisah antara yang mampu membeli smartphone dan kuota internet dengan yang tidak mampu.

"Jadi memang harus ada selalu Rp1 untuk kuota 1 gigabyte. Banyak masyarakat yang menginginkan itu. Karena banyak pelajar yang menggunakan internet untuk belajar, seperti webinar ini," jelas Vero.

Adaptasi era baru

Hal senada disampaikan Presiden Komisaris SEA Group Pandu Patria Sjahrir.Pandu melihat memang masih banyak pelajar yang tidak memperoleh konektivitas internet, sehingga mereka tertinggal pelajaran.

Maka dari itu, masalah ini harus diselesaikan dengan baik oleh semua pihak.

Untuk itu, bilang Pandu, peran guru harus bisa beradaptasi di era new normal ini. Agar, para murid yang susah dengan akses internet bisa merasakan pembelajaran dengan jarak jauh secara baik.

Baca juga: Belajar Online, Orangtua Diminta Lebih Sabar Dampingi Anak

"Memang Covid-19 buat kita deg-degan, sekolah pada tutup, takut sekali yang tidak punya internet, itu akan jadi perbedaan. Makanya guru harus bisa berevolusi di era new normal ini, agar bisa memberikan yang terbaik kepada pelajar, baik adik-adik kita maupun anak-anak kita," tukas dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X