Unicef: 24 Juta Siswa di Dunia Terancam Putus Sekolah akibat Pandemi

Kompas.com - 18/09/2020, 08:51 WIB
Seorang siswa SD dengan masker di wajahnya berjalan meninggalkan sekolah usai melakukan pendaftaran ulang pada hari pertama sekolah di Jayapura, Papua, Senin (13/7/2020). Siswa SD, SMP dan SMA mulai mengikuti kegiatan belajar-mengajar tahun ajaran baru 2020/2021 dengan sistem pembelajaran tatap muka langsung dan daring. ANTARA FOTO/Gusti Tanati/wsj. Gusti TanatiSeorang siswa SD dengan masker di wajahnya berjalan meninggalkan sekolah usai melakukan pendaftaran ulang pada hari pertama sekolah di Jayapura, Papua, Senin (13/7/2020). Siswa SD, SMP dan SMA mulai mengikuti kegiatan belajar-mengajar tahun ajaran baru 2020/2021 dengan sistem pembelajaran tatap muka langsung dan daring. ANTARA FOTO/Gusti Tanati/wsj.

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 tak hanya memberi tantangan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Pandemi juga mengancam dunia pendidikan secara global.

Setidaknya, 24 juta siswa di dunia kini terancam putus sekolah selama pandemi. Kondisi tersebut dikatakan Direktur Eksekutif United Nations Children’s Fund (Unicef) Henrietta Fore.

"Pada puncak Covid-19, 192 negara menutup sekolah yang menyebabkan 1,6 miliar siswa tidak belajar secara langsung, dan 24 juta anak di antaranya diproyeksikan putus sekolah," papar Fore dalam konferensi video Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), merangkum laman Sahabat Keluarga Kemendikbud, Jumat (18/9/2020).

Baca juga: Dua Kampus Ini Dominasi Medali Emas di Kompetisi Nasional MIPA 2020

Saat ini, kata dia, sekitar 870 juta siswa, atau setengah dari populasi pelajar di 51 negara dunia belum dapat kembali ke sekolah.

“Semakin lama anak-anak tidak bersekolah, semakin kecil kemungkinan mereka untuk kembali,” kata dia. 

Untuk itu, Unicef, UNESCO, dan WHO mendesak pemerintah untuk memprioritaskan pembukaan sekolah ketika pembatasan dicabut.

Fore mengakui, saat pandemi merebak, banyak sekolah beralih ke pendidikan virtual untuk menggantikan belajar tatap muka.

Baca juga: UI Beri Klarifikasi soal Materi Sex Consent di PKKMB Mahasiswa Baru

Sayangnya, banyak pakar pendidikan mengakui kekurangan belajar virtual dan tidak dapat menggantikan sekolah tatap muka.

Alasannya, kata Fore, lebih 460 juta siswa di seluruh dunia tidak memiliki akses internet, komputer, atau perangkat seluler untuk berpartisipasi dalam belajar virtual.

"Mereka lebih rentan terhadap pelecehan seksual, dan kecil kemungkinannya untuk keluar dari siklus kemiskinan,” kata dia.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X