Indonesia Perlu Riset Mendalam Tingkatkan Kualitas Kopi

Kompas.com - 08/09/2020, 11:51 WIB
Ilustrasi kopi kekinian dicampur gula aren cair. SHUTTERSTOCK/GANDI PURWANDIIlustrasi kopi kekinian dicampur gula aren cair.

KOMPAS.com - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengatakan Indonesia perlu riset lebih mendalam agar dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas kopi. Dengan begitu, kopi Indonesia bisa lebih dicintai pasar dunia.

"Riset yang dilakukan bisa memengaruhi produktivitas dan kualitas kopi berdasarkan budidaya, penanaman, pengolahan pasca panen, proses produksi, dan peralatan yang dibutuhkan," kata Bambang dalam keterangan resminya, melansir laman Ristekbrin.go.id, Senin (7/9/2020).

Baca juga: Kopi Indonesia Bisa Harum di Kancah Dunia, asal...

Tak hanya itu, kata Bambang, perlu diperhatikan penguasaan dalam hal memasarkan kopi, baik dalam hal mengembangkan produk diminati pelanggan, menentukan target pasar, mengembangkan agro industri kopi, serta menerapkan sosial kemasyarakatan yang melibatkan beberapa institusi, salah satunya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Riset berupaya untuk memberikan sentuhan teknologi untuk petani yang menjalankan perkebunan rakyat atau diberikan pada UMKM yang disebut riset dan penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) periode tahun 2005 – 2020. Mereka membutuhkan alat yang terjangkau, kualitasnya bagus, mudah dipakai, dan sesuai untuk luas tanah yang dikelola," kata Bambang.

Penerapan TGT, ujar Bambang, sudah dilakukan di beberapa tempat, terutama di provinsi yang pendapatan daerahnya rendah, seperti provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT), Nusa Tenggara Barat ( NTB), dan Bengkulu.

"Yang fokus dilakukan adalah penerapan TTG untuk proses dan alat, program ilmu pengetahuan teknologi daerah yang sesuai dengan kemampuan daerah masing-masing, dan pendampingan UKM kopi," sebut dia.

Daerah Sumba Barat Daya sukses jalankan TTG

Pria yang lahir di tahun 1996 ini mencontohkan, ada salah satu daerah yang telah menjalankan TTG di Sumba Barat Daya, NTT.

Hasilnya, TTG itu membantu dukungan pengembangan ekonomi rakyat, optimasi sumber daya lokal, serta sosial bisnis kopi yang tidak hanya sebagai kegiatan perkebunan, tetapi sebagai elemen ekonomi daerah.

"Hal itu mengingat NTT merupakan daerah yang mempunyai sumber daya terbatas," ujar Bambang.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, peningkatan yang dihasilkan melalui sentuhan TTG telah menghasilkan kopi yang bermutu tinggi dan jangkauan pemasarannya lebih luas.

Hasil yang didapat di Sumba cukup jelas, seperti telah ada satu paten terkait kopi yang telah didaftarkan, empat UMKM telah dibina, 17 kader TTG, dukungan dari Pemerintah Daerah (Pemda) lewat APBD, CSR dari BI dan BRI.

"Produksi kopi Sumba juga naik sebesar 80 persen, dengan kenaikan jumlah produksi yang semula 8 kilogram (kg) menjadi 30 kg per bulan, dan koperasi yang dibina sudah mendapat bantuan. Akhirnya kopi Sumba dapat ikut serta berkompetisi dan bersaing dalam kopi nasional, yang dinilai mungkin bisa meningkatkan branding ke tingkat internasional," jelas Bambang.

Baca juga: Tren Es Kopi Susu Bantu Kenalkan Kopi Indonesia

Bambang menambahkan, dengan banyaknya varian kopi di Indonesia, seperti kopi Toraja, kopi Gayo, kopi luwak, kopi Sumatera, dan kopi Jawa, seharusnya sudah mulai memikirkan menu minuman khas kopi dari Indonesia.

"Seperti dibuat es kopi atau lainnya yang bisa mengangkat nama Indonesia di kancah internasional," tutup Bambang.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X