Kompas.com - 18/08/2020, 06:09 WIB
Sejumlah siswa mengikuti pembelajaran tatap muka di SMP 2 Jatibarang Brebes secara sembunyi-sembunyi karena tak mengantongi izin dari Satgas Covid-19, Selasa (11/8/2020) KOMPAS.com/Tresno SetiadiSejumlah siswa mengikuti pembelajaran tatap muka di SMP 2 Jatibarang Brebes secara sembunyi-sembunyi karena tak mengantongi izin dari Satgas Covid-19, Selasa (11/8/2020)

KOMPAS.com - Pembukaan sekolah di zona hijau dan kuning dinilai berisiko dan berbahaya bila tidak dilakukan melalui proses asesmen yang menyeluruh.

Hal tersebut disampaikan Epidemiolog dari UGM Bayu Satria. Ia mengatakan, sekolah secara tatap muka berisiko memunculkan klaster-klaster baru penularan Covid-19.

"Sekolah tatap muka memiliki beberapa faktor risiko penularan karena ada kesulitan pengaturan jarak, penggunaan masker, ruang tertutup, waktu yang lama, serta interaksi antar orang secara dekat, terutama pada anak-anak kecil. Oleh karena itu, jika tidak dilakukan dengan baik dan benar bahkan di zona hijau maka bisa jadi sumber penularan baru," papar Bayu seperti dirangkum dari laman UGM, Senin (17/8/2020).

Baca juga: Seperti Ini Simulasi Belajar Tatap Muka di Sekolah untuk Zona Hijau

Ia mengatakan, asesmen harus dilakukan mulai dari kesiapan daerah hingga sekolah masing-masing terkait dengan protokol kesehatan.

Misalnya, kata dia, terkait desain kelas, bagaimana proses siswa datang, pengawasan penggunaan masker, mencuci tangan, menjaga jarak hingga skenario seperti apa yang akan dijalankan jika ada yang terkonfirmasi positif.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurutnya, pihak sekolah juga harus bisa memastikan pelaksanaan protokol kesehatan berjalan dengan ketat jika akan menyelenggarakan sekolah tatap muka.

Salah satunya memastikan siswa yang datang benar-benar sehat, tidak ada gejala sakit, dan tidak ada kontak dari kasus positif.

Baca juga: 15 Kampus Terfavorit Peserta SBMPTN 2020, UGM Peringkat Satu

"Ini perlu kerja sama dengan pihak Dinkes untuk verifikasi serta kejujuran orang tua siswa,"katanya.

Selanjutnya, imbuh dia, pembatasan jumlah siswa di dalam kelas, pengurangan waktu tatap muka, pengaturan ventilasi yang baik, pengaturan kursi serta pembatasan interaksi di luar kelas juga perlu disiapkan oleh pihak sekolah.

Termasuk, pengawasan ketat terhadap pemakaian masker melalui edukasi ke siswa baik dari orang tua maupun guru serta adanya ketegasan jika ada yang melanggar.

Halaman:


Sumber ugm.ac.id
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.