Dirjen GTK: Berikut Tantangan Perubahan "Mindset" Selama Pandemi

Kompas.com - 29/07/2020, 11:30 WIB
Guru memberikan pengarahan kepada murid saat hari pertama masuk sekolah di SDN 11 Marunggi, Pariaman, Sumatera Barat, Senin (13/7/2020). Kota Pariaman bersama Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Sawahlunto dan Kabupaten Pasaman Barat merupakan empat daerah di zona hijau di Sumatera Barat yang sudah memulai aktivitas belajar-mengajar di sekolah dengan pola tatap muka langsung dan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. ANTARA FOTO/IGGOY EL FITRAGuru memberikan pengarahan kepada murid saat hari pertama masuk sekolah di SDN 11 Marunggi, Pariaman, Sumatera Barat, Senin (13/7/2020). Kota Pariaman bersama Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Sawahlunto dan Kabupaten Pasaman Barat merupakan empat daerah di zona hijau di Sumatera Barat yang sudah memulai aktivitas belajar-mengajar di sekolah dengan pola tatap muka langsung dan menerapkan protokol kesehatan COVID-19.
|

KOMPAS.com - Saat pandemi Covid-19, dunia pendidikan cukup terdampak. Pembelajaran kini dialihkan menjadi model daring atau online.

Karena itu, tak heran jika semua harus familiar dengan teknologi dan internet. Selain orang tua, guru juga harus belajar agar dekat dengan teknologi.

Hanya saja, semua orang pasti masih memiliki pola pikir yang sama. Pasti semua merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.

Baca juga: Dirjen GTK: Ini Prinsip Utama Pengajaran Masa Pandemi

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan ( Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) Iwan Syahril menyatakan, saat ini ada tantangan perubahan mindset saat masa pandemi Covid-19.

Nyaman dengan ketidaknyamanan

Menurut Iwan, perubahan yang pertama ialah sikap mental nyaman dengan ketidaknyamanan. Situasi pada saat ini tentu sangat tidak nyaman.

Ketika semua orang harus berdamai dengan itu, nyaman dengan ketidaknyamanan, artinya kemudian melihat hal itu sebagai sebuah hal yang sangat positif.

"Tentunya sebagai hal yang menantang kita untuk terus belajar. Ini sebenarnya budaya inovasi," ujar Iwan Syahril dikutip dari akun resmi Instagram Ditjen GTK, Selasa (28/7/2020).

"Karena inovasi yang diinginkan, yakni arahan Pak Presiden Jokowi supaya kita melakukan budaya inovasi," imbuhnya.

Perubahan yang lain ialah sikap pembelajar, atau ada kemauan untuk belajar. Dikatakan, mau berarti harganya sangat mahal.

Belajar itu ialah orang yang pintar dan mungkin orang yang punya keterampilan bagus. Tapi kalau tidak mau, itu berarti susah, susah sekali untuk bisa bekerja, susah sekali untuk bisa berkembang.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X