Kalahkan 6 Juta Siswa, Muhammad Ilham Raih Juara Kompetisi Daring Matematika Dunia

Kompas.com - 26/07/2020, 10:29 WIB
Muhammad Ilham, siswa Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, meraih medali emas dalam KMC atau International Kangaroo Mathematics Contest, kompetisi matematika terbesar dunia, yang diikuti lebih dari 6 juta peserta dari 75 negara (16/7/2020) DOK. CRIBSMuhammad Ilham, siswa Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, meraih medali emas dalam KMC atau International Kangaroo Mathematics Contest, kompetisi matematika terbesar dunia, yang diikuti lebih dari 6 juta peserta dari 75 negara (16/7/2020)

KOMPAS.com - Matematika bisa jadi menjadi salah satu pelajaran yang menjadi momok bagi beberapa siswa. Namun bagi Muhammad Ilham Alfarisi, 16 tahun, soal matematika justru menjadi tantangan yang selalu dicoba untuk ditaklukkan.

Ilham, siswa yang lahir dan tinggal di Bogor, sudah terbiasa memecahkan soal berhitung sejak kecil. Kedua orangtuanya yang melihat potensi besar pada diri Ilham tanpa ragu mendaftarkan putranya ke kelas khusus pelatihan olimpiade di Klinik Pendidikan MIPA (KPM).

Di tempat ini kemampuan Ilham mulai diasah oleh para mentor sejak usia sekolah dasar. Ketika menginjak bangku SMP, orangtuanya mendaftarkan ke sekolah yang khusus menyediakan program pembinaan olimpiade, Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School Bogor.

Juara kompetisi matematika dunia

Di tempat inilah kompetensi dan keahlian dirinya semakin ditingkatkan. Bekerjasama dengan konsultan pendidikan Eduversal, Ilham kerap mengikuti olympiad training camp program.

Program ini memberikan pelatihan, simulasi, dan pembinaan mental khusus siswa-siswa calon juara olimpiade. Ilham saat ini sudah mengoleksi berbagai piala, medali, sertifikat dan penghargaan.

Baca juga: Pusat Prestasi Nasional: Covid Tidak Boleh Surutkan Semangat Siswa untuk Berprestasi

Kompetisi yang baru saja dia ikuti adalah IKMC atau "International Kangaroo Mathematics Contest", kompetisi matematika terbesar dunia, yang diikuti lebih dari 6 juta peserta dari 75 negara.

Ilham mengaku tidak terlalu mengalami banyak kesulitan dalam mengerjakan soal-soal berkat persiapan dan pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Tidak tanggung-tanggung, Ilham berhasil dinobatkan sebagai peraih medali emas di  kompetisi yang diadakan secara online pada 16 Juni 2020 lalu.

Menanggapi prestasi ini, Direktur CRIBS, Ari Rosandi menyampaikan kerja sama antara sekolah dan orangtua menjadi kunci dalam memantik motivasi siswa untuk meraih prestasi.

"Motivasi berprestasi menjadi salah satu faktor agar siswa selalu berusaha menggapai impian dan cita-cita mereka dengan dukungan pola kerjasama antara sekolah dan rumah sebagai fasilitator penyedia ruang kreativitasnya," ujar Ari.

Ia melanjutkan, "jadi, upaya-upaya di luar pembelajaran daring, para guru (wali kelas) harus selalu berkomunikasi, keep in touch dengan orangtua siswa dan juga siswa."

Pembinaan prestasi di tengah pandemi

Muhammad Ilham, siswa Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, meraih medali emas dalam KMC atau International Kangaroo Mathematics Contest, kompetisi matematika terbesar dunia, yang diikuti lebih dari 6 juta peserta dari 75 negara (16/7/2020)DOK. CRIBS Muhammad Ilham, siswa Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, meraih medali emas dalam KMC atau International Kangaroo Mathematics Contest, kompetisi matematika terbesar dunia, yang diikuti lebih dari 6 juta peserta dari 75 negara (16/7/2020)
Selain itu, Ari mengingatkan agar pembinaan siswa berprestasi jangan sampai terabaikan oleh karena pandemi Covid-19.

"Masa-masa sekarang adalah tantangan, apakah kita mau mengubah cara pandang kita menghadapi situasi dunia pendidikan saat ini atau memang kita akan dipaksa untuk berubah agar bisa keluar dari kondisi saat ini," ujar Ari.

Ia mengatakan prestasi diraih para siswa tentunya membutuhkan usaha, kerja keras, ketekunan belajar dan dukungan dari semua pihak. "Dengan mengacu pada protokol kesehatan, kegiatan pendidikan yang saat ini kita lakukan memang dibutuhkan kesabaran ekstra," katanya.

"Kolaborasi berbagai pihak di tingkat sekolah, yaitu guru, siswa dan orang tua menjadi penentu apakah kita bisa bearadaptasi dengan perubahan yang sedang terjadi saat ini di masa pandemi," ujar Ari menegaskan.

Ari mengatakan pihaknya selalu menyampaikan kepada para siswa juga guru bahwa masa-masa seperti ini adalah tantangan dan jangan dijadikan hambatan.

"Jika kita ingin terus berprestasi dan menghasilkan hal-hal positif, maka ruang kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran harus dibuka seluas-luasnya," kata Ari.

Para guru juga diimbau terus berkolaborasi untuk membuka dan menstimulasi ide-ide dari para siswa agar mereka tetap aktif dan kreatif dalam belajar.

Oleh karena itu, Ari menyampaikan departemen-departemen di CRIBS tetap aktif dalam kegiatan-kegiatan meskipun dibuat secara daring namun hasil pembelajaran tetap bisa memberikan dampak positif kepada semua siswa.

Baca juga: Dimas Siswa SMP yang Tak Bisa Belajar Online Dapat Bantuan Ponsel

Pembelajaran berbasis STEAM

Menanggapi mata pelajaran sains dan matematika yang masih dipandang sebagai momok oleh beberapa siswa, Ari menyampaikan pembelajaran STEAM (science, technology, engineering, art and mathematics) sebaiknya ditampilkan dalam suasana kreatif dan menyenangkan.

"Keaktifan para siswa memang bergantung dari bagaimana para guru bisa memberikan pemahaman yang sederhana dan bisa dimengerti melalui berbagai bentuk media, project/portofolio terkait materi pembelajaran," jelasnya.

Untuk itu, ia mendorong para siswa dalam penugasan membuat beragam project di rumah kemudian mengirimkan kirimkan hasilnya dalam bentuk video kreatif ke guru atau sekolah.

"Project-project atau hasil karya tersebut kami tampilkan di laman web sekolah juga di akun resmi sosial media milik sekolah. Hal ini tentu saja sebagai salah satu bentuk apresiasi sekolah terhadap hasil karya para siswanya," ungkap Ari.

"Dari sini kita bisa melihat bagaimana antusiasme para siswa dalam pembelajaran STEAM," ujar Ari.

Di tengah masa pandemi ini, Ari mengajak para siswa Indonesia untuk belajar dengan tekun dan tidak menyerah pasrah dengan kekalahan dan kesalahan yang dibuat.

"Hal ini menjadi kunci agar para siswa bisa meraih cita-cita dan prestasi. Jangan lupa pula bahwa doa menjadi faktor utama bahwa Tuhan yang menjawab kerja keras dan ketekunan belajar tadi sehingga para siswa bisa berprestasi," tutup Ari.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X