Nadiem Ingatkan Kerja Sama Vokasi dan Industri Jangan Sekadar "MoU" Saja

Kompas.com - 29/06/2020, 15:27 WIB
Kemendikbud Gelar Lokakarya Peningkatan Kualitas Kepemimpinan Kepala SMK Seluruh Indonesia KemendikbudKemendikbud Gelar Lokakarya Peningkatan Kualitas Kepemimpinan Kepala SMK Seluruh Indonesia

KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) menggelar lokakarya peningkatan kualitas kepemimpinanan kepala SMK di seluruh Indonesia secara virtual untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, inovatif dengan melihat peluang dalam jejaring dan kolaborasi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), (27/6/2020).

Dalam kegiatan ini juga dilakukan perancangan peta jalan pemimpin yang kreatif, inovatif, dan berorientasi kepada kebutuhan DUDI yang sejalan dengan program-program prioritas Kemendikbud.

Baca juga: Dirjen Vokasi Buka Bantuan Pelatihan Kecakapan Kerja dan Wirausaha, Ini Tautannya

" Pernikahan Massal"

Salah satu program prioritas tengah digencarkan Kemendikbud saat ini adalah gerakan "Pernikahan Massal” (Link and Match) antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja (DUDI).

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim mengatakan munculnya istilah pernikahan massal antara dunia pendidikan dengan dunia industri berangkat dari realitas mengenai hubungan sektor pendidikan dengan industri yang dipandang belum terjalin secara maksimal.

“Menurut saya pernikahan massal ini analogi yang tepat karena menunjukkan komitmen yang permanen. Vokasi baru akan lengkap dengan kehadiran praktisi dan kurikulum yang mengikuti kebutuhan dari industri," tutur Mendikbud Nadiem dikutip dari laman Kemendikbud.

Baca juga: Ini Contoh Kerja Sama yang Bisa Dilakukan Pendidikan Vokasi dengan Industri

Bukan sekadar MoU

Mendikbud menambahkan bahwa pernikahan massal ini bukan sekadar perjanjian kerja sama atau Memorandum of Understanding (MoU), melainkan harus menjadi pernikahan atau kerja sama yang sangat erat dan mendalam serta berlanjut bahkan sampai punya anak-anak (lulusan) yang diasuh bersama.

"Jadi tidak hanya kencan atau MoU saja, tetapi harus dipastikan hingga ke jenjang pernikahan bahkan hingga memiliki anak-anak, yang bisa terserap sebanyak-banyaknya di industri karena kualitas dan kompetensi sesuai dengan DUDI,” ujar Nadiem Makarim.

Agar tujuan tercapai, lanjut Mendikbud, keharmonisan hubungan dengan industri dan dunia kerja harus terjadi di semua lini mulai dari awal penyusunan kurikulum, pelatihan guru, hingga tahap akhir yaitu penyerapan lulusan sehingga pernikahan massal ini akan menguntungkan banyak pihak, terutama untuk anaknya, yaitu para peserta didik.

“Mereka langsung dibimbing dalam ekosistem yang nantinya akan menerima mereka dalam dunia kerja. Saat lulus, mereka sudah punya keahlian awal yang terbentuk, terbiasa dengan pola pikir, budaya kerja, pola komunikasi yang memang dibutuhkan sebagai modal menjadi talenta yang berdaya saing dan berkualitas,” kata Mendikbud Nadiem.

Baca juga: Pilih Vokasi atau S1? Ini Saran dari Dirjen Vokasi Wikan Sakarinto

Skema "Pernikahan"

Untuk itu, dengan skema pernikahan ini pihak industri dan dunia kerja akan diuntungkan karena dunia usaha dan dunia industri akan mendapatkan talenta (lulusan) yang tepat dan kompeten sesuai dengan kebutuhan industri sehingga permasalahan bangsa mengenai disparitas antara suplai dan permintaan sumber daya manusia yang kompeten tertutup.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X