Perguruan Tinggi Bisa Mati karena Covid-19, Ini Penyebabnya...

Kompas.com - 27/06/2020, 20:42 WIB
Suasana lenggang di kompleks Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (18/3/2020). Untuk pencegahan penyebaran infeksi Covid-19 , Universitas Indonesia mengeluarkan kebijakan mengubah bentuk kuliah tatap rnuka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sejak hari Rabu, 18 Maret 2020 hingga berakhirnya semester genap Tahun Ajaran 2019/2020. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOSuasana lenggang di kompleks Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (18/3/2020). Untuk pencegahan penyebaran infeksi Covid-19 , Universitas Indonesia mengeluarkan kebijakan mengubah bentuk kuliah tatap rnuka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sejak hari Rabu, 18 Maret 2020 hingga berakhirnya semester genap Tahun Ajaran 2019/2020.

KOMPAS.com - Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan UGM, Prof. Djagal Wiseso menyebutkan ada prediksi matinya perguruan tinggi akibat wabah pandemi Covid-19.

Sejumlah faktor seperti sumber pendidikan selain lembaga pendidikan yang tersedia, seperti internet, buku, jurnal, serta kondisi Covid-19 yang memaksa mahasiswa untuk belajar tanpa harus hadir di kampus mendorong matinya lembaga pendidikan tinggi.

Prediksi tersebut dibahas dalam seminar daring Dewan Guru Besar (DGB) UGM pada Jumat (26/6). Seminar daring kali ini bertemakan “Merdeka Belajar dan Proses Belajar Mengajar Efektif di Masa Pandemi Covid-19”.

Mantan Rektor Universitas Terbuka, Prof. Tian Belawati sepakat dampak dari Covid-19 telah menyebabkan disrupsi yang melebihi Revolusi Industri 4.0. Ia menyebut tak ada satupun negara di dunia ini yang bidang pendidikannya tidak terdampak oleh pandemi ini.

“Hanya butuh waktu 25 hari sejak pengumuman pasien positif pertama di Indonesia untuk mampu memaksa 834 perguruan tinggi di Indonesia hijrah ke daring,” ungkap Prof. Tian seperti dikutip dari laman UGM.

Akibatnya, banyak perguruan tinggi merasa tidak siap dengan kepindahan tersebut. Para dosen tidak siap karena silabusnya disusun untuk perkuliahan tatap muka, apalagi bagi pengampu jurusan saintek yang memiliki mata kuliah praktikum.

Baca juga: Era Disrupsi, Kampus Diharapkan Cetak Lulusan Seperti Ini...

Selain itu, permasalahan lain karena banyaknya dosen yang telah lanjut usia dan tidak terliterasi untuk menggunakan platform digital.

“Beberapa prinsip yang perlu diikuti dalam pembelajaran daring yakni kurikulum sesuai, inklusif, melibatkan pembelajar, pendekatan inovatif, metode efektif, evaluasi formatif dan sumatif, koheren, konsisten, transparan, perangkat yang mudah dioperasikan, serta efektif dalam biaya,” paparnya.

Hal yang perlu diperhatikan lebih dalam prinsip tersebut, menurut Tian, adalah interaksi dengan pembelajar.

Ia menyebut interaksi menjadi rawan dalam pembelajaran daring karena tanpa tatap muka secara langsung.

Oleh karena itu, momen jeda semester ini dapat dimanfaatkan oleh para pengajar untuk mempersiapkan silabus yang lebih sesuai untuk pembelajaran daring.

Persiapan tersebut mencakup pula penyesuaian materi dengan platform yang akan digunakan sehingga tidak ada kesulitan ketika kuliah berlangsung.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X