Belajar dari Beijing: Jalani Normal Baru, Bangkit dari Pandemi Corona

Kompas.com - 22/05/2020, 10:00 WIB
Pengunjung mengenakan masker untuk menghindari tertular Covid-19, saat mengunjungi Tembok Besar China, di Beijing, 18 April 2020. Setelah sempat menjalani masa karantina akibat penyebaran Covid-19, jutaan orang di China kembali turun ke jalan dan mengunjungi kawasan wisata yang kembali dibuka. AFP/WANG ZHAOPengunjung mengenakan masker untuk menghindari tertular Covid-19, saat mengunjungi Tembok Besar China, di Beijing, 18 April 2020. Setelah sempat menjalani masa karantina akibat penyebaran Covid-19, jutaan orang di China kembali turun ke jalan dan mengunjungi kawasan wisata yang kembali dibuka.

KOMPAS.com - Beijing hari ini tak seperti tiga bulan lalu kala virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 membuat semua warga di Ibu Kota Republik Rakyat Tiongkok itu harus merasakan karantina.

Kini, 75 persen aktivitas masyarakat telah berjalan normal, roda kehidupan di berbagai sektor mulai kembali bergerak, masyarakat bisa menikmati tempat wisata, dan masa darurat mulai masuk dalam fase relaksasi.

Seluruh aktivitas memang tak seperti dulu, ada normal baru yang kini harus dijalani guna mengantisipasi adanya gelombang baru virus corona.

Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok merangkap Mongolia Djauhari Oratmangun bercerita bagaimana warga China menjalani normal baru, termasuk upaya untuk menekan kasus corona, hingga akhirnya bisa bangkit dari pandemi Covid-19.

Baca juga: Belajar dari Thailand, Kepatuhan Warga saat Lockdown Tekan Kasus Corona

Kini, semua orang yang berkegiatan di luar rumah harus menggunakan masker, membawa handsanitizer, hingga rajin mencuci tangan.

Daya tampung pengunjung di restoran, transportasi, hingga pusat keramaian pun menjadi dibatasi. Diberlakukan pula jaga jarak di tempat umum hingga lokasi wisata.

Untuk bisa sampai ke kondisi hari ini, terang Djauhari, kunci kesuksesan China dalam mengatasi pandemi Covid-19 terletak pada sanksi sosial yang berat.

Berbeda dengan sanksi pemerintah, sanksi sosial berasal dari lingkungan sekitar bagi orang-orang yang melanggar aturan.

Baca juga: Dibuka, Pendaftaran KIP Kuliah SBMPTN, SBMPN dan Mandiri PTN 2020

"Di sini kalau keluar harus seizin RT RW setempat. Ada kejadian orang Indonesia yang merasa tidak diawasi secara ketat kemudian pergi saja tanpa izin. Begitu kembali tidak diterima. Mau ke hotel, hotel enggak terima, telepon ke KBRI, KBRI juga kan enggak bisa terima karena waktu itu ada peraturan tidak boleh terima tamu. Sudah, nangis saja dia," tutur Djauhari dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (20/5/2020).

Contoh lain, lanjutnya, saat tinggal di apartemen kalau ada yang melanggar aturan terkait Covid-19, akan dikucilkan oleh warga.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X