Kompas.com - 09/05/2020, 22:22 WIB
Petugas pos menata logistik bantuan sosial untuk warga yang terdampak perekonomiannya akibat COVID-19 di Kantor Pos, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/4). Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyalurkan bantuan sosial (bansos) senilai Rp500 ribu bagi warga yang berpenghasilan rendah dan termasuk miskin baru akibat pandemi COVID-19, khususnya di zona merah persebaran yaitu Bogor, Depok, dan Bekasi. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya Petugas pos menata logistik bantuan sosial untuk warga yang terdampak perekonomiannya akibat COVID-19 di Kantor Pos, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/4). Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyalurkan bantuan sosial (bansos) senilai Rp500 ribu bagi warga yang berpenghasilan rendah dan termasuk miskin baru akibat pandemi COVID-19, khususnya di zona merah persebaran yaitu Bogor, Depok, dan Bekasi.

KOMPAS.com - Anggota Tim Ahli Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Dr. Kuncoro Harto Widodo mengatakan manajemen logistik kemanusiaan saat ini berbeda saat pendistribusian logistik komersial di saat kondisi normal.

Menurutnya, saat ini penyaluran logistik kemanusiaan dalam rangka menyelamatkan nyawa dan membantu kebutuhan pangan masyarakat miskin.

Bahkan, pola permintaannya pun tidak teratur dengan pola pasokan sembarang dan tidak terencana.

“Oleh karena itu, barang bantuan seperti makanan, obat, alat kesehatan misalnya harus menyesuaikan dalam kecepatan, kesesuaian dan persentase pemenuhan kebutuhan,” kata Kuncoro dalam Seminar Virtual yang bertajuk Peran Logistik Kemanusiaan dalam Minimalisasi Dampak Covid-19, Jumat (8/5) dikutip dari laman UGM.

Di tengah masa pandemi Covid-19 sekarang ini, kata Kuncoro, koordinasi dan kolaborasi antar pihak sangat diperlukan dengan mengoptimalkan dengan kesempatan berbagi informasi antara donor dengan pengelola distribusi bantuan sehingga pemenuhan stok pangan di tingkat bawah tersalurkan.

Baca juga: Dukung Tenaga Medis, UBL Donasi APD dan Logistik ke RS Persahabatan

Namun begitu, pola pendistribusian sebaiknnya menghindari kerumunan massa dan mengikuti standar protokol kesehatan.

“Namun, yang tidak kalah penting melakukan pendataan dan plooting lokasi penerima sehingga penyaluran bantuan lebih tepat sasaran,” paparnya.

Sosiolog UGM, Prof. Sunyoto Usman, mengatakan identifikasi validasi keluarga miskin dan rentan miskin yang terpapar non natural disaster sangat penting.

Bagi warga yang terpapar non natural disaster wabah Covid-19 saat ini tidak terbatas waktu hingga ditemukan obat dan vaksin.

“Data untuk penerima bantuan sosial sangat diperlukan. Selain ada informasi tentang proses distribusi yang berkeadilan dan merata,” ujarnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.