Psikiater UGM: Berpuasa Bisa Meredakan Stres

Kompas.com - 29/04/2020, 08:50 WIB
wanita bahagia evgenyatamanenkowanita bahagia

KOMPAS.com - Manajemen stres menjadi salah satu cara meningkatkan imun tubuh agar lebih bugar selama menjalani masa pandemi Covid-19.

Psikiater sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM) Ronny Tri Wirasto mengatakan, puasa memberikan sejumlah manfaat bagi kesehatan baik fisik dan mental.

“Banyak hal yang bisa membantu dalam menekan stres, termasuk menjalankan puasa,” sebut Ronny seperti dilansir dari laman UGM, Selasa (28/4/2020).

Apa yang membuat puasa dapat meredakan stres, menurutnya, saat berpuasa orang cenderung melakukan pengaturan makan dengan lebih baik.

Baca juga: Ini Bentuk Bilik Tes Swab Corona Drive Thru Buatan UGM

Asupan makanan yang diatur tersebut turut memengaruhi cara berpikir menjadi lebih teratur.

Sejumlah studi menunjukkan, mengurangi kadar makan, termasuk karbohidrat, lemak, dan lainnya dalam jumlah tertentu selama beberapa minggu akan meningkatkan kemampuan dalam berpikir.

Ronny mengatakan, cara orang mengenali stres adalah dengan kemampuan berpikir. Dengan kemampuan berpikir yang baik, maka emosi lebih terkendali dan menekan stres.

"Yang mengontrol emosi itu kan salah satunya kemampuan berpikir," imbuhnya.

Puasa stabilkan kadar hormon stres kortisol

Selain itu, pola makan yang terjaga selama berpuasa juga akan menjaga hormon kortisol yang berkaitan dengan respons tubuh saat stres.

Baca juga: Pakar UGM: Akhir Pandemi Covid-19 Mundur bila Masyarakat Nekat Mudik

Puasa mampu menstabilkan hormon kortisol yang dihasilkan kelenjar adrenal. Sehingga kemudian bisa menekan tingkat stres.

Lebih lanjut Ronny menjelaskan, produksi hormon berhubungan dengan asupan protein. Saat asupan diatur maka hormon juga lebih teratur.

“Jadi, yang tadinya hormonnya dinamis, naik turun, bisa lebih ditekan yang secara tidak langsung menjadi lebih tenang,” paparnya.

Sebaliknya, produksi hormon kortisol berlebih justru tidak baik bagi tubuh. Pasalnya, hormon ini dapat menekan sistem kekebalan tubuh.

“Saat stres hormon Corticotropin Releasing Factor (CFR) akan teraktivasi secara berlebih yang memengaruhi makrofag sehingga menurunkan imunitas,” pungkasnya.


Sumber ugm.ac.id
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X