Kompas.com - 24/04/2020, 20:31 WIB
Seorang anak menonton televisi siaran perdana Belajar dari Rumah tingkat PAUD yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Kota Kediri, Jawa Timur, Senin (13/4/2020). Kemendikbud menyiapkan 720 episode untuk penayangan Belajar dari Rumah selama 90 hari di TVRI bagi pelajar tingkat PAUD hingga SMA. ANTARA FOTO/PRASETIA FAUZANISeorang anak menonton televisi siaran perdana Belajar dari Rumah tingkat PAUD yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Kota Kediri, Jawa Timur, Senin (13/4/2020). Kemendikbud menyiapkan 720 episode untuk penayangan Belajar dari Rumah selama 90 hari di TVRI bagi pelajar tingkat PAUD hingga SMA.

KOMPAS.com - Praktisi pendidikan Indonesia Yusra Tebe menilai ada sejumlah tantangan di dunia pendidikan Indonesia di tengah wabah pandemi COVID-19.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI per 16 April 2020, sekitar 68,7 juta pelajar terdampak akibat COVID-19.

“Faktanya hampir seluruh sekolah dan madrasah terdampak,” ujar Yusra seperti dikutip dari laman Unpad.

Ada empat dampak yang dirasakan anak akibat pandemi COVID-19. Dampak tersebut yaitu faktor kerentanan kesehatan, pendidikan yang terputus, kurangnya hak bermain dan bersosialisasi, serta perubahan siklus sosial anak merupakan dampak yang timbul.

Anak-anak mulai kecanduan gawai karena banyak kegiatan atau tugas sekolah yang dilakukan lewat gawai, dan akhirnya dipakai kesempatan bermain. Orangtua pun akhirnya kewalahan,” kata Yusra.

Baca juga: 9 Tips untuk Orantua agar Belajar dari Rumah lewat TVRI Berjalan Lancar

Pemberlakuan metode belajar dari rumah sendiri dilanda sejumlah tantangan. Yusra menjelaskan, lebih dari 46.000 atau 18 persen dari total satuan pendidikan dasar dan menengah di Indonesia belum memiliki fasilitas akses internet.

Bahkan, 8.000 sekolah belum teraliri listrik.

Selain itu, belum terbiasanya siswa melakukan belajar daring atau belajar mandiri, terbatasnya jaringan dan kuota internet, minimnya fasilitas gawai, serta lingkungan belajar yang kurang kondusif juga menjadi tantangan penerapan kebijakan belajar dari rumah.

Yusra mengatakan anak memiliki energi besar dan cenderung lebih dekat bersama teman ketimbang keluarga untuk konteks belajarnya.

Selain itu, kemampuan orangtua dalam mendampingi pembelajaran anak akan berbeda. Saat ini, banyak orangtua yang mulai merasa tertekan saat mendampingi proses belajar anak.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X