5 Penyebab Rendahnya Kemampuan Literasi Siswa Indonesia

Kompas.com - 21/04/2020, 15:06 WIB
Anak-anak membaca buku yang disediakan relawan Cawang Atas, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (11/10/2019). pelbagai bantuan terus diberikan kepada warga terdampak berupa pakaian, makanan, dan juga buku bacaan untuk anak-anak. KOMPAS.com/M ZAENUDDINAnak-anak membaca buku yang disediakan relawan Cawang Atas, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (11/10/2019). pelbagai bantuan terus diberikan kepada warga terdampak berupa pakaian, makanan, dan juga buku bacaan untuk anak-anak.

KOMPAS.com - Bisa mengeja lalu membaca dengan lancar hanyalah awal dari proses pembelajaran literasi. Lebih dari itu, literasi perlu dipahami lebih dalam agar siswa memiliki kompetensi literasi yang utuh.

Kemampuan literasi akan sangat memengaruhi penalaran dan kompetensi. Sehingga siswa Indonesia perlu dibekali dengan kecintaan pada aktivitas literasi sejak dini.

Tahun depan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim resmi mengganti Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter.

Penggantian tersebut tak hanya sekadar nama, melainkan bentuk soal secara keseluruhan.

Soal-soal AKM akan terbagi atas soal Literasi dan Numerasi. AKM Numerasi terdiri dari beberapa level, yakni level pemahaman konsep, level aplikasi konsep, dan level penalaran Konsep.

Sedangkan AKM Literasi terbagi atas level penalaran konsep, level mencari informasi dalam teks, serta level literasi membaca. Artinya, bisa membaca saja tidaklah cukup.

Baca juga: Agar Anak Kompeten, Najelaa: Beri Anak Umpan Balik, Bukan Nilai

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat, peringkat nilai Programme for International Student Assessment PISA Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 berada dalam urutan bawah.

Untuk nilai kompetensi Membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara.

Merangkum Sekolahmu, platform pendidikan yang didirikan oleh praktisi sekaligus Ketua Kampus Guru Cikal Najelaa Shihab, ada sejumlah miskonsepsi tentang literasi penyebab rendahnya nilai literasi di Indonesia.

Baca juga: UN 2020 Ditiadakan, Kenali Soal-soal Asesmen Pengganti UN Ini

1. Literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menalar

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X