Pakar Transportasi UGM Imbau Pemerintah Tegas Soal Larangan Mudik

Kompas.com - 07/04/2020, 07:00 WIB
Arus calon penumpang mudik Lebaran di Terminal Pulogadung, Jakarta, terlihat padat, Senin (26/1/1998). KOMPAS/EDDY HASBYArus calon penumpang mudik Lebaran di Terminal Pulogadung, Jakarta, terlihat padat, Senin (26/1/1998).

KOMPAS.com - Guru Besar Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada ( UGM) Prof. Dr.-Ing. Ir. Ahmad Munawar, M.Sc., berharap pemerintah mempertegas larangan mudik. Berdasarkan analisisnya, penyebaran Covid-19 tidak bisa dihindari selama prosesi mudik.

Jika memungkinkan, lanjutnya, pemerintah harus tegas melarang mudik dengan membatasi, bahkan kalau mungkin menyetop angkutan umum bus antar kota, kereta api jarak jauh dan pesawat.

Selain itu, penutupan jalan arteri dan jalan tol yang menghubungkan antar provinsi juga bisa menjadi solusi pencegahan.

“Meski masyarakat menggunakan kendaraan pribadi juga, penyebaran akan terjadi di rest area,” ujarnya Ahmad, dalam keterangan tertulis di laman UGM, Senin (6/4/2020).

Mengenai penerapan isolasi selama 14 hari di kampung halaman bagi pemudik, Ahmad menyebut hal itu tidak akan berjalan lancar mengingat jumlah pemudik yang mencapai jutaan orang dan sulit terakomodir.

Baca juga: Pakar UGM Prediksi Optimis Penyebaran Covid-19 Berakhir 29 Mei 2020

“Isolasi ini mengharapkan pemerintah daerah sasaran mudik untuk mempersiapkan ratusan bahkan ribuan peralatan serta fasilitas. Hal ini malah akan memberatkan pemerintah daerah. Jika tidak siap malah akan menyebabkan pandemi ini menyebar di daerah mereka,” terangnya.

Ahmad juga berpesan kepada masyarakat Indonesia yang ingin mudik bahwa kesehatan keluarga, terutama orang tua, jauh lebih penting dari bertemu langsung dengan mereka.

“Sudah ada contoh di RS Adam Malik, Medan, anak muda yang mudik, kelihatannya sehat, ternyata carrier pembawa virus. Akhirnya, berdampak pada orang tua yang dikunjungi. Rindu untuk sementara dapat diobati via video call. Ini juga yang saya lakukan ke kedua anak saya yang ada di Surabaya dan Australia,” papar Ahmad.

Baca juga: Toko Sayur Online Milik IPB Layani Pesanan Warga Jabodetabek

Larangan mudik dan kendala ekonomi

“Presiden Ghana, Nana Akufo-Addo, ketika menerapkan lockdown di negaranya, menyampaikan sebuah pidato. Ia menyatakan we know how to bring economy back to live, but we do not know is how to bring people back to life. Ekonomi bisa diperbaiki kembali, tetapi rakyat yang meninggal tidak bisa dihidupkan kembali," terang Ahmad.

Aspek ekonomi yang menjadi pertimbangan pemerintah tidak dengan tegas melarang mudik, kata dia, memang tidak bisa dihindari.

Namun, ia berpendapat dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini perekonomian jelas akan terpuruk. Terutama bagi masyarakat yang bekerja di sektor transportasi dan saat ini pun sudah terasa dampaknya.

Kendati demikian, ia menyatakan bahwa saat ini sedang ada negosiasi dengan pemerintah tentang kompensasi kepada mereka.

“Saya harap pemerintah segera memberikan bantuan sosial atau BLT kepada mereka yang berdampak, tidak hanya pekerja angkutan umum, tetapi juga pekerja harian dan mereka yang memerlukannya. Hentikan untuk sementara proyek-proyek besar infrastruktur, gantikan dengan bantuan sosial. Berikan keringanan cicilan bank, kalau mungkin penundaan cicilan kepada mereka yang memerlukan,” pungkas Anggota Dewan Penasihat Forum Studi Transportasi Antar Perguruan Tinggi ini.


Sumber ugm.ac.id
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X