Belajar di Rumah, Kini Ada Belajar Daring dengan Kurikulum Amerika

Kompas.com - 01/04/2020, 16:25 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - ASU Prep Digital, sebuah sekolah menengah atas berbasis digital milik Arizona State University, Amerika Serikat bekerja sama dengan Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) dengan menghadirkan program pembelajaran dalam jaringan (daring) untuk dunia pendidikan Indonesia. Pembelajaran daring dengan kurikulum Amerika Serikat didukung oleh teknologi dan materi dari Lincoln Learning Solutions serta Urban Green Education 

Hal ini merupakan bentuk dan upaya bersama CERDAS, ASU Prep Digital, Lincoln Learning Solutions, dan Urban Green Education dalam menjawab tantangan belajar dalam jaringan (daring) di rumah yang dihadapi para peserta didik di Indonesia, akibat situasi darurat pencegahan penyebaran wabah Corona Virus Disease (Covid-19).

Direktur Eksekutif CERDAS, Indra Charismiadji mengatakan, “Selama dua minggu ini saya menyaksikan kegagapan dunia pendidikan Indonesia dalam menjalankan pembelajaran metode daring, jika dibiarkan terus menerus generasi masa depan bangsa yang akan menjadi korbannya," kata Indra dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

"Karena tidak ada yang bisa memprediksi kapan situasi menjadi normal kembali. Terbukti jelas bahwa para pendidik Indonesia belum siap untuk membimbing peserta didik menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 yang serba digital ini," tambah Indra.

"Untuk itu saya mengambil inisiatif dengan membawa program blended learning (integrasi antara daring dan luring) terbaik dunia untuk diimplementasikan di Indonesia. Program ini gurunya bukan hanya beda tempat mengajar, ini bahkan beda benua benua dan beda zona waktu tetapi mutu pendidikan tetap dijaga bahkan meningkat.” ujar Indra.

Indra menambahkan, “Konsep pembelajaran abad 21 bukan lagi guru ceramah menggunakan aplikasi konferensi video, bukan pula menggunakan materi-materi animasi / video seperti yang saat ini gencar dipromosikan sebagai bimbel online, bukan pula memberikan pekerjaan rumah atau tugas yang luar biasa banyaknya, melainkan model pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan siswa memecahkan masalah, berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, kreatif, dan inovatif dengan menggunakan teknologi digital sebagai alat kerja bukan sekedar menerima informasi."

"Ujung tombaknya tetap guru yang harus berada di depan sebagai tauladan, di tengah sebagai fasilitator, dan dibelakang sebagai motivator. Kemitraan internasional ini akan memberikan kesempatan pagi para pendidik Indonesia untuk belajar langsung dari pakarnya.” kata Indra.

Program yang ditawarkan dari kemitraan internasional ini sangatlah lengkap mulai dari level TK, SD, SMP, SMA, sampai dengan perguruan tinggi, program pelatihan guru secara intensif, dan program ijazah sekolah menengah atas ganda (dual high school diploma) dari Amerika Serikat.

Bagi sekolah yang memiliki keinginan untuk mengimplementasikan program ini, tidak perlu mengganti program / kurikulum ataupun tenaga pengajar yang ada, karena semua sudah didesain untuk melengkapi program yang sudah berjalan.

Prosesnya dapat dilakukan dalam waktu 24 jam untuk implementasi. Teknologi dan kurikulumnya dibuat sesederhana mungkin yang akan memudahkan para pendidik dan siswa.

“Melalui proses negosiasi yang panjang, akhirnya program ini dapat berjalan di Indonesia dengan biaya yang sangat terjangkau. Jauh kalau dibandingkan dengan program-program internasional selama ini. Menghadapi tantangan abad 21, anak Indonesia tidak lagi bisa hanya berwawasan lokal tapi harus internasional, inilah ciri SDM unggul era digital. Sayangnya selama ini program internasional hanya untuk orang mampu saja, itu yang lemah di keadilan sosialnya,’ imbuh Indra.

“Dengan dihentikannya pelaksanaan ujian Cambridge, ujian International Baccalaureate (IB), bahkan ujian nasional di Indonesia membuat banyak pihak khususnya siswa yang berada di kelas XII menghadapi ketidakpastian dalam persiapan masuk ke perguruan tinggi," kata Angela Zhao, International Program Director ASU Prep Digital.

"Oleh karena itu, kami memberikan alternatif baru dengan program ijazah ganda (dual diploma) untuk tingkat sekolah menengah atas dari Indonesia (dari SMA di Indonesia) dan Amerika (dari ASU Prep Digital) dan juga kelas-kelas perguruan tinggi dari Arizona State University yang dapat diambil sewaktu mereka masih duduk di bangku sekolah menengah akan mengakselerasi proses pendidikan siswa dan mengurangi biaya. Di sisi lain, program kami ini akan memberikan warna baru bagi pendidikan Indonesia yang selama ini hanya menggunakan kurikulum dari Eropa saja,” tambah Angela.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X