Akademisi Unpad: Matematika Punya Peran Cegah Virus Corona

Kompas.com - 18/03/2020, 14:46 WIB
Ilustrasi matematika Ilustrasi matematika

KOMPAS.com - Penanganan wabah virus corona Covid-19 ternyata bukan hanya menjadi tanggung jawab rumpun kesehatan saja. Ilmu matematika pun punya peranan dalam menanggulangi wabah pandemi ini melalui pemodelan matematika.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran (Unpad)Prof. Dr. Budi Nurani Ruchjana, M.S. saat menjadi pemateri dalam Workshop “Pemodelan Spatiotemporal untuk Prediksi Penderita Coronavirus (Covid-19).

Prof. Budi bersama tim peneliti dari Kelompok Bidang Keahlian Pemodelan Sktokastik Departemen Matematika FMIPA Unpad telah mencoba mengidentifikasi peluang penyebaran Coronavirus. Identifikasi ini menggunakan model stokastik.

Baca juga: Rektor UNAIR Sebut Sari Daun Sambiloto Bisa Cegah Virus Corona

"Model stokastik adalah model yang berkaitan dengan peluang. Kita memandang segala sesuatu di alam itu bersifat acak, contohnya virus corona begitu datang ke dunia juga acak, tidak pernah tahu siapa yang akan ditulari,” ujar Prof. Budi dalam laman resmi Unpad, Selasa (17/3/2020).

Dengan menerapkan pemodelan spatio-temporal atau pengamatan acak berdasarkan lokasi dan waktu, Prof. Budi secara sederhana mencari peluang penyebaran Coronavirus berdasarkan data yang ada di laman https://www.worldometers.info/coronavirus/.

Data yang diambil merupakan data yang terinfeksi Coronavirus di seluruh dunia dalam rentang waktu 23 Januari hingga 9 Maret 2020.

Data rata-rata itu kemudian dianalisa dan dihitung menggunakan distribusi stasioner rantai Markov, dengan keadaan bila kurang dari rata-rata diasumsikan sedikit, sedangkan di atas rata-rata diasumsikan banyak.

Baca juga: UI Produksi Hand Sanitizer dan Berikan Gratis Selama Seminggu

Maka diperoleh hasil awal bahwa penderita Coronavirus di bawah rata-rata sebesar 53 persen, sedangkan penderita di atas rata-rata sebesar 47 persen.

“Ini masih menjadi studi awal, harus dilakukan pemodelan terus menerus,” ujarnya.

Selanjutnya, penghitungan dilakukan untuk menentukan prediksi banyaknya penderita berdasarkan lokasi yang belum tersampel. Hal ini disebabkan, ada sejumlah negara, terutama yang dekat dengan Tiongkok, belum ada informasi terinfeksi virus corona.

Dua negara yang dijadikan sampel dalam identifikasi ini adalah Laos dan Myanmar, dua negara yang hampir berdekatan dengan Tiongkok.

Proses pencarian prediksi di lokasi tidak tersampel ini menggunakan metode Ordinary Point Kriging (OK). Hasilnya, diprediksikan bahwa rata-rata ada 3-4 orang yang akan terinfeksi Coronavirus di Laos atau Myanmar.

Diakui Prof. Budi, hasil dari dua penghitungan ini masih memerlukan analisis lebih lanjut. Ini disebabkan, data yang digunakan masih diasumsikan homogen belum heterogen. Selain itu, kolaborasi penelitian multidisiplin juga sangat diperlukan.

Meski demikian, lanjutnya, data awal ini bisa menjadi gambaran untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pandemi Coronavirus. Prediksi di lokasi yang tidak tersampel bertujuan bukan untuk memicu kepanikan, tetapi untuk meningkatkan kewaspadaan ke depan.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X