Kompas.com - 16/03/2020, 15:46 WIB
Ilustrasi virus Corona atau Covid-19 KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMANIlustrasi virus Corona atau Covid-19

KOMPAS.com - Beragam upaya dilakukan demi mengurangi laju penyebaran virus corona yang telah dinyatakan sebagai bencana nasional di Indonesia.

Setelah sejumlah wilayah "meliburkan" sekolah dan menerapkan belajar online, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) tengah bekerja sama melakukan penelitian untuk mencegah Covid-19.

Melansir laman resmi UI, tim FK UI dan IPB sedang mengembangkan penelitian terkait jambu biji (guajava) sebagai kandidat potensial untuk pencegahan virus corona.

Baca juga: Tahun Depan UN diganti Asesmen Kompetensi Minimum, ini Contoh Soalnya

Penelitian yang disampaikan pada “Seminar dan Workshop Eksplorasi Bahan Herbal Kandidat Potensial Antivirus Corona: Analisis Big Data dan In Silico”, Senin-Rabu (2-4/3/2020) di Fakultas Kedokteran UI, tersebut menggunakan metode penelitian bio-informatika dan memanfaatkan basis data miliki Laboratorium Komputasi Biomedik dan Rancangan Obat Fakultas Farmasi UI.

"Dengan total basis data sebanyak 1.377 senyawa, senyawa herbal tersebut akan dipetakan dan dikonfirmasi menggunakan metode pemodelan molekuler untuk dievaluasi aktivitas anti-virusnya," tulis laman UI, Senin (16/3/2020).

Senyawa tangkal corona

Dekan FK UI Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB mengatakan, jambu biji memiliki kandungan senyawa yang cukup lengkap untuk menangkal penyebaran Covid-19.

"Dari riset bio-informatika, kandungan dalam jambu biji mampu mencegah atau paling tidak mengurangi virus tersebut," papar Ari.

Baca juga: Rektor UNAIR Sebut Sari Daun Sambiloto Bisa Cegah Virus Corona

Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan beberapa golongan senyawa pada jambu biji yang berpotensi menghambat dan mencegah virus corona, di antaranya hesperidia, rhamnetin, kaempferol, kuersetin, dan myricetin.

Selanjutnya, Ari juga mengatakan, pihaknya akan mempersiapkan hasil penelitian ini untuk publikasi internasional dan mencari dukungan dari industri farmasi untuk produksi skala besar.

Namun, proses ini belum diketahui kapan selesainya karena membutuhkan percobaan penelitian ke binatang dan manusia.

Kendati begitu, Ari menegaskan bahwa hasil penelitian ini membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui komponen yang tepat untuk pengobatan Covid-19.

Ia pun tetap mengimbau agar masyarakat terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan cara mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker bagi yang sakit.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X