Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren Misinformasi dalam Konflik Rusia-Ukraina: Disesuaikan dengan Konteks Indonesia

Kompas.com - 09/02/2023, 09:55 WIB
Jawahir Gustav Rizal,
Bayu Galih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sudah hampir setahun sejak Rusia melancarkan invasi militer ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Pertempuran tidak hanya melibatkan prajurit dan kendaraan tempur dari kedua negara yang berkonflik, tetapi juga meluas ke media sosial dengan masing-masing pihak beradu narasi.

Tak jarang, perang narasi ini disertai menyebarnya misinformasi dan disinformasi yang memengaruhi persepsi masyarakat secara global, termasuk di Indonesia.

Dalam seminar "Misinformasi dan Disinformasi Seputar Invasi Rusia di Ukraina" yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia pada Rabu (8/2/2023), Sekretaris Jenderal AJI Indonesia, Ika Ningtyas mengatakan, selalu terjadi krisis informasi independen di setiap konflik, termasuk di konflik Rusia-Ukraina.

"Pertama, karena Ukraina sekarang menjadi salah satu negara paling mematikan bagi jurnalis. Dalam satu tahun ini, International Federation of Journalist mencatat ada 12 jurnalis yang tewas akibat invasi ini," kata Ika yang juga Koordinator Cek Fakta Tempo.

Baca juga: Lebih dari 200 Situs Budaya di Ukraina Rusak karena Perang

Dia menambahkan, konflik Rusia-Ukraina juga mengakibatkan banyak jurnalis terpaksa meninggalkan wilayah tersebut untuk menyelamatkan diri. Situasi konflik juga mengakibatkan peliputan langsung dari lapangan menjadi hal berbahaya bagi jurnalis.

"Sebaliknya, delapan hari setelah invasi Rusia menerbitkan semacam undang-undang pidana baru, yang salah satu isinya adalah mengatur tentang berita bohong," tuturnya.

Menurut Ika, undang-undang baru Rusia itu menargetkan media-media independen yang memberitakan tentang invasi.

Terdapat lebih dari 30 media independen di Rusia yang ditutup secara paksa karena pengawasan ketat otoritas negara tersebut.

Berbagai faktor itu menyebabkan krisis informasi kredibel, baik di Rusia maupun di Ukraina, yang menjadi celah bagi penyebaran misinformasi, disinformasi, bahkan propaganda.

Ika mengatakan, skala penyebaran misinformasi, disinformasi, dan propaganda yang menyertai invasi Rusia ke Ukraina lebih besar dari konflik-konflik sebelumnya.

Baca juga: CEK FAKTA: Jerman Tidak Nyatakan Perang terhadap Rusia

Disesuaikan dengan konteks Indonesia

Ika menyebutkan, terdapat pola berulang dalam alur penyebaran informasi keliru seputar konflik Rusia-Ukraina ke Indonesia.

Informasi tersebut masuk ke Indonesia tidak begitu saja, tetapi telah disesuaikan dari segi bahasa dan konteksnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Cek Fakta Tempo, terdapat 69 jenis konten dengan berbagai narasi terkait invasi Rusia ke Ukraina yang telah didebunk.

Adapun narasi-narasi yang dibangun dapat dikategorikan menjadi tujuh macam.

  • Pertama, soal kedekatan Rusia dengan Indonesia. Misalnya, narasi yang mengeklaim Indonesia mendukung invasi Rusia dengan mengirimkan senjata dan pasukan.
  • Kedua, tentang situasi Eropa atau Amerika. Misalnya, Rusia akan mengirimkan nuklir ke Inggris atau Amerika Serikat.
  • Ketiga, narasi terkait situasi konflik di Ukraina. Misalnya, penyebaran video-video lama untuk membangun narasi kedigdayaan Rusia atas Ukraina.
  • Keempat, tentang kondisi atau Pemerintah Ukraina. Misalnya, konten video yang memparodikan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
  • Kelima, narasi soal kedekatan Rusia dengan Islam. Misalnya, konten yang mengeklaim Putin masuk Islam, atau narasi bahwa Putin akan menyerang Israel.
  • Keenam, narasi tentang peran Presiden Joko Widodo atau Pemerintah Indonesia.
  • Ketujuh, narasi tentang kondisi pengungsi dan korban.

Ika menyebutkan, akun yang menyebarkan narasi-narasi tersebut terdiri dari akun baru yang dibuat setelah invasi, akun lama yang fokus membahas militer, atau warganet pro-Rusia.

Menurut dia, narasi-narasi tersebut cukup berhasil memengaruhi persepsi publik Indonesia tentang konflik Rusia-Ukraina. Hal ini terlihat dari komentar warganet di salah satu kontan yang menarasikan kedekatan Putin dengan Islam.

"Semuanya bersimpati dengan Rusia dan sama sekali tidak ada narasi terhadap korban dari invasi ini. Hilang narasi-narasi soal korban dan bagaimana seharusnya upaya-upaya untuk perdamaian. Semuanya mendoakan semoga Putin menang," ucapnya.

Ika mengatakan, penyebar narasi semacam ini memahami bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, dan mereka ingin menggaet dukungan publik melalui narasi yang menggambarkan kedekatan Putin dengan Islam.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

[HOAKS] Tiga Anak di Rafah Berpura-pura Jadi Korban Serangan Israel

[HOAKS] Tiga Anak di Rafah Berpura-pura Jadi Korban Serangan Israel

Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Seorang Perempuan Jadi Korban Pembegalan di Baubau pada 28 Mei

[HOAKS] Seorang Perempuan Jadi Korban Pembegalan di Baubau pada 28 Mei

Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Foto Terowongan Menghubungkan Rafah ke Mesir

[HOAKS] Foto Terowongan Menghubungkan Rafah ke Mesir

Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Menilik Kabar TNI-Polri Usir Pasien dan Penutupan RSUD Madi, Papua

[KLARIFIKASI] Menilik Kabar TNI-Polri Usir Pasien dan Penutupan RSUD Madi, Papua

Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Hoaks Presiden Iran Selamat dari Kecelakaan Helikopter, Simak Bantahannya

INFOGRAFIK: Hoaks Presiden Iran Selamat dari Kecelakaan Helikopter, Simak Bantahannya

Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Foto Hujan Ikan Terjadi di Jalanan China, Bukan Iran

[KLARIFIKASI] Foto Hujan Ikan Terjadi di Jalanan China, Bukan Iran

Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Pengibaran Bendera Palestina di Puncak Piramida Mesir Hasil Rekayasa

[KLARIFIKASI] Video Pengibaran Bendera Palestina di Puncak Piramida Mesir Hasil Rekayasa

Hoaks atau Fakta
Kilas Balik Berdirinya Amnesty International dan Sepak Terjangnya...

Kilas Balik Berdirinya Amnesty International dan Sepak Terjangnya...

Sejarah dan Fakta
[HOAKS] Undian Berhadiah dari Bank Jatim

[HOAKS] Undian Berhadiah dari Bank Jatim

Hoaks atau Fakta
Joseph Ignece Guillotin, Dokter yang Namanya Dipakai untuk Alat Pancung

Joseph Ignece Guillotin, Dokter yang Namanya Dipakai untuk Alat Pancung

Sejarah dan Fakta
[HOAKS] Video Sule Promosi Judi Online

[HOAKS] Video Sule Promosi Judi Online

Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Penjelasan Kemenag soal 2 Pegawai Non-Muslim Jadi Petugas Haji

[KLARIFIKASI] Penjelasan Kemenag soal 2 Pegawai Non-Muslim Jadi Petugas Haji

Hoaks atau Fakta
Penjelasan TNI soal Isu Penutupan RSUD Madi di Paniai

Penjelasan TNI soal Isu Penutupan RSUD Madi di Paniai

Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Video Pernyataan Sivakorn Pu-Udom soal Laga Indonesia Vs Uzbekistan

[HOAKS] Video Pernyataan Sivakorn Pu-Udom soal Laga Indonesia Vs Uzbekistan

Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Benarkah Produk Bayi Mengandung Bahan Penyebab Kanker?

INFOGRAFIK: Benarkah Produk Bayi Mengandung Bahan Penyebab Kanker?

Hoaks atau Fakta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com