Pentingnya Negara Mengungkap Fakta Terkait Tragedi G30S 1965

Kompas.com - 03/10/2022, 14:27 WIB

KOMPAS.com - Ketakutan dan kebencian terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) masih mengakar di masyarakat. Salah satu penyebabnya, Peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S di mana PKI dituduh sebagai pelaku pembunuhan para jenderal.

Narasi tentang kekejaman PKI terus didengungkan, misalnya melalui film Pengkhianatan G 30 S PKI yang muncul pada masa Orde Baru. PKI digambarkan sebagai kelompok yang membunuh para jenderal dengan sadis.

Meski Orde Baru telah tumbang, namun narasi tersebut seakan terus direproduksi. Anggota Divisi Pemantauan Impunitas Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Ahmad Sajali berpandangan, butuh upaya yang cukup besar untuk menghilangkan sentimen tersebut.

Baca juga: Sejarah Cakrabirawa, Pasukan Pengawal Presiden yang Terlibat G-30-S

Menurut Sajali, banyak narasi yang perlu dicek kebenarannya terkait PKI versi Orde Baru, seperti soal penyiksaan para jenderal yang disebut dimutilasi sebelum dibunuh oleh orang-orang PKI.

“Misalkan laporan hasil visum para korban dewan jenderal yang tidak ditemukan narasi-narasi penyiksaan. Itu sudah dirilis sama pusat informasinya ABRI di hari itu yang juga tercantum di beberapa riset peneliti terkemuka seperti Ben Anderson,” ujar Sajali kepada Kompas.com, Kamis (29/9/2022).

Sajali menuturkan, sampai saat ini negara belum mengungkap fakta terkait peristiwa G30S, sehingga sentimen terhadap PKI terus berembus. Hal ini berakibat pada munculnya praktik perampasan buku maupun pembubaran diskusi terkait isu tersebut.

“Itu reaksi yang muncul karena negara enggak hadir untuk mengungkapkan fakta. Kalaupun misal Letkol Untung bahkan Aidit, kalau benar adanya menjadi otak di balik pembunuhan dewan jenderal, sebenarnya itu pertanggungjawabannya kepada individu,” katanya.

Baca juga: Film Pengkhianatan G30S PKI dan Rekayasa Sejarah

Selain karena kurangnya referensi sejarah, Sajali menduga isu PKI kerap dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Seolah semua hal yang ingin dihilangkan dari kehidupan sosial politik Indonesia harus menggunakan stigma atau dituduh PKI terlebih dahulu.

Ia mencontohkan peristiwa yang dialami aktivis lingkungan asal Banyuwangi, Heri Budiawan alias Budi Pego, yang dituduh komunis pada tahun 2017 karena menolak tambang emas di kawasan Tumpang Pitu, Banyuwangi, Jawa Timur.

Seperti ditulis Kompas.com sebelumnya, Budi Pego merupakan salah satu orang yang paling keras menolak tambang emas milik anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[HOAKS] Angin Puting Beliung Pascagempa Cianjur

[HOAKS] Angin Puting Beliung Pascagempa Cianjur

Hoaks atau Fakta
Berkaca dari Pemilu Filipina 2022, Upaya Reinterpretasi Sejarah Perlu Jadi Perhatian Serius

Berkaca dari Pemilu Filipina 2022, Upaya Reinterpretasi Sejarah Perlu Jadi Perhatian Serius

Data dan Fakta
INFOGRAFIK: Sejumlah Pemain Bintang Cedera, Perancis Berupaya Pertahankan Gelar

INFOGRAFIK: Sejumlah Pemain Bintang Cedera, Perancis Berupaya Pertahankan Gelar

Data dan Fakta
AMSI: Hulu Produsen Hoaks di Indonesia Belum Dapat Dilacak

AMSI: Hulu Produsen Hoaks di Indonesia Belum Dapat Dilacak

Hoaks atau Fakta
Strategi Efektif Cegah Hoaks Perlu Disiapkan Jelang Pemilu 2024

Strategi Efektif Cegah Hoaks Perlu Disiapkan Jelang Pemilu 2024

Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Febri Diansyah Ditangkap Polisi

[HOAKS] Febri Diansyah Ditangkap Polisi

Hoaks atau Fakta
Kasus Penembakan dan Perampokan Tupac Shakur, 30 November 1994

Kasus Penembakan dan Perampokan Tupac Shakur, 30 November 1994

Sejarah dan Fakta
Pengamat: Jokowi Ingin Jadi Pemain Utama di Pilpres 2024

Pengamat: Jokowi Ingin Jadi Pemain Utama di Pilpres 2024

Data dan Fakta
[HOAKS] Australia Jatuhkan Puluhan Bom ke Wilayah Indonesia

[HOAKS] Australia Jatuhkan Puluhan Bom ke Wilayah Indonesia

Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Tidak Benar WTO Ultimatum RI agar Membuka Ekspor Nikel

[KLARIFIKASI] Tidak Benar WTO Ultimatum RI agar Membuka Ekspor Nikel

Hoaks atau Fakta
Gaslighting Menjadi Word of The Year 2022 Versi Merriam-Webster

Gaslighting Menjadi Word of The Year 2022 Versi Merriam-Webster

Data dan Fakta
[VIDEO] Hoaks! Tepung Terigu untuk Pertolongan Pertama pada Luka Bakar

[VIDEO] Hoaks! Tepung Terigu untuk Pertolongan Pertama pada Luka Bakar

Hoaks atau Fakta
Kisah di Balik Lagu 'Something' yang Ditulis George Harrison

Kisah di Balik Lagu "Something" yang Ditulis George Harrison

Sejarah dan Fakta
CEK FAKTA: Makna Simbol Trisula di Bendera Ukraina

CEK FAKTA: Makna Simbol Trisula di Bendera Ukraina

Hoaks atau Fakta
CEK FAKTA: Benarkah Video Suporter Jepang Meninggalkan Sampah?

CEK FAKTA: Benarkah Video Suporter Jepang Meninggalkan Sampah?

Hoaks atau Fakta
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.