Hendra Setiawan Mengaku Kesulitan Tiru Gaya Main Sang Idola

Kompas.com - 07/06/2020, 18:30 WIB
Ganda putra Indonesia, Mohammad Ahsan Ahsan dan Hendra Setiawan bertanding melawan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto pada pertandingan semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2020 di Istora Senayan Jakarta, Sabtu (18/1/2020). Ahsan dan Setiawan melaju ke final setelah menang 21-12, 18-21, dan 21-17. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGGanda putra Indonesia, Mohammad Ahsan Ahsan dan Hendra Setiawan bertanding melawan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto pada pertandingan semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2020 di Istora Senayan Jakarta, Sabtu (18/1/2020). Ahsan dan Setiawan melaju ke final setelah menang 21-12, 18-21, dan 21-17.
Penulis Alsadad Rudi
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pebulu tangkis ganda putra Indonesia, Hendra Setiawan, punya pencapaian mentereng dengan pernah meraih sederet prestasi tertinggi.

Selain pernah menjadi pemain nomor satu dunia dengan dua partner yang berbeda, Hendra Setiawan juga telah meraih sejumlah gelar bergengsi mulai dari medali emas Olimpiade, gelar juara dunia, titel kampiun All England Open, dan banyak lagi.

Meski sudah memiliki reputasi terang, Hendra tak pernah lupa bahwa dia juga sempat mengalami masa-masa sulit dalam perjalanannya menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Dikutip BolaSport.com dari laman resmi BWF, Hendra mengaku pernah kesulitan meniru gaya main idolanya, Tony Gunawan.

Saking tak bisa melakukannya, Hendra pun memutuskan untuk mengembangkan gaya mainnya sendiri.

Keputusan itu terbukti jitu.

Baca juga: Hendra Setiawan Tertarik Jadi Pelatih Setelah Gantung Raket

Setelah melepas keinginan menjiplak gaya main sang idola, Hendra pun menjelma pemain yang paling disegani di dunia.

"Dia (Tony Gunawan) adalah idola saya," ucap Hendra.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Tony Gunawan Bandingkan Bedanya Bulutangkis di Indonesia dan Amerika? ? Pada dasarnya, Tony menyebut saat berlatih di Amerika Serikat ia harus lebih mandiri karena harus mengurus semua sendiri. Sementara itu, saat di Indonesia, semua hal sudah diurus oleh federasi.? ? “Di Indonesia kami semua bernaung di bawah tim nasional, semuanya diurus oleh pelatih dan staf tim nasional,” kata Tony kepada Vittinghus, pebulutangkis tunggal putra Denmark.? ? “Di AS kami punya pelatih, salah satu teman saya Ignatius Rusli. Jadi saya dapat bantuan dari dia dan juga Orange County Badminton Club. Pemiliknya membantu saya pindah ke AS dan mempersiapkan saya untuk tinggal di sini.”? ? “Kalau soal latihan, di Indonesia pada dasarnya kami latihan dan bertanding di turnamen. Kami tak perlu khawatirkan hal lain. Sementara di sini semuanya harus dilakukan sendiri. Jadi dari mendaftar visa ke luar negeri, membuat jadwal, ke sekolah jadi semuanya harus dikerjakan sendiri.”? ? Lebih lanjut, meski merasa kehidupan sebagai atlet bulutangkis di Amerika lebih berat, Tony mengaku hal itu justru memberinya nilai positif. “Jauh lebih susah, tapi saya rasa itu semua membuat saya lebih kuat, dewasa, dan independen,” tutupnya. #tonygunawan #USABadminton #indonesiabadminton

A post shared by Badminton News Flash (@badminton_newsflash) on May 29, 2020 at 1:24am PDT

Tony adalah pemain ganda putra Indonesia peraih emas pada Olimpiade Sydney 2000. Ketika itu, ia berpasangan dengan Chandra Gunawan.

"Saya menonton banyak video permainan dia dan berusaha untuk meniru gaya mainnya. Ternyata sulit, jadi saya mengembangkan permainan saya sendiri saja," kata Hendra lagi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X