Model Bisnis Konten Seluler Makin Beragam

Ponsel Hiburan

Senin, 12 Mei 2008 | 20:36 WIB

JAKARTA, SENIN - Konten SMS dan download mungkin telah berkembang mejadi bisnis miliaran rupiah di Indonesia saat ini. Namun dengan pemain begitu banyak dan model bisnis yang bisa dikatakan seragam, suatu saat bisnis semacam ini akan mencapai titik jenuh.

Seiring makin tingginya trafik data di jaringan seluler, para pengembang teknologi mulai melirik model bisnis lain untuk mendulang uang. banyak cara yang dilakukan, apalagi dengan perembangan teknologi dan platform telepon seluler yang makin mengamododasi layanan interaktif.

Setidaknya terdapat empat model bisnis yang ditawarkan para pengembang software yang masuk sebagai finalis Peer Award, kompetisi aplikasi konten seluler masa depan yang digagas komunitas MobileMonday. Dengan biaya langganan secara berkala, menyisipkan iklan di antara konten, menjual aplikasi, sampai menjual jasa.

Model bisnis yang baru ini rata-rata didasari semangat bisnis Internet. Delapan finalis Peer Award umumnya berpendapat bahwa pada bisnis seluler, konten bukanlah komoditas yang dijual. Tentu semangat ini berbeda sekali dengan sebagian besar bisnis konten saat ini yang masih menjadikan isi konten sebagai pundi-pundi uang. Layaknya model bisnis di Internet, akses konten secara cuma-cuma merupakan tuntutan pelanggan.

Misalnya pada layanan Lipstik TV yang ditawarkan Falcon Interactive. CEO Falcon HB Naveen menjelaskan dalam presentasinya bahwa Lipstik TV didesain sebagi saluran televisi infotainment komprehensif yang menyediakan klip-klip video pendek selebriti untuk layar ponsel dengan cara streaming berikut fasilitas chat. Semuanya bebas diakses, tentu saja dengan ongkos data GPRS/3G ditanggung pelanggan, dan pihaknya akan mendapat pemasukan dari biaya langganan Rp2000 per minggu, layanan pendukung, dan spot iklan. Layanan lain yang mengakomodasi layanan sebelumnya tak ditinggalkan, seperti download ringtobe dan wallpaper.

Penta Media yang mengembangkan aplikasi Indonesia on the Go (InGo) juga tak melihat konten sebagai sasaran penghasilan. Aplikasi agregator berita atau artikel yang telah dipakai kantor berita Antara dan sejumlah merchant ini memilih untuk memperoleh pendapatan dari iklan advertorial yang disisipkan di antara konten-konten tersebut.  

Sementara itu, Merak Indocipta Kreasi yang mengembangkan aplikasi Quran Voice meraup uang dari biaya download aplikasi Rp10.000. Software tersebut memungkinkan pengguna untuk mencari ayat-ayat Alquran dengan menu pencarian online, mendengar ayat yang diinginkan, atau membaca ayat-ayat Alquran secara streaming, tanpa harus mengunduh ke dalam ponselnya. Semua sudah dapat dilakukan dengan ponsel yang mendukung WAP di jaringan GPRS.  

Lain lagi yang dilakukan More in Touch yang tidak mengharapkan penghasilan langsung dari pengguna aplikasi yang dikembangkannya. Perusahaan tersebut menyediakan jasa yang menjadikan aplikasinya sebagai integrasi untuk menggabungkan point reward dari berbagai merchant sehingga voucher dari Garuda Indonesia, katakanlah, dapat ditukar dengan makan gratis di KFC.

Adaptasi Internet

Model bisnis baru bakal muncul juga dari layanan jaringan sosial yang mengadaptasi layanan Internet, seperti Friendzip yang dikembangkan i-Moov. Layanan ini menyesuaikan dengan ukuran layar ponsel yang kecil. Aplikasi yang mengadaptasi situs jaringan sosial di Internet ini bahkan rencananya akan terintegrasi dengan Friendster.

Begitu pula dengan aplikasi 12Frenz yang dikembangkan Mobafone Indonesia. Layanan chat, instant messaging, blog, atau pasang foto dan video akan lebih mudah dilakukan kapan saja dan di mana saja melalui sebuah ponsel. Layanan ini juga menyediakan jaringan sosial yang selama ini sudah menjadi sasaran baru model bisnis Internet. 

Game online juga diadaptasi di seluler seperti Virtual Tribe. Tak sekadar membawa cara bermain di Internet ke jaringan seluler, game yang mengangkat skenario perebutan lahan ini terintegrasi dengan GPS sehingga posisi pemain dalam permainan seolah-olah nyata.

Jika tujuh finalis menitikberatkan bisnis kepada pengguna retail, Empatix Indonesia mengambil segmen perusahaan. Aplikasi yang dikembangkan dibuat agar solusi bisnis yang biasanya diakses melalui komputer dapat juga diakses melalui ponsel. Sudah ada 40 modul layanan, misalnya pemesanan, Warehouse Management, Project Management, Invoicing, Customer Base, Product Base, Accounting, Timekeeping, Salary, CRM, eCommerce, dan CMS.

 

Semua finalis Peer Award rata-rata memanfaatkan kekuatan software sebagai etalase bisnis tersebut. Untuk konten di jaringan GSM, hampir semuanya menggunakan platform Java 2 Mobile Edition (J2ME) sebagai antarmuka yang diinstalasi pada ponsel pelanggan. Pada jaringan CDMA, saat ini sudah tersedia Brew, platform yang mendukung layanan data interaktif.

Dari delapan finalis akan dipilih tiga terbaik berdasarkan penilaian juri yang telah dilakukan di Jakarta, Senin (12/5). Tiga finalis akan dipilih melalui voting pada gelaran MobileMonday berikutnya tanggal 26 Mei 2008. Saat layanan-layanan ini tersedia, akankah bisnis konten di jaringan seluler semakin mencorong?

WAH

A A A
komentar anda
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
FEATURE
Rabu, 19 November 2008 | 20:05 WIB
Tak Ada Alasan Menjual Software Bajakan
Pembajakan software di Indonesia tak kunjung berkurang secara drastis meskipun penegakan hukum gencar dilakukan di berbagai daerah.
Tutorial
Selasa, 18 November 2008 | 10:15 WIB
Opera Mini, Browser Hebat untuk Ponsel Java
Apa saja yang bisa dikerjakan dengan Opera Mini? Pelajari tip dan trik berikut.
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort