Megawati Sentil SBY-JK soal Tugas Negara
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Rabu (7/1), berdialog dengan pengungsi korban gempa di Manokwari, Papua Barat. Dalam kunjungan selama satu jam itu, PDI-P menyerahkan bantuan, berdialog, dan mendengarkan paparan ihwal gempa 7,6 SR yang mengguncang Manokwari pada 4 Januari 2009.
Kamis, 8 Januari 2009 | 19:19 WIB

JAKARTA, KAMIS — Pelaksanaan kampanye pilpres dianggap oleh Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri harus berjalan secara adil, fair, dan terbuka. Megawati kemudian berharap kepada calon incumbent, yakni Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla, untuk melaksanakan tugas-tugas kenegaraan agar tidak terbengkalai hanya karena Presiden sibuk mematut diri.

"Dulu, waktu di masa kampanye, saya berbagi tugas dengan Wapres Hamzah Haz. Jika saya cuti maka Pak Hamzah yang tinggal di Jakarta. Kalau sekarang ini, saya tidak tahu bagaimana," kata Megawati seperti dituturkan oleh staf khususnya, Ari Junaedi, dalam rilis yang diterima Persda Network, Kamis (8/1) sore.

Ari Junaedi menjelaskan, Megawati mengatakan hal itu di atas pesawat terbang dari Timika, Papua, menuju Ambon, Maluku, hari ini, Kamis. Megawati juga meminta kepada semua instansi termasuk TNI/Polri untuk bisa berlaku adil dan tidak menyalahgunakan kekuasaan dalam pemilu yang waktunya tidak lama lagi.

Penegasan perkataan Megawati juga disampaikan oleh Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Agnita Singedikane. Ia menyatakan, posisi incumbent memang lebih menguntungkan. Namun, persoalannya, apakah masyarakat sadar atau tidak dalam kondisi ini.

"Lihat saja iklan di televisi, sampai iklan luar ruang, semuanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Alangkah lebih bijak dana-dana public relation itu dipakai untuk penanganan masalah kemiskinan. Apa gunanya iklan bagus, tapi rakyat masih sulit cari gas. Pupuk sudah didapat dan rakyat masih pusing mencari harga sembako yang murah," sindir Agnita.


Rachmat Hidayat
Sumber : Persda Network
Share on Facebook
Nilai 1.67 A A A
Ada 36 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
iskandar @ Rabu, 17 Juni 2009 | 11:34 WIB
ibu mega ternyata tidak bisa mengambil pelajaran dari masa lalu...dulu di pilpres 2004 dia dan suaminya gencar menjelek2an sby, hasilnya rakyat simpat sama sby dan sby menang....lah sekarang di ulangi lagi menjelek2n sby...gimana sih ibu ini!! kayaknya benciii banget sama sby...gimana jadinya kalo negeri ini dipimpin oleh 'pendendam'....kacau semuanya..
aang @ Kamis, 28 Mei 2009 | 08:44 WIB
Mengapa ya MEGAWATI ini selalu menjelekan orang lain tanpa bercermin kepada dirinya sendiri. Masih ingatkah kita waktu beliau jadi presiden, walaupun ada pembagian tugas saat dia cuti tetep aja bom meldak di Bali, pulau sipadan dicaplok Malaysia...dst,dst. Polisi/TNI harus netral..., lah waktu pemilihan presiden lalu tertangkap basah dan jelas seorang perwira menengah polisi di Jawa Tengah memaksakan anggotanya para purnawirawan polisi untuk memilih MEGAWATI. Ngaca dong ah.
ar1 @ Minggu, 29 Maret 2009 | 10:23 WIB
saya agak kecewa dengan kampanye bu mega,dengan menjelek2kan pemerintahan sekarang ini menunjukkan ketidak intelektualitas beliau sebagai seorang ketua umum partai dan capres dari PDI-P.
frizzy @ Kamis, 12 Maret 2009 | 00:21 WIB
errrr.... g ngaca bu? negara lebih ancur wktu anda yg memimpin!! lebih baik SBY-JK wlau g drastis tp ad perkembangan yg jlz!! peace lah bu saya bener2 tidak suka dengan cara anda!
rakyat kecewa @ @ Senin, 12 Januari 2009 | 22:42 WIB
Megawati sampai hati menjual nama proklamator Indonesia dan wongcilik demi menjadi presiden Indonesia.Ironis nya setelah menjadi presiden aset rakyat Indosat dijual murah ke Asing bahkan kontrak LNG Tangguh pun dgn china dibuat sangat murah sekali. Mungkinkah rakyat indonesia akan memilih Megawati kembali menjadi presiden 2009 ???
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1