Yuddy: JK Bersedia Jadi Capres
Wakil Presiden RI yang juga Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla (kedua kanan) didampingi (dari kiri ke kanan) Sekjen DPP Partai Golkar Soemarsono, Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Agung Laksono, serta Ketua Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, dan Otonomi Daerah DPP Partai Golkar Muladi seusai memberikan keterangan akhir tahun evaluasi Partai Golkar, Jumat (26/12).
Selasa, 6 Januari 2009 | 20:13 WIB

JAKARTA, SELASA - Diam-diam Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla sudah menyatakan kesiapannya untuk dijadikan sebagai capres 2009. Ini artinya, Jusuf Kalla bila benar, akan bertarung dengan Presiden SBY. Termasuk pula kepada Megawati Soekarnoputri, Prabowo, Wiranto, Sri Sultan maupun dengan kandidat capres lainnya. Kesiapan Jusuf Kalla dalam pertarungan Pilpres ini diungkapkan oleh politikus muda Partai Golkar, Yuddy Chrisnandi kepada Persda Network, Selasa (6/1).

Yuddy Chrisnandi kemudian menjelaskan pernyataannya ini. Pada Senin (5/1) kemarin, dirinya bertemu dengan Jusuf Kalla, pada pagi hari. Pertemuannya itu, bermaksud untuk meminta izin kepada Jusuf Kalla lantaran Yuddy saat ini sudah resmi menjadi capres dari Dewan Integritas Bangsa (DIB). Dalam pertemuan itu, kata Yuddy, Jusuf Kalla memberikan izin.

"Beliau  sama sekali tidak keberatan, secara lisan pak JK memberikan saya izin. Lalu, dalam pertemuan itu saya juga menyarankan agar beliau maju sebagai capres dari Partai Golkar. Ini, bertujuan untuk membangun militansi Partai Golkar juga," kata Yuddy Chrisnandi.
 
Yuddy melanjutkan ceritanya lagi. Dalam pertemuannya dengan Jusuf Kalla, dirinya kemudian menyarankan agar Partai Golkar mempersiapkan cawapresnya dari internal yang merujuk pada aspirasi serta keinginan masyarakat sesuai dari berbagai hasil lembaga survei yang menghendaki adanya kombinasi kepemimpinan nasional, figur tua dan muda sebagai pasangan yang ideal.

"Saya juga mengatakan, PG tak perlu ragu mengusung capres dan cawapresnya sendiri untuk menggerakkan mesin  politik Golkar sekaligus menyerap kekuatan baru dari luar Golkar. Saya katakan juga, saya siap mendampingi beliau dengan legitimasi yang diberikan partai melalui  proses seleksi yang obyektif," paparnya.

Golkar, kata Yuddy saat bertemu dengan Jusuf Kalla, kalau ingin tetap eksis, tidak boleh bergantung pada ada atau tidaknya koalisi untuk mengusung capres atau cawapres. PG, lanjutnya, harus memiliki skenario sendiri.

"Jadi tidaknya SBY berpasangan dengan JK, atau  kalau berpasangan akan menang atau kalah, sama probabilitasnya bila pak Jusuf Kalla maju sebagai capres dengan pasangan cawapres  yang kuat  kapasitas dan aksepabilitasnya. Jadi, kenapa tidak Golkar bangkit. Lalu, pak Jusuf Kalla menyatakan siap menjadi pemimpin nasional. Ini sikap kemajuan dan kabar bagi kader-kader Partai Golkar dan saya menganggap pak Jusuf Kalla siap menjadi capres," tutur Yuddy Chrisnandi.


YAT
Sumber : Persda Network
Share on Facebook
A A A
Ada 4 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
permana @ Rabu, 7 Januari 2009 | 09:47 WIB
dunia rasanya mau runtuh
yudha @ Selasa, 6 Januari 2009 | 22:24 WIB
kenapa tidak pak yusuf kalla memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk maju sebagai presiden mendatang kami mendukung bapak.dengan satu syarat bapak harus mampu menghilangkan pungutan pungutan liar dan mensejahtrahkan masyarakat arus bawah.
erwien hindarto @ Selasa, 6 Januari 2009 | 21:11 WIB
semoga saja rakyat nanti bijaksana dalam memilih pemimpin.berpikirnya bukan untuk kepentingan suatu golongan saja,tapi berpikir untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
erwien hindarto @ Selasa, 6 Januari 2009 | 20:53 WIB
nanti lihat saja,begitu jadi presiden pasti juga kerabatnya yang diuntungkan.sekarang saja waktu jadi wakil presiden saudaranya sudah jadi wakil ketua MPR,keponakannya sudah jadi himpunan pengusaha muda Indonesia.buat erwien tetap yang terbaik Presiden Susilo Bambang Yudoyono.biar saja Pak jusuf Kalla jadi wakil presiden.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1