10 Tahun Mendatang Yogya Terancam Hujan Asam
Selasa, 6 Januari 2009 | 14:19 WIB

YOGYAKARTA, SELASA — Kualitas udara yang cenderung semakin turun dari tahun ke tahun berdampak buruk, di antaranya kemungkinan terjadi hujan asam. Di Yogyakarta, fenomena alam itu diperkirakan akan terjadi 10 tahun mendatang.
     
"Sampai sekarang memang belum pernah terjadi hujan asam di Yogyakarta, tetapi jika kondisi lingkungan dan kualitas udara tidak dijaga, kemungkinan hujan tersebut bisa terjadi sepuluh tahun mendatang," kata Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Regional Jawa, Sudarsono, seusai menjadi pembicara kunci pada seminar lingkungan hidup di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Selasa.
     
Ia mengatakan, hujan asam disebabkan oleh belerang yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil ditambah nitrogen di udara, yang kemudian bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat tersebut kemudian berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air membentuk asam sulfat serta asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan.
     
Air hujan yang asam itu akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan sehingga berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Menurut dia, saat ini di Yogyakarta terdapat sekitar satu juta sepeda motor dan sekitar 200.000 mobil yang memiliki pertumbuhan lima hingga 10 persen setiap tahun.
     
Kendaraan bermotor menjadi salah satu penyumbang polutan, selain pabrik, karena bahan bakar yang digunakan yaitu premium masih belum bebas dari timbal. Apalagi jika mesin kendaraan tidak dirawat dengan baik.
     
"Yang bisa dilakukan pemerintah untuk meredam polusi udara adalah membuat peraturan misalnya mengenai tahun pembuatan kendaraan yang masih diperbolehkan digunakan, pemberian pajak yang tinggi dan pembatasan akses," katanya.


ABI
Sumber : Ant
Share on Facebook
A A A
Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
jessica @ Minggu, 18 Januari 2009 | 23:38 WIB
makanya standar umr dinaikkan,biar semua org bisa beli kendaraan baru, masa di jogja sendiri gaji s1 di samakan babu di jakarta. gimana mau beli kendaraan bagus, yg kaya semakin kaya, yg miskin semakin melarat. apa gunanya kota pelajar tapi gaji menyedihkan !!!! PIKIRIN DONG......
firman @ Selasa, 6 Januari 2009 | 19:13 WIB
Pertamina harusnys produksi bensin tanpa timbal. Bukannya main-main ngumpetin elpisi dan bbm kongkalikong dengan pedagang.
aci @ Selasa, 6 Januari 2009 | 16:13 WIB
itu baru prakiraan untuk kota yogya. bagaimana dengan kota-kota besar dan sumpeg seperti jakarta, bandung, dan surabaya? capek deh
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
4