Sehat, Kondisi Perbankan Indonesia Tahun Ini
Selasa, 6 Januari 2009 | 14:19 WIB

JAKARTA, SELASA — Ketua Umum Perhimpunan Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono menyatakan, memasuki 2009 secara umum kondisi perbankan Indonesia sehat.
   
Namun, Sigit mengingatkan ada sekitar 20 bank yang harus diberi perhatian karena rasio kecukupan modalnya (CAR) di bawah 12 persen. "Secara umum sehat dari indikator apa pun. NPL (non performing loan) di bawah 5 persen, LDR (loan to deposit ratio) 77 persen, CAR-nya rata-rata juga di atas 8 persen," jelas Sigit setelah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pimpinan surat kabar Jakarta Globe di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Selasa (6/1).
   
Menurut Sigit, ada beberapa dari 128 bank yang sebelum terjadinya krisis keuangan global sudah memiliki NPL agak tinggi di atas 5 persen. "Menurut saya, kita harus fokus menjaga bank-bank yang kategori ini. Kita harus mengamati lebih serius karena bank-bank ini akan menjadi pemicu kalau ada apa-apa," tuturnya.
   
Sigit mencontohkan Bank Century yang dalam keadaan normal seperti tidak bermasalah, tetapi langsung berada dalam tekanan masalah likuiditas ketika terjadi krisis keuangan global. "Kita harus lihat bank-bank ini karena dapat berpotensi memicu di saat krisis," ujarnya.
   
Sigit mengatakan pada 2009 tantangan yang dihadapi perbankan nasional adalah potensi NPL atau kredit bermasalah karena beberapa nasabah akan mengalami kesulitan membayar dan pada akhirnya meminta restrukturisasi pinjaman.
   
"Semua bank harus mulai mengantisipasi ini, karena kalau tidak mereka akan terkaget-kaget mengenai melonjaknya NPL itu," tuturnya.
   
Menurut Sigit, potensi meningkatnya kredit bermasalah pada 2009 hanya bisa dihindari dengan faktor eksternal dari kebijakan pemerintah, seperti stimulasi perpajakan sehingga nasabah pengusaha dapat menekan biaya produksi untuk membayar bunga kredit di bank.
   
Sigit mengatakan, masalah likuiditas juga akan membebani perbankan pada 2009 meski sebenarnya likuiditas rupiah masih longgar. "Persoalannya adalah ada kecenderungan menumpuk di beberapa bank. Ada bank-bank yang cukup, ada yang kurang. Selama ini masih ada ketidakpercayaan kredit antarbank," jelas mantan Direktur Utama Bank BNI itu.
   
Sigit mengatakan, pemerintah sebaiknya mempertimbangkan jaminan penuh yang juga mencakup pinjaman antarbank sehingga bank yang memiliki kelebihan dana bisa menyalurkan ke bank yang kekurangan likuiditas tanpa kekhawatiran berlebihan.
   
Menurut dia, kebijakan pemerintah mengantisipasi dampak krisis keuangan global seperti menaikkan jaminan simpanan hingga untuk yang bernilai Rp 2 miliar dan mengeluarkan berbagai Perppu sudah cukup, tetapi sebaiknya diikuti dengan kebijakan memberikan jaminan penuh.
   
Jaminan penuh itu, lanjut Sigit, akan memberikan jaminan kemanan secara finansial sehingga setiap orang dapat berkonsentrasi pada gerak sektor riil.
   
Sigit mengatakan dengan target pertumbuhan ekonomi 2009 sebesar 4,5 persen, pertumbuhan perbankan nasional pada tahun ini harus mencapai empat kali lipatnya pada kisaran 18-20 persen.


XVD
Sumber : Ant
Share on Facebook
Nilai 2 A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
bang_husen @ Selasa, 6 Januari 2009 | 16:16 WIB
sehat apanya? fasilitas kredit perbankan tak pernah serius dikucurkan ke sektor ukm. para direksi bank cenderung malas dan takut mengambil risiko. duit nasabah tidak disalurkan ke sektor riil, melainkan cuma diparkir di sbi atau sun.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
17