JAKARTA, SENIN - Ketua MPR Hidayat Nurwahid seakan ingin menghibur duka yang begitu mendalam Presiden India Pratibtha Devisingh Patil saat berkunjung ke ruang kerjanya di Gedung MPR, Senin (1/12). Hidayat, sama seperti biasanya, menyapa dengan senyuman tamu istimewanya yang negaranya sedang dilanda kekisruhan, aksi para pelaku teror yang menewaskan ratusan warganya.
Dalam percakapan dengan tamunya itu, Hidayat ingin menegaskan bahwa sekarang ini agama seakan dilegalkan untuk dijadikan aksi terorisme. Padahal, kata Hidayat, tidak ada agama manapun yang menyetujui aksi-aksi kekerasan dalam bentuk apapun. Ia kemudian menyamakan Indonesia dengan India. Sama-sama memiliki warga yang beragama Islam dan sama-sama memiliki warga yang beragama Hindu.
"Di India, umat Hindu mayoritas, Muslim minoritas. Sementara Indonesia sebaliknya, umat Muslim menjadi mayoritas. Semua agama manapun, tidak mengajarkan terorisme, Tapi, terlepas dari itu semua, baik India dan Indonesia punya kemiripan, sama-sama mempraktekkan demokrasi secara baik," kata Hidayat sambil memuji Presiden India yang ia anggap berhasil mengedepankan demokrasi selama memimpin.
Pertemuan keduanya, begitu hangat. Mantan Presiden PKS ini kemudian menyuguhkan, orang nomor satu di India ini dengan mimuman teh, khas Indonesia. Keduanya, kemudian saling memuji keberhasilan yang sudah dilakukan. Termasuk, masalah teh yang disuguhkan pak Hidayat, menjadi argumentasi menarik dalam pertemuan yang berlangsung tidak terlalu lama ini.
"Kami tentunya menyambut hangat kedatangan Yang Mulia Presiden Pratibtha Devisingh Patil dan kami persilahkan untuk minum teh yang tentu saja berbeda dengan teh di India," kata Hidayat.
Presiden India pun, membalas apa yang diungkapkan Hidayat Nurwahid. "Terima kasih atas keramahtamahan sambutannya para pimpinan MPR. Saya telah mencicipi tehnya dan tentu saja teh Indonesia lebih baik daripada teh India," katanya yang langsung disambut tawa rombongan Presiden India.
Dalam kesempatan itu, Ketua MPR Hidayat Nurwahid menyampaikan rasa belasungkawa secara khusus kepada Presiden India atas aksi terorisme yang menewaskan ratusan orang tak berdosa. Hidayat kemudian berharap, aksi ini tidak membuat Indonesia dan India saling bermusuhan, malah makin menguatkan untuk terus berupaya melakukan kerja sama meningkatkan demokrasi.
"Agama sama sekali tidak bertentangan dengan jalannya demokrasi di sebuah negara. Justru, saat ini agama telah menjadi korban dari terorisme. Oleh karenanya sangatlah baik bila kerjasama antar negara semakin dikuatkan untuk membuktikan pada dunia. Agama manapun tidak mengajarkan terorisme," kata Hidayat.
"Demokrasi pintu besar membasmi terorisme melalui pendekatan yang betul-betul efektif sesuai dengan aturan hukum dan tidak menghadirkan hal-hal yang memperkeruh keadaan di negara kita masing-masing. Tentunya kerja sama penting untuk terus menerus dikembangkan supaya demokrasi bukan hanya menghadirkan kerja-kerja politik murni tapi kerja-kerja yang menghadirkan kebudayaan politik di tingkat tinggi," katanya lagi yang disambut sumringah Presiden Presiden Pratibtha Devisingh Patil. (Persda Network/ Rachmat Hidayat)