PIS Mencoba Setia pada Sutiyoso
Sabtu, 29 November 2008 | 09:26 WIB
SEJUMLAH survei menunjukkan, popularitas Gubernur DKI Jakarta periode 1997-2007, Sutiyoso, sebagai calon presiden pada Pemilihan Umum 2009, sampai sekarang masih di bawah calon lain, seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri, atau Gubernur Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X.

Bahkan, popularitas mantan Pangdam Jaya yang sudah mendeklarasikan dirinya sebagai capres pada 1 Oktober 2007 ini masih harus bersusah payah untuk bersaing dengan sesama purnawirawan TNI, seperti Wiranto dan Prabowo Subianto.

Pada saat yang hampir sama, sejumlah partai politik baru yang sempat menyatakan dukungan kepada Sutiyoso, suaranya juga mulai kurang terdengar. Selain karena tak lolos verifikasi yang diadakan Departemen Hukum dan HAM atau Komisi Pemilihan Umum, hal ini juga karena sebagian dari mereka mulai mengelus calon lain.

Namun, kondisi ini tidak berlaku bagi Partai Indonesia Sejahtera (PIS). ”Kami tetap mendukung Sutiyoso. Pemetaan ulang dukungan calon presiden akan dilakukan setelah melihat perolehan suara PIS pada pemilu legislatif dan besarnya tiket yang dimiliki Sutiyoso,” papar Ketua Umum PIS Budiyanto Darmastono.

Konsistensi dukungan bagi Sutiyoso ini merupakan bagian dari usaha PIS untuk membangun budaya politik yang berdasarkan ideologi, dan bukan keuntungan materi sesaat.

”Bagi kami, politik membutuhkan keyakinan, konsistensi, dan kejujuran. Jika pertimbangan parpol hanya uang, jika kadernya menjadi menteri atau anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang mereka cari juga hanya uang,” kata Budiyanto saat ditemui di kantornya di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (20/11).

Berikut petikan wawancara dengan Budiyanto, pengusaha jasa kurir.

Bagaimana awal perkenalan PIS dengan Sutiyoso?

Kami melihat Indonesia amat majemuk. Banyak aturan yang masih melanggar. Untuk itu dibutuhkan pemimpin yang berani dan tegas. Sejumlah figur memang bagus, tetapi Sutiyoso kami lihat sangat berhasil membangun Jakarta selama 10 tahun menjadi gubernur. Untuk itu, sekitar Juli 2006, kami menawarkan ke Sutiyoso untuk mengusungnya menjadi presiden melalui parpol. Dia menyambutnya. Dengan demikian, kami lalu membuat tim dan 17 Agustus 2006 PIS dideklarasikan. Setahun pertama, kami pakai untuk konsolidasi dan membuat cabang di daerah. Latar belakang pengurus PIS umumnya pengusaha.

PIS membuat perjanjian politik tertentu dengan Sutiyoso?

Sampai sekarang belum. Saat ini, di PIS juga tidak terdapat keluarga atau uang Sutiyoso. Kami hanya ingin mendukung dia sebagai presiden.

Bukankah Sutiyoso masih kurang populer? Padahal, sebagai parpol baru, PIS amat membutuhkan figur yang populer.

(Popularitas) Sutiyoso memang masih di bawah karena kampanyenya di tingkat akar rumput dan belum di tingkat nasional. Ini terjadi karena sekarang kami masih membentuk sistem untuk menjalankan program parpol, termasuk mendukung Sutiyoso. Desember 2008, sistem ini ditargetkan sudah terbentuk hingga tingkat RT. Januari-Maret 2009, kami baru kampanye di media massa. Dengan sistem yang sudah sampai tingkat RT, diharapkan program-program kami yang dihadirkan lewat iklan akan lebih mudah diterima masyarakat.

Berapa anggaran kampanye yang disiapkan PIS?

Dari DPP menyiapkan Rp 5 miliar. Mungkin akan bertambah karena ada bantuan dari masyarakat dan simpatisan.

Selain mendukung Sutiyoso, apa program unggulan PIS?

Ekonomi kerakyatan, sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945. Masyarakat ekonomi kecil menengah harus dapat dan mudah mencari kerja karena itu merupakan jalan utama bagi mereka untuk sejahtera. Untuk itu, program kewirausahaan perlu diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi. Dengan demikian, saat lulus, seorang mahasiswa akan berusaha menjadi pengusaha dan tidak mencari pekerjaan. Namun, pemerintah juga harus mendukung program ini, misalnya dengan memberi kemudahan dalam permodalan dan keringanan pajak.

Program itu juga sudah ditawarkan parpol lain?

Cuma realisasinya bagaimana? Ini yang akan dijelaskan oleh PIS hingga membedakannya dengan parpol lain.

Apa strategi PIS agar program itu dapat dipercaya dan menarik pemilih?

PIS ini parpol baru. Pengurusnya belum pernah terlibat di parpol lain. Kami menawarkan ke masyarakat, terutama mereka yang sekarang sudah tak percaya dengan parpol yang ada, untuk bersama-sama mengisi PIS guna menciptakan Indonesia yang baru. (M Hernowo)



Sumber : Kompas Cetak
Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1