ASTRID Ayudevi Darmawan merasakan dirinya seperti pulang ke rumah sendiri ketika beribadah haji. Tidak ada rasa asing, takut, dan khawatir. ”Rasanya seperti pulang ke rumah, kerasan,” kata mantan model itu.
Ketika berhaji pun ia merasa dimudahkan oleh Allah. Meski kadang jalan sendiri, ia tidak pernah tersesat atau bahkan diganggu orang. Ia juga tidak merasa takut meski banyak mendengar cerita tentang jemaah yang tersesat atau menjadi korban penipuan di Arab Saudi. Satu hal yang ia pegang yang membuatnya berani dan percaya adalah selalu pasrah dan hanya memikirkan Allah semata.
Astrid menunaikan rukun Islam kelima itu pada tahun 2005. Sebelumnya ia memang sudah berniat haji, tetapi belum ada biaya, eh ternyata tanpa diduga-duga ada yang menawarinya beribadah haji lewat program ongkos naik haji plus. Akhirnya berangkatlah ia.
Meski kondisi memungkinkan Astrid Darmawan berhaji lebih dari sekali, mantan model tahun 1990-an itu memilih berhaji hanya sekali. Astrid percaya ketika Allah memberikan aturan selalu ada maknanya, termasuk pula berhaji. ”Rukun Islam itu ada lima, salat wajib pun lima waktu. Tidak bisa lebih dari itu. Begitu pula haji, sekali sudah cukup,” kata Astrid, yang juga mantan perenang.
Oleh karena itu, kesempatan sekali itu ia gunakan sebaik-baiknya. Tidak memikirkan diri sendiri, tetapi benar-benar memikirkan Allah dan nabi-nabinya. Sebagai tamu Allah, seharusnyalah bersifat sopan, tidak memikirkan kepentingan duniawi.
”Jangan sampai kita juga disibukkan dengan doa-doa untuk kepentingan sendiri, tentang bagaimana karier, kehidupan, atau jodoh nanti. Kan, kita tamu Allah, jadi harus memikirkan Allah, Nabi Muhammad, Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar serta keluarganya,” kata Astrid, yang kini menjabat sebagai Kepala Cabang DKI Syariah Pondok Indah.
Penulis buku Al Quran The Ultimate Secret ini pun percaya Allah selalu memberikan apa yang diminta hamba-Nya. Tetapi, manusia pun harus tahu menempatkan diri.
Ia mencontohkan, dalam urusan perbankan seharusnya nasabah yang mempunyai penghasilan tetap setiap tahun mendapatkan pinjaman dengan sistem bagi hasil yang flat, tetapi masih ada juga yang memaksakan memakai bank konvensional yang sistem bunganya floating. ”Pendapatan peminjam kan tetap, jika kami kasih yang floating, berarti itu dzalim karena tahu bahwa ia hanya bisa membayar sekian setiap tahun,” kata Astrid. (nit)