Menkeu: Rupiah Cari Equilibrium Baru
Karyawan menghitung rupiah di tempat penukaran uang di kawasan Cikini, Jakarta, Kamis (13/11). Kebijakan Bank Indonesia yang mengatur pembelian dollar AS belum bisa meredam tekanan terhadap rupiah. Pada perdagangan kemarin rupiah ditutup melemah di posisi Rp 11.800 per dollar AS atau melemah 100 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Selasa, 25 November 2008 | 13:01 WIB

JAKARTA, SELASA - Plt Menko Perekonomian/Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan, saat ini nilai tukar rupiah tengah mencari titik equilibrium baru. "Kurs saat ini cari equilibirum baru, akan lebih cepat jika dibantu anda sekalian," kata Sri Mulyani dalam forum "Investor summit and capital market expo 2008" di Jakarta, Selasa (25/11). 

Dengan kurs saat ini yang mencapai tingkat di atas Rp 12.000 per dollar AS memang akan menyebabkan imported inflation."Dengan
nilai tukar yang melemah, Indonesia harus membayar impor yang lebih mahal," sebutnya.

Namun menurut Sri Mulyani, imported inflation akan sedikit terkompensasi oleh penurunan harga minyak dunia yang terjadi saat ini. "Harga komoditas turun termasuk harga minyak dunia yang diikuti dengan penurunan BBM, ini akan mendorong adanya slowing down pada inflasi," katanya.

Menurut dia, mata uang di seluruh dunia mengalami depresiasi  terhadap dolar AS sehingga seluruh dunia sebenarnya sedang mencari equilibrium.  
"Kondisi saat ini menunjukkan seakan-akan dollar AS menguat tetapi kalau dilihat dari kondisi perekonomian AS tidak mencerminkan kondisi yang menggembirakan," katanya.

Sri Mulyani menyebutkan, dollar AS saat ini sebenarnya juga tengah mencari equilibrium baru, perekonomian AS sedang menuju ke bentuk yang baru tetapi belum diketahui seperti apa bentuk barunya.

Menurut Menkeu, dalam kondisi perekonomian yang sampai saat ini masih diwarnai keringnya likuiditas, pemerintah berupaya menggelontorkan dana-dana dalam APBN untuk mendukung likuiditas di pasar. "Likuiditas itu untuk menggerakkan perekonomian, jangan sampai untuk spekulasi atau membeli valas yang tidak perlu," katanya.


EDJ
Sumber : Ant
Share on Facebook
A A A
Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
crossby @ Rabu, 26 November 2008 | 09:56 WIB
semakin banyak negara2 asing terutama AS membutuhkan Indonesia di semua sektor maka rupiah akan menguat...
agung @ Selasa, 25 November 2008 | 14:21 WIB
nilai kurs adalah "bubble" disaat nilai saham
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
17