BRASILIA, JUMAT - Kunjungan balasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Presiden Brasil Luiz Inacio Lula Da Silva sejak Selasa (18/11) membuahkan hasil yang sangat penting, yaitu disepakatinya jalinan kemitraan strategis guna meningkatkan hubungan kedua negara yang telah berusia 55 tahun. Kesepakatan kemitraan strategis itu dituangkan dalam nota kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Brasil yang ditandatangani wakil pemerintah Indonesia Menlu Hassan Wirajuda dan Menlu Brasil Celso Amorin di Palacio do Planalto Brasilia, Selasa (18/11).
Penandatanganan itu dilakukan setelah pertemuan bilateral Presiden Yudhoyono dan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula Da Silva di kantor Presiden Brasil tersebut. Selain nota kesepahaman mengenai kemitraan strategis, di hadapan kedua presiden itu juga ditandatangani kesepahaman mengenai kerjasama di bidang pertanian antara Mentan Anton Apriyantono dan Menteri Meksiko Reinolds Stephanes, dan kesepahaman untuk kerjasama di bidang energi yang ditandatangani Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Meksiko Edson Lubao.
Menlu Hassan Wirayudha dan Menteri Celso Amorin juga menandatangani kesepahaman mengenai kerjasama pengurangan kemiskinan. "Sudah waktunya Indonesia dan Brasil membangun kerangka dan dimensi baru dalam hubungan kedua negara," kata Presiden Yudhoyono saat jamuan santap siang resmi.
Menurut dia, Indonesia dan Brasil memiliki agenda yang sama dalam mengembangkan demokrasi, menjaga stabilitas politik, menjaga pertumbuhan ekonomi, meningkatkan ketahanan pangan dan energi, memerangi kemiskinan, dan menyelamatkan hutan hujan tropis serta memajukan perdamaian dunia. "Dengan semua ini Indonesia dan Brasil bukan saja mitra yang alami semata, tetapi juga mitra yang dapat memberikan kontribusi penting dalam mencari solusi terhadap berbagai isu-isu global," katanya.
Presiden mengharapkan kemitraan strategis ini akan semakin meningkatkan hubungan yang semakin bermakna dan kerjasama di berbagai bidang, terutama untuk saling membantu di saat krisis keuangan global saat ini. "Upaya ini semakin penting di tengah situasi krisis keuangan global yang memerlukan upaya kita bersama untuk mengatasinya. Saya melihat perlu untuk semakin memadukan potensi, keunggulan dan pengalaman kita masing-masing," katanya.
Menurut Presiden Yudhoyono, di masa depan, Indonesia dan Brasil sebagai negara dengan potensi pertanian yang besar bisa saling mempertukarkan dan saling melengkapi produksi masing-masing, sehingga nilai perdagangan yang dalam 9 bulan terakhir ini mencapai 1,7 miliar dolar AS ditingkatkan lagi. Sementara Presiden Lula dalam kesempatan itu mengharapkan peningkatan perdagangan dan hubungan kedua negara bisa bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedua negara.
"Tahun lalu nilai perdagangan mencapai 1,5 miliar dolar AS, tahun ini sekitar 2 miliar dolar AS dan tahun depan bisa 3 miliar dolar AS," katanya. Presiden Lula mengharapkan kemitraan strategis ini semakin membuat hubungan kedua negara semakin dekat dan semakin mengerti kebutuhan masing-masing negara. "Dengan kerjasama ini, saya yakin kedua negara setelah krisis ini semakin kuat dan bagus," katanya.
Perdagangan
Kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Brasil selama ini mencakup sektor-sektor yang penting, seperti industri ethanol, infrastruktur, pertanian, tekstil, dan beberapa bidang lainnya. Presiden Yudhoyono menjelang akhir kunjungannya ke Brasil bahkan mengharapkan produk ekonomi kreatif seperti batik juga bisa masuk ke Brasil. "Dan kalau dimulai dari batik, bisa dilanjutkan dengan produk-produk kreatif lainnya sehingga ekonomi kreatif ini yang merupakan suatu sumber ekonomi baru di negeri kita bisa kita pasarkan lebih luas lagi," katanya.
Di bidang pertanian, Presiden mengatakan bahwa Indonesia sangat ingin belajar banyak dari Brasil terutama dalam penelitian dan pengembangan bidang pertanian yang mampu mengangkat pertanian Brasil menjadi yang terbaik di dunia. "Selain perdagangan yang terkait komoditas, kita ingin belajar dari Brasil mengenai produktivitas utama kedelai yang kemarin telah dijelaskan Embrapa dan komoditas pangan lainnya. Kita ingin betul karena rakyat kita mengonsumsi tahu dan tempe dalam jumlah besar dan rata-rata produksi kita hanya 1,5 ton per hektare. Kita ingin meningkatkan bisa menjadi 2,5 ton per hektare," katanya.
Indonesia dan Brasil, juga sepakat untuk saling membantu dalam program pengurangan kemiskinan, karena adanya kesamaan program yang telah dijalankan seperti bantuan langsung ke masyarakat, pemberdayaan masyarakat dan pemberian kredit murah untuk modal yaitu KUR, sementara di Brasil ada program dompet keluarga, ada program kelaparan nol. "Kalau kita dalami sesungguhnya ini memiliki kemiripan yang ingin kita capai dengan berbagi pengalaman barangkali ada titik tertentu yang bisa dipertukarkan. Ini menarik karena brasil dengan GDP 1.568 miliar dolar AS, juga masih memiliki masalah kemiskinan dalam negerinya. Jadi tidak keliru kalau kita saat ini dengan gigih mengeluarkan anggaran menjalankan program-program untuk pengentasan kemiskinan," katanya.
Neraca perdagangan Indonesia-Brasil selama periode 2003-2005 menunjukkan angka defisit bagi Indonesia. Selanjutnya baru pada tahun 2006 dan 2007 Indonesia mengalami surplu s, masing-masing sebesar 111 juta dolar AS dan 99,6 juta dolar AS. Pada tahun 2007, ekspor Indonesia ke Brasil sebesar 786,4 juta dolar AS atau naik 25,6 persen dibanding 2006 yang sebesar 626,14 dolar AS.
Sementara nilai ekspor Indonesia pada periode Januari - Juni 2008 mencapai 484,5 juta dolar AS atau tumbuh 45,65 persen, setara dengan 0,81 persen dari total ekspor nasional. Jumlah penduduk Brasil tercatat sebesar 190 juta dengan PDB 1.568 miliar dolar AS atau pertumbuhan PDB 2,4 persen dan PDB per kapita 8.400 dolar AS, namun jumlah penduduk miskinnya tercatat sebanyak 22 persen.