Kearifan di Kampung Gebyok
Jumat, 21 November 2008 | 00:04 WIB

Sunardi (34) dengan tangkas memanjat pohon rambutan sambil membawa genter atau bambu kecil panjang dan keranjang untuk memanen rambutan. Buah rambutan yang terjangkau ia petik dengan tangan, sedangkan yang tidak terjangkau dengan genter.

Hasil petikan itu ia masukkan ke keranjang. Setelah keranjang itu dibawa turun, Sunardi dan istrinya sibuk mengikat buah-buah
rambutan itu.

Sunardi mengatakan, memetik rambutan itu ada caranya. Ketika memetik rambutan, jarak antara tangkai buah dengan titik petikan
sekitar 10 sentimeter. Pemetikan pun harus benar-benar mematahkan tangkai, bukan memelintir tangkai.

"Kalau tangkai buah melintir atau tidak patah, tangkai itu tidak akan berbuah lagi sehingga memengaruhi produksi tahun depan,"
katanya, Selasa (15/1).

Kehidupan dan aktivitas petani buah itu dapat dijumpai di Dusun Gebyok, Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Desa yang sebagian besar warganya bekerja sebagai petani buah itu belakangan ini menarik perhatian banyak orang dan komunitas.

Ketua RT 02 RW 03 Dusun Gebyok Supiyanto mengatakan, komunitas seniman Kota dan Kabupaten Semarang pernah residensi selama beberapa hari. Mereka mengajari anak-anak membuat kerajinan dari kayu bekas, teater, dan bermain musik bambu.

Mereka juga menggelar Marung Seni Nyawuk Kali. Kegiatan itu merupakan refleksi dari warga Gebyok yang menghargai dan mengakui air, tanaman, dan tanah, sebagai sumber hidup mereka.

Beberapa waktu lalu, siswa-siswi SMA Islam Sultan Agung 3 tinggal bersama penduduk Gebyok selama dua hari. "Teater Emka pun residensi selama beberapa hari untuk belajar teater alam. Mereka juga mementaskan teater dengan panggung utama
rumah warga," kata Supiyanto.

Pemerhati budaya Kota Semarang Gunawan Budi Susanto mengatakan, Dusun Gebyok mempunyai banyak potensi kearifan lokal. Transfer kearifan lokal itu terjadi melalui srawung antara warga dengan tamu yang datang.

"Dengan srawung di Gebyok, mereka dapat mengetahui profesi satu dengan lain, menghargai status orang, dan menghargai alam yang bagi warga Gebyok adalah pemberi kehidupan," katanya.

Warga Gebyok, ujarnya, juga menjunjung tinggi kejujuran. Jika buah yang dijual rasanya pahit, pasti dikatakan pahit. Jika buah itu
cacat, mereka tidak segan mengganti yang baru.

"Itulah etika dagang warga Gebyok. Etika itu didapat dari srawung dengan warga Gebyok," ujarnya. (HENDRIYO WIDI)



Sumber : Kompas Cetak
Share on Facebook
Nilai 4 A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
yuliansyah @ Jumat, 21 November 2008 | 01:17 WIB
menjujung kejujuran-nya, patut ditiru masyarakat Indonesia yg lainnya, terutama pemimpin2 bangsa yg tercinta.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
291