BEIJING, KAMIS - Pemerintah China mengumumkan serangkaian kebijakan pemotongan pajak untuk membantu industri tekstil menyusul krisis keuangan. "Tekstil adalah industri tradisional dan penting bagi China," kata PM Wen Jiabao, pada pertemuan pejabat pemerintah Rabu (20/11).
Pengembalian pajak ekspor untuk produk tekstil akan ditingkatkan menjadi 17 persen sebagai bagian dari keputusan itu, menurut koran 21st Century Business Herald milik pemerintah, Kamis. Tidak dikatakan kapan hal itu akan diumumkan.
Pemerintah mengatakan pemotongan pajak akan "menurunkan tekanan di biaya produksi" sejalan dengan langkah lain untuk membantu ekspor dan mengeliminasi berbagai pajak tidak spesifik lainnya.
Beijing juga berencana untuk meningkatkan akses kredit bagi UKM di sektor tekstil dan dukungan lain untuk melakukan moderniasi.
Pertemuan yang sama juga memutuskan memberikan subsidi kepada petani untuk membeli perlengkapan rumah tangga, dalam rangka meningkatkan potensi konsumsi daerah pedesaan. "Dalam beberapa bulan ini industri tekstil menghadapi situasi yang serius dan sulit diprediksi karena perubahan ekonomi di dalam dan luar negeri," menurut pemerintah.
Pada kuartal pertama tahun ini, sebelum krisis keuangan yang sebenarnya mulai terungkap, ekspor tekstil dabn pakaian jadi turun 11 persen menjadi 81,86 miliar dollar AS.
Anjloknya ekspor itu disebabkan meningkatkan persaingan dari negara Asia lain dan naiknya nilai tukar yuan, seiring dengan meningkatnya biaya produksi.
Pengumuman untuk memperluas pengembalian pajak muncul sebulan setelah China meningkatkan pengembalian pajak ekspor untuk sektor ini menjadi 14 persen dari 13 persen selama lebih dari seperempat barang di daftar tarif kepabeanan.
Sektor manufaktur padat karya China terhantam oleh kombinasi dari naiknya upah buruh, naiknya bahan baku, dan apresiasi mata uang China, yang sejalan dengan penurunan permintaan dari AS.