Demi Haji, Biaya Besar Pun Tak Jadi Soal
Petugas kesehatan mengambil sidik jari calon jemaah haji asal Banten di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (17/11). Mereka diterbangkan ke Jeddah keesokan harinya.
Video
Kamis, 20 November 2008 | 05:42 WIB

Niat mengalahkan segalanya. Demi menunaikan rukun Islam kelima, ibadah haji, banyak orang tak berhitung ongkos lagi. Jika tekad sudah bulat, selebihnya hanya Tuhan Yang Maha Tahu.

Bustoni, anggota jemaah haji asal Serang, Banten, misalnya. Semula ia mengira dana yang disiapkannya dalam tabungan sudah cukup, ternyata belum. ”Ongkos pergi haji (jemaah reguler) ternyata tidak hanya Rp 32 juta, tetapi bisa lebih dari Rp 50 juta per orang. Itu angka minimum,” kata Bustoni.

Bustoni yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang kelontong menghabiskan dana Rp 60 juta untuk berangkat naik haji. Hal itu karena, selain membayar ongkos naik haji sesuai yang ditetapkan pemerintah, biaya lain-lain juga ternyata tak sedikit.

Karena tekad sudah bulat, seekor sapi seharga Rp 5 juta dan sebagian sawahnya terpaksa dilego untuk mencukupi dana tunai yang sudah disiapkan. Ia berharap semua itu juga bisa diperolehnya lagi sepulang berhaji dengan kembali bekerja keras dan menabung. Pengharapan, ekspektasi, itulah yang memotivasi orang bekerja keras.

Syukuran atau sedekahan bagi jemaah di daerah tertentu adalah pos terbesar setelah biaya perjalanan ibadah haji. Jumlahnya sebenarnya bisa diatur, tetapi di kampung, tasyakuran bisa dihadiri 1.000 warga.

”Makan-makan tak hanya sekali, tetapi berkali-kali, mulai siang hari, malam hari saat pengajian, hingga bekal pulang, totalnya bisa Rp 20 juta dan uang itu tidak kembali artinya tanpa sumbangan,” kata Bustoni.

Salah satu anggota jemaah yang mengeluarkan dana cukup besar adalah Maqin (44) asal Rancaekek, Bandung, Jawa Barat. Maqin berangkat bersama istri dan ayah. ”Untuk syukuran paling tidak menghabiskan Rp 10 juta,” ujarnya di terminal haji Bandara Soekarno- Hatta.

Menurut dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung yang tergabung dalam kelompok terbang 26 ini, tasyakuran memiliki arti penting.

Ini juga dirasakan jemaah haji lainnya. Mereka menganggap pada acara ini calon haji dan warga yang diundang bisa saling mendoakan. Yang berangkat berhaji didoakan agar mabrur hajinya dan selamat kembali ke Tanah Air. Sebaliknya, tamu undangan didoakan agar suatu saat bisa menyusul ke Tanah Suci.

Menurut Maqin makanan yang layak bagi tamu undangan perlu dihidangkan dengan harapan kegembiraan yang ia rasakan bisa dinikmati pula kerabat dan tetangganya.

Hal sama juga dilakukan Ahmad Effendi (41). Ahmad yang berprofesi pelaut dan pergi ke Tanah Suci bersama istrinya ini mengundang 300 orang untuk hadir dalam acara yang ia sebut sebagai ”selamatan terakhir” sebelum berangkat berhaji.

Biaya besar, tetapi penting dikeluarkan adalah biaya bimbingan haji. Perlengkapan haji, seperti baju ihram atau kaus kaki, ternyata juga menyita cukup biaya setidaknya butuh minimal tiga set, terutama perempuan.

Tentu saja yang tak boleh ”salah hitung” adalah biaya selama di Tanah Suci. Banyak anggota jemaah yang berupaya membawa uang banyak karena cemas kalau peristiwa terlambatnya katering jemaah terulang seperti sebelumnya. Bawa uang dan bawa makanan cadangan saat wukuf adalah tindakan arif.

Oleh-oleh

Niin Bin Udin, anggota jemaah asal Jakarta Utara, mengakali biaya hidup di Tanah Suci dengan membawa bekal dari rumah. Beras 10 kg dengan lauk ikan asin sudah dipak dalam kopernya. ”Tak bawa minyak goreng tidak masalah. Saya sudah bawa penanak nasi elektrik. Kalau sudah lapar, orang tak peduli bagaimana rasanya,” kata Niim.

Biasanya sepulang haji, ada lagi syukuran kalau kondisi keuangan masih memungkinkan. Tetapi, ada pula jemaah yang hanya membagi oleh-oleh. Oleh- oleh meski bagian yang tidak penting, tetapi tidak lengkap rasanya pulang dari beribadah haji tanpa membawa oleh-oleh, apalagi air zamzam dan kurma yang selalu dinanti keluarga, tetangga, hingga rekan kerja.

Tetapi, Ahmad Effendi, misalnya, dengan alasan ukuran bagasi kecil, menyiasatinya dengan membeli sebagian oleh-oleh di Tanah Air. ”Oleh-oleh sudah siap sebelum berangkat. Tinggal dibagikan saja,” katanya.

Prinsipnya, banyak oleh-oleh yang dibawa pulang jemaah haji, toh sama saja dengan yang dijual di Tanah Abang, misalnya. Toh semua itu juga berasal dari Madinah, Mekkah, Arab Saudi.

”Intinya biaya kecil-kecil itu kalau dikumpulkan bisa jadi besar sekali dan itu tidak terasa,” ujar Hapsari yang ditemui saat berbelanja oleh-oleh haji di pasar Tanah Abang.

Tak mengherankan jika Ahmad bin Kemen, calon anggota jemaah haji asal Pandeglang, Banten, menghabiskan dana Rp 200 juta untuk keperluan berangkat haji beserta kedua orangtuanya, Kemen (89) dan Abrah (75). Padahal, mereka jemaah reguler. Beruntung, Kemen punya tabungan yang cukup. Jika tidak, sapi atau sawah pun bisa dilego untuk memenuhi ”kebutuhan haji” atau ia harus menunggu bertahun-tahun lagi baru bisa berangkat.



Sumber : Kompas Cetak
Share on Facebook
A A A
Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
S. Adam @ Kamis, 20 November 2008 | 08:49 WIB
Mudah-mudahan Arab Saudi bersedia menerima rupiah (bukan dollar) untuk biaya naik haji.
Abdan Munawir @ Kamis, 20 November 2008 | 06:24 WIB
Tasyakuran tidak harus dirayakan. Mengundang orang kalau dimaksudkan dengan makan makan shg menghabiskan dana banyak, menurut saya kurang bermanfaat. Tetapi kalau diniyatkan sebagai syiar agama, saya kira itu baik saja. Islam mengajarkan hal hal yang sederhana, semua orang harusnya dapat mengukur dari kesederhanaan tsb. Kedudukan ibadah haji sanagat istimewa: dia yang mabrur beroleh pahala surga.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1