Anwar Nasution: Saya ini Seperti Laskar Pelangi
Anwar Nasution
Rabu, 19 November 2008 | 23:09 WIB

JAKARTA, RABU - Ketua BPK Anwar Nasution mengaku tidak pernah dendam kepada Antony Zeidra Abidin maupun anggota DPR lainnya, karena tidak terpilih menjadi Gubernur BI pada pemilihan Gubernur BI oleh DPR pada tahun 2003. Anwar mengaku cukup puas menduduki jabatan Ketua BPK. Bahkan, ia menyebut dirinya sebagai Laskar Pelangi.

Dalihnya, jabatan Ketua BPK lebih prestisius ketimbang jabatan Gubernur BI maupun Menteri Keuangan. Dengan menjabat sebagai Ketua BPK, Anwar bisa mendarmabhaktikan dirinya untuk transparansi keuangan sekaligus pemberantasan korupsi di tanah air.

Jabatan setinggi Ketua BPK, tidak pernah diangan-angankan oleh Anwar. Apalagi, dirinya berasal dari anak keluarga miskin di Sipirok, Tapanuli Selatan, 5 Agustus 1942. "Saya ini seperti Laskar Pelangi. Datang dari keluarga miskin, dan kemudian menjadi Ketua BPK," ujar Anwar saat bersaksi untuk terdakwa anggota DPR (1999-2004) Hamka Yamdu dan Antony Zedira Abidin di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (19/11).

Anwar membantah bahwa dirinya disebut Antony menjadi otak pengungkapan kasus aliran dana YPPI Bank Indonesia, karena tidak terpilih menjadi Gubernur BI pada pemilihan Gubernur BI oleh DPR pada tahun 2003. "Kalau saya dikatakan sebagai otak pengungkapan pencairan dana YPPI, saya katakan salah. Ini temuan tim audit BPK saya tidak turut campur. Tim audit yang merancang sendiri, menentukan metode, membuat analisa dan mengeluarkan opini hasil pemeriksaan, " kata Anwar.

Mantan Deputi Gubernur BI Senior ini juga membantah kalau dendam dengan Antony. "Mengenai balas dendam, itu tidak benar," tegas Anwar. Anwar yang biasanya tampil meledak- ledak, lantas menjelaskan secara rinci tentang dirinya di persidangan yang diketuai hakim Masrurdin Chaniago tersebut.

Menurut Anwar, setelah dirinya tidak lagi menjadi Deputi Gubernur BI senior pada tahun 2004, dirinya dipercaya menjadi Guru Besar di sebuah Universitas di Kyoto, Jepang. Namun sebelum dirinya berangkat ke Kyoto, ia ditawari Presiden Megawati dan Ketua DPR RI Akbar Tandjung untuk menjabat Ketua BPK RI.

"Menjadi Guru Besar di Kyoto itu, gajinya jauh lebih besar dari Ketua BPK. Namun karena saya berpikiran bahwa dengan menjadi Ketua BPK bisa membantu memperbaiki kondisi negara ini dengan cara mewujudkan transparansi dan membantu memberantas KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), maka saya batalkan ke Kyoto," tegasnya.

Bagi Anwar, menjadi Ketua BPK adalah kebanggaan yang tak pernah ia mimpikan sejak kecil. Baginya, jabatan Ketua BPK ini lebih tinggi dari Gubernur BI ataupun Menteri Keuangan. "Jadi kalau saya dikatakan balas dendam karena tidak menjadi Gubernur BI, itu tidak benar. Saya dapat yang lebih dari yang saya cita-citakan yakni menjadi Ketua BPK," ujarnya santai.


Yuli Sulistyawan
Sumber : Persda Network
Share on Facebook
A A A
Ada 8 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
HOHO @ Selasa, 25 November 2008 | 17:17 WIB
"Laskar" adalah prajurit sukarela yang tanpa bayar dan dengan sadar serta tanpa paksaan apapun sehingga yang bersangkutan sengaja mengabdikan dirinya untuk hidup dan mati serta setia demi kemajuan dan kepentingan bangsa
rusly @ Selasa, 25 November 2008 | 12:36 WIB
mungkin lebih tepatnya: laskar bosnya koruptor pak
anton @ Kamis, 20 November 2008 | 15:20 WIB
Saya dukung anwar nasution... Terlepas dia sakit hati apa tidak, yang penting korupsi harus dilanjutkan.
anton @ Kamis, 20 November 2008 | 12:37 WIB
Saya dukung anwar nasution... Terlepas dia sakit hati apa tidak, yang penting sekarang kebobrokan BI dan DPR terbongkar Hidup anti korupsi Jayalah Indonesia ku
yoseph @ Kamis, 20 November 2008 | 11:42 WIB
kayaknya sich sikap pa anwar nasution ugal-ugalan, ini kah pimpinan "BPK" arogan, angkuh dan sombong??? yang jelas mas anwar harus bertanggung jawab terhadap kasus dana 100 miliar bank Indonesia, karena waktu itu mas anwar menjabat direksi BI...betul khan?
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1