Stok Elpiji Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Kritis
Pekerja mengangkut tabung elpiji kosong 12 kilogram di salah satu penyalur elpiji Pertamina di kawasan Cinangka, Depok, Jawa Barat, Rabu (25/6). Lebih dari 2.000 tabung elpiji kosong akan diisi ulang di LPG Filling Plant Pertamina, Tanjung Priok, untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Depok dan sekitarnya.
Rabu, 19 November 2008 | 20:40 WIB

SURABAYA, RABU - Hingga September 2008, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat status persediaan liquid petroleum gas atau elpiji di tiga region Indonesia meliputi kawasan Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara kritis. Sedangkan stok elpiji di dua region lain yaitu Sumatera dan Kalimantan aman.

Menipisnya persediaan elpiji terjadi di region II yang meliputi wilayah Jabodetabek, Kalimantan Barat, Kerawang, Purwakarta, Cianjur, Sukabumi, Banten, Bandung, Jawa Barat Selatan, Cirebon, Majalaya, dan Kuningan. Di kawasan ini, permintaan elpiji mencapai 97.500 metrik ton atau sama dengan persediaan yang ada sebanyak 97.500 metrik ton.

Sementara itu, stok elpiji di region III yang meliputi Jawa Tengah bagian utara, Jawa Tengah Selatan, dan Yogyakarta juga terbatas. Persediaan elpiji di sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta sebesar 22.500 metrik ton namun konsumsi yang ada hanya mencapai 21.834 metrik ton.

Hal serupa terjadi pula di region IV yang meliputi Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Persediaan elpiji di daerah tersebut mencapai 39.500 metrik ton sedangkan konsumsi elpiji mencapai 25.957 metrik ton.

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Saryono Hadiwidjoyo, Rabu (19/11) di sela Sosialisasi Pengalihan Minyak Tanah ke Gas di Surabaya mengatakan, dari sisi suplai, kelangkaan elpiji disebabkan beberapa hal, antara lain keterbatasan jumlah dan kapasitas stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE) serta jalur distribusi yang terganggu.

"Dari sisi permintaan, kelangkaan bisa disebabkan meningkatnya konsumsi elpiji dari masyarakat sehingga pasokan dan permintaan tidak berimbang," ujarnya.

Untuk mengatasi kelangkaan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjuk Pertamina untuk menjadwalkan impor secara tepat. Selain itu , kapasitas produksi elpiji di Tanjung Uban yang awalnya hanya 60 persen ditingkatkan menjadi 75 persen atau sebesar 75.000 metrik ton.

"Agar pasokan tak terhenti, pelayanan pengisian elpiji juga dioptimalkan hingga 24 jam. Selain itu, tabung pengisian juga ditambah," kata Saryono.

Belum siap

Sosiolog Universitas Airlangga Bagong Suyanto mengungkapkan, ketika minyak tanah berangsur-angsur mulai menghilang, masyarakat ternyata masih harus antre berjam-jam untuk memperoleh minyak tanah yang semakin terbatas. Di saat yang sama, pasokan elpiji seringkali terhambat.

"Di satu sisi masyarakat belum siap terhadap kebiasaan baru memakai elpiji, di sisi lain ketersediaan elpiji pun kadang terkendala. Masyarakat akhirnya enggan dengan tawaran pemerintah karena yang muncul justru keragu-raguan," ujarnya.

Di Surabaya, Pejabat Asisten Manajer Eksternal Relation PT Pertamina Unit Pemasaran V Eviyanti R mengatakan, konversi minyak tanah ke elpiji baru mencapai 50 persen hingga 60 persen. K ekhawatiran masyarakat memakai tabung elpiji merupakan penyebab utama masyarakat enggan memakai elpiji.

 


ABK
Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1