Budiman: Soeharto Guru Bangsa? Menyesatkan
Lukisan almarhum mantan presiden Soeharto yang terbungkus plastik di ruangan Humas RSPP, Jakarta karya R. Djoko Ketawang.
Jumat, 14 November 2008 | 15:06 WIB

JAKARTA, JUMAT — Kontroversi iklan politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang muncul saat peringatan Hari Pahlawan masih berlanjut. Hal yang paling mengundang pro kontra adalah penyebutan mantan Presiden Soeharto sebagai guru bangsa.

Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Budiman Sudjatmiko, mengatakan, tak ada masalah penggunaan Soeharto dalam iklan tersebut. Masalahnya, penguasa Orde Baru itu dijadikan sebagai guru bangsa. Menurut Budiman, guru bangsa jauh memiliki makna, di mana perilakunya harus menjadi inspirasi moral bagi setiap anak bangsa.

"Jangan lupakan korupsinya, kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pada masa kekuasaannya. Masa yang tadinya dijelek-jelekkan tiba-tiba dijadikan malaikat. Jadikan saja manusia biasa," kata Budiman dalam diskusi "Iklan Politik, Tokoh Nasional Milik Siapa?" di DPR, Jumat (14/11).

Bagi PKS, penggunaan gambar Soeharto tidak terlalu relevan untuk partai tersebut. Wakil Sekjen PKS Fachri Hamzah mengatakan, PKS tidak menjual tokoh, melainkan ingin memecah sekat-sekat politik aliran yang selama ini membeku. Lalu, mengapa Soeharto? "Kita tidak bisa melupakan jasa Pak Harto. Sepuluh tahun pertama kekuasaannya, jangan dilupakan bahwa dia berprestasi, tidak ada kejahatan yang dilakukannya. Kami ingin ada rekonsiliasi. Dia mengajarkan kita, keburukan seperti apa, kebaikan seperti apa," ujar Fachri.

"Rekonsiliasi akan tetap terjadi tanpa menjadikannya sebagai guru bangsa. Natsir bersih, Ahmad Dahlan bersih, tapi bagaimana PKS melawan arus bahwa Pak Harto adalah guru bangsa? Terlalu kontroversial, tidak proporsional menempatkan dia menjadi guru bangsa. Penempatan Pak Harto sebagai guru bangsa, menyesatkan," timpal Budiman.

Senada dengan Budiman, Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Matahari Bangsa (PMB) Yusuf Warsyim juga menyatakan tak sepakat dengan dijadikannya Soeharto sebagai guru bangsa. Menurutnya, Soeharto punya hutang permasalahan bangsa yang belum diselesaikannya.

"Tindakan represifnya tidak bisa kita lupakan. Benar, kita melakukan rekonsilias, tapi itu merupakan pembodohan. Semestinya tidak menempatkan Soeharto sebagai guru bangsa. Tapi saya tahu bahwa iklan politik adalah jualan jadi tidak bisa jujur," ujar Yusuf.


Inggried Dwi Wedhaswary
Share on Facebook
Nilai 4.5 A A A
Ada 66 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
parno @ Sabtu, 13 Desember 2008 | 22:34 WIB
Memberi maaf memang lebih sulit dilakukan, tapi tidak memberi maaf dan selalu mengungkit keburukan orang adalah aib bagi kita sendiri. Bangsa ini tidak dibangun untuk saling menjelekkan, santun dalam etika itu yang coba diwacanakan, jadi nggak perlu cemas bung, bersiap untuk 2009, I love Indonesia
gunawan @ Minggu, 23 November 2008 | 15:39 WIB
yang mengatakan bahwa soeharto tidak tepat dikatakan sebagai guru itu atas dasar apa, dia punya kwalitas apa, apa yang sudah diberikan kepada bangsa oleh orang tersebut dengan menilai seperti itu, saya secara pribadi sangat setuju soeharto sebagai pahlawan, memang dia pahlawan, apa kita angkat juga sdr budiman sujatmiko sebagai pahlawan, he he he, lutju kalee
udin @ Sabtu, 22 November 2008 | 12:51 WIB
PKS merupakan partai radkal dan panatisme, bagaimana rakyat mau memilh sekarang zamannya bagaimana membangun negara bukan politik aliran.
Aghori @ Rabu, 19 November 2008 | 23:30 WIB
duuhh.. banyak pemimpin partai politik yang masih bodoh dan bersifat seperti bunglon.. kasian ..rakyat indonesia
Didi @ Rabu, 19 November 2008 | 18:57 WIB
tidak baik kalau kita hanya mengungkapkan sisi jelek orang lain tanpa memperlihatkan sisi baik yang telah dilakukan, itu namanya munafik dan menyesatkan orang lain.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1