Laporan Wartawan Kompas Suhartono
JAKARTA, RABU — Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda, Junus Effendi Habibie, menilai gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) di negeri Belanda sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan lagi. Sebab, aktivis RMS yang dulu bekas menjadi tentara pendudukan Belanda di Indonesia, KNIL, sekarang sudah uzur alias tua.
"Yang ada sekarang adalah anak-anak RMS generasi ketiga dan keempat yang sudah menjadi orang-orang Belanda totok. Jadi, mereka tidak tahu lagi seperti kampung halamannya di Ambon sana," tandas Habibie, menjawab pers, seusai mendampingi Wapres Kalla menerima Menteri Perekonomian Belanda Maria JA Van Hoeven di Istana Wapres, Jakarta, Rabu (12/11) siang.
Menurut Habibie, RMS dan keturunannya di Belanda itu ada empat generasi. "Generasi pertama RMS adalah mereka yang dulu berkerja untuk kepentingan Belanda dengan cara menjadi tentara KNIL. Jumlahnya ada 15.000 orang, dan sekarang mereka sudah tua semunya," kata Habibie.
Generasi kedua, tambah Habibie adalah kelompok RMS yang hanya tinggal memiliki mimpi buruk tentang Maluku. "Mereka berada di usia yang tanggung dan tidak mempunyai akses lagi ke Ambon," lanjutnya. "Sekarang ini, generasi ketiga dan generasi yang keempat, yang sebenarnya sudah menjadi orang-orang Belanda. Mereka lahir di negeri Belanda sehingga tidak tahu lagi seperti apa Ambon itu," jelas Habibie.
Dalam kesempatan itu, Habibie membantah kalau kebijakan politik luar negeri Belanda bersifat standar ganda, yaitu di satu sisi mendukung negara Kesatuan RI, namun di sisi lain memberikan ruang "hidup" bagi keturunan RMS di Belanda. "Saya juga sanksi kalau senjata ilegal yang masuk ke Ambon berasal dari Belanda. Saya kira itu bukan. Tetapi, itu penyelundupan," ujar Habibie, lagi.