Dubes Belanda Nilai RMS Tak Perlu Lagi Dikhawatirkan
Rabu, 12 November 2008 | 13:00 WIB

Laporan Wartawan Kompas Suhartono

JAKARTA, RABU — Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda, Junus Effendi Habibie, menilai gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) di negeri Belanda sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan lagi. Sebab, aktivis RMS yang dulu bekas menjadi tentara pendudukan Belanda di Indonesia, KNIL, sekarang sudah uzur alias tua.

"Yang ada sekarang adalah anak-anak RMS generasi ketiga dan keempat yang sudah menjadi orang-orang Belanda totok. Jadi, mereka tidak tahu lagi seperti kampung halamannya di Ambon sana," tandas Habibie, menjawab pers, seusai mendampingi Wapres Kalla menerima Menteri Perekonomian Belanda Maria JA Van Hoeven di Istana Wapres, Jakarta, Rabu (12/11) siang.

Menurut Habibie, RMS dan keturunannya di Belanda itu ada empat generasi. "Generasi pertama RMS adalah mereka yang dulu berkerja untuk kepentingan Belanda dengan cara menjadi tentara KNIL. Jumlahnya ada 15.000 orang, dan sekarang mereka sudah tua semunya," kata Habibie.

Generasi kedua, tambah Habibie adalah kelompok RMS yang hanya tinggal memiliki mimpi buruk tentang Maluku. "Mereka berada di usia yang tanggung dan tidak mempunyai akses lagi ke Ambon," lanjutnya. "Sekarang ini, generasi ketiga dan generasi yang keempat, yang sebenarnya sudah menjadi orang-orang Belanda. Mereka lahir di negeri Belanda sehingga tidak tahu lagi seperti apa Ambon itu," jelas Habibie.

Dalam kesempatan itu, Habibie membantah kalau kebijakan politik luar negeri Belanda bersifat standar ganda, yaitu di satu sisi mendukung negara Kesatuan RI, namun di sisi lain memberikan ruang "hidup" bagi keturunan RMS di Belanda. "Saya juga sanksi kalau senjata ilegal yang masuk ke Ambon berasal dari Belanda. Saya kira itu bukan. Tetapi, itu penyelundupan," ujar Habibie, lagi.


Suhartono
Share on Facebook
A A A
Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Mancung @ Jumat, 14 November 2008 | 20:03 WIB
Hah,Kita ni Permerintah Kekerasaan bukan permerintah kesatuaan lagi lihat aja tim-tim kerusuhan di ambon. Indonesia Mengapain si? pejabat pejabat makan enak orang yg biasa makan pasir! apalagi dubes belanda makan enak enak , di belanda makan menu ama orang seperti di amerika. kalo orang Maluku mau berdiri sendiri kastingal aja. kalo orang tidak suka lagi mau apa lagi?mau paksa? Yg penting kita ni semua di indonesia makan pasir yaaaaa hahah ama telor kepiting!! wha haha tempe uda habis.
nurul huda @ Rabu, 12 November 2008 | 14:39 WIB
Dah jangan kemari lagi bikin susah orang sini aja, disana kan lebih enak ngapain lagi kemari. kalau perlu bawa duit kemari bukan bawa kerusuhan nanti gw gibas loe
wilson @ Rabu, 12 November 2008 | 13:39 WIB
Saya juga berpendapat bahwa RMS tidak perlu dikhawatirkan, pentolan RMS (genarasi tua) sudah tidak mempunyai power lagi bahkan fisiknya saja sudah gampang tumbang ditiup angin. "RMS" yang ada di Indonesia justru harus mendapat perhatian yang sangat serius karena "RMS" itu dimaksud adlah Rakyat Makin Sengsara. Ini lah menjadi tugas pemerintah dan kita semua.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
1