YOGYAKARTA, JUMAT - Angin kencang yang merobohkan puluhan pohon dan memorak-porandakan genting di sejumlah gedung, di sekitar Boulevard kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Jumat (7/11), sekitar pukul 14.45 disebabkan oleh perbedaan tekanan udara di permukaan tanah.
Staf Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Agus Triyanto, menjelaskan, berdasar keterangan para saksi dan arah robohnya pepohonan, besar kemungkinan bencana itu disebabkan oleh angin kencang, bukan puting beliung.
"Kalau puting beliung kan ada pohon yang terangkat. Nah, yang ini kan hanya roboh," ujarnya. Dari pantauan, pohon-pohon yang roboh umumnya mengarah ke utara, termasuk yang berukuran besar. Namun, ada pula sebuah pohon beringin di utara Gelanggang Mahasiswa UGM yang roboh ke selatan.
Agus menjelaskan, angin kencang seperti ini biasa disebut down draff atau pelepasan massa udara dari awan cumulus nimbus (CB) ke tanah. Gerakan angin yang vertikal menghempas keras permukaan tanah yang sejak siang tersinari matahari.
"Kebetulan, sepanjang siang, di Yogyakarta tekanan awan CB berada di atas kampus UGM. Demikian pula tekanan udara di atas permukaan tanah, paling kecil berada di sekitaran UGM," jelasnya.
Sementara itu, hingga pukul 17.40, sebagian besar pepohonan yang tumbang belum disingkirkan. Sejumlah ruas jalan di boulevard UGM pun masih tertutup, seperti perempatan Jalan Kaliurang atau barat daya gedung Graha Sabha dan jalan sebelah selatan Gama Book Store.
Beberapa mobil pemadam kebakaran dari Kota Yogyakarta dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Yogyakarta nampak datang ke lokasi.
Angin kencang yang baru kali pertama terjadi di Yogyakarta selama musim penghujan kali ini juga mematikan lampu lalu lintas, salah satunya di perempatan Toko Buku Gramedia di Jalan Sudirman. Sejumlah polisi terpaksa turun tangan mengatur lalu lintas. Sejumlah genting di teras Toko Buku Gramedia juga terlepas oleh angin.