"Empat Mata" Berhenti, Tukul Kehilangan Rp 2,4 Miliar
Tukul Arwana
Jumat, 7 November 2008 | 05:54 WIB

Terkait dengan dihentikannya penayangan program Empat Mata di Trans7, entertainer Tukul Arwana belum tahu perkembangan nasib acara yang dipandunya itu, apakah nantinya akan dilanjutkan atau benar-benar dihentikan selamanya.

”Sampai hari ini saya belum dapat kabar apa-apa. Mungkin lebih pas tanyakan langsung sama Trans7,” ujar Tukul. Ia mengaku sedang santai-santai di rumahnya. Dengan dihentikannya sementara Empat Mata, pemilik nama asli Tukul Riyanto itu tidak memungkiri honornya Rp 20 juta per episode yang sedianya bakal memenuhi kantongnya, otomatis terhenti alias ikutan menguap.

”Dalam perjanjiannya memang ada klausul yang menyebutkan apabila terjadi  hal-hal seperti sekarang ini (dihentikan) disebabkan adanya pihak ketiga dan termasuk dalam force majeur, honor tidak dibayar. Jadi, memang tidak dibayar,” kata Tukul.

Hingga sekarang Tukul telah memandu Empat Mata selama 2,5 tahun dan telah tampil dalam lebih dari 600 episode. Kontrak kerjanya selama ini diperbarui setiap tahun dan sekarang masuk tahun ketiga.

Meski demikian, pria berambut cepak ini merasa tidak kecewa kalau honornya mencapai Rp 400 juta selama sebulan ke depan (5 episode x 4 minggu x Rp 20 juta) akhirnya melayang dengan dihentikannya program Empat Mata.

Untuk tahun ini Empat Mata sudah jalan enam bulan. Jika penghentian yang cuma sebulan berlanjut hingga enam bulan ke depan (acara dihentikan sama sekali), dalam perhitungan kasar, Tukul mengalami potential lost pemasukan sebesar Rp 2,4 miliar. ”Saya sama sekali tidak masalah. Itu berarti bukan rezeki saya. Saya yakin Tuhan tidak tidur dan akan selalu memberi rezeki lewat jalan yang lain kepada umatnya. Jadi, santai saja Mas,” katanya.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan yang pasti dari pihak Trans7 apakah acara Empat Mata bakal diteruskan atau dihentikan sama sekali.

Seperti diberitakan, acara Empat Mata diminta untuk dihentikan selama sebulan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Selasa (4/11). Acara yang tayang setiap hari Senin-Jumat pada pukul 21.30 itu berhenti tayang sejak Selasa (4/11) malam.

Acara ini dinilai telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Penyiaran, yakni dalam episode yang menampilkan Sumanto, si pemakan mayat, yang juga menampilkan adegan vulgar, yakni bintang tamu yang makan kodok hidup-hidup (bukan Sumanto yang makan kodok, Warta Kota, 4/11).

Ketua KPI Pusat Prof Sasa Djuarsa Djuarsa mengatakan, ”Keputusan itu diambil setelah sebelumnya, program tersebut telah menerima surat teguran dari KPI Pusat sebanyak tiga kali, yaitu tanggal 5 Mei, 27 September, dan 25 Agustus 2008. Maka dengan ini kami meminta kepada Trans7 untuk menghentikan tayangan tersebut.” (ign)

 



Share on Facebook
Nilai 3.6 A A A
Ada 31 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
eva @ Selasa, 25 November 2008 | 11:50 WIB
aduh....jgn dihentikan dong acara empat matanya, soalnya gw bt klo ngeliat penggantinya empat mata yg skrg. yg dibawain acaranya sama parto..sumpah garinks bgt.boleh lah dikasih teguran..tp please mas tukul harus tampil lagi...ini hiburan tiap malam gw satu2nya abis pulang kerja...ngeliat tukul lucu tau...
Hardy @ Jumat, 7 November 2008 | 21:06 WIB
yah jangan dihentikan donk... kan itu film kesayangan gue :((
dany @ Jumat, 7 November 2008 | 19:23 WIB
masa pertumbuhan mas tumbuh(tukul) sdh lwt..
hadi @ Jumat, 7 November 2008 | 18:47 WIB
sdh tayang 2,5 thn kok baru pada nyadar ya kalau konsep acara ini terlalu bodoh ? keciaaaannn deeehhhh
udin @ Jumat, 7 November 2008 | 16:22 WIB
Saya termasuk senang nonton 4 mata daridulu... cuma pas melihat adegan makan kodok tersebut emang sudah sangat keterlaluan... konsep nya terlalu bodoh... saya dukung KPI memberhentikan acara ini..
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
87