Trowulan, Laboratorium Arkeologi Paling Lengkap
Seorang peneliti membersihkan bagian bangunan berupa kanal air peninggalan Kerajaan Majapahit di situs Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (6/8). Selain kanal air, ditemukan pula sumur dan sejumlah artefak, seperti pecahan tembikar, logam, dan batu bata dalam ukuran berbeda-beda.
Minggu, 2 November 2008 | 14:33 WIB

Laporan wartawan Kompas Yurnaldi

TROWULAN, MINGGU -- Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur, akhir-akhir ini menjadi subyek penelitian menarik para arkeolog. Para arkeolog dan mahasiswa arkeologi dari Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Udayana, dan Universitas Gadjah Mada membentuk tim terpadu beranggotakan 100 orang untuk meneliti situs itu.

Arkeolog dan peneliti dari Universitas Indonesia Heriyanti Hari Oentoro Dradjat mengatakan, dari penelitian selama satu bulan, diperkirakan Trowulan adalah pusat Kerajaan Majapahit. Sementara situs Kedaton diasumsikan sebagai Keraton Kerajaan Majapahit. Ditemukan banyak artefak di sana. "Berdasar penggalian 10 hari lalu diperoleh gambaran, di seputar Kedaton ditemukan banyak artefak. Hasil penelitian akan dipublikasikan Desember mendatang, karena saat ini masih dalam pengolahan. Analisisnya masih perlu waktu," kata Heriyanti.

Menurut Heriyanti, Trowulan merupakan bukti otentik kerajaan Hindu-Budha yang merupakan suatu kota. Dengan demikian, Trowulan merupakan laboratorium arkeologi yang paling lengkap.

Sedangkan Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Jawa Timur I Made Kusumajaya mengatakan, luas Kota Majapahit semula diperkirakan 4 x 5 km persegi, namun penelitian oleh Nurhadi Rangkuti mendapati luas Kota Majapahit ternyata 9 x 11 km persegi. "Di luar batas sakral itu masik banyak ditemukan sisa-sisa aktivitas manusia masa lalu. Setiap jengkal banyak ditemukan peninggalan seperti tembikar, keramik, dan uang yang berlaku di era Majapahit," jelasnya.

Terakhir, lanjutnya, ditemukan sebuah kaki candi. Ini sangat istimewa, karena kaki candinya berukir dan terbuat dari bata dengan teknik pembakaran yang luar biasa. "Bata-bata yang digunakan untuk membangun candi-candi di Kerajaan Majapahit sampai sekarang masih kuat, padahal dulu belum ada semen," katanya.

Dengan banyaknya ditemukan artefak dari China, Jepang, dan Thailand, suatu bukti bahwa Kerajaan Majapahit memiliki hubungan dagang dengan ketiga negara itu yang berjalan baik.


Yurnaldi
Share on Facebook
Nilai 4.2 A A A
Ada 5 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
usay @ Sabtu, 15 November 2008 | 11:39 WIB
mulai dari sekarang instansi terkait harus memikrkn jga msyarakt sekitar spya gak ada konflik kepentingan.win222 soltion laah...,
bahar @ Sabtu, 8 November 2008 | 20:09 WIB
jangan2 mau bangun mall kali.......
dita @ Senin, 3 November 2008 | 19:04 WIB
ternyata bisa juga bangsa ini menghargai peninggalan sejarah, atau krn lokasinya ga cocok buat dibangun property..?
lie @ Senin, 3 November 2008 | 17:29 WIB
pls read
aliens @ Minggu, 2 November 2008 | 21:25 WIB
ayo arkeolog indonesia berjuang terussssssssss!!!!!!guanya si buta di teliti juga tuh,,,,,,,
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
55