Anak-anak Tak Lagi Kenal Permainan Tradisional
Anak-anak memainkan gasing khas DI Yogyakarta dalam Gelar Budaya Lampung di Lapangan GOR Saburai, Bandar Lampung, Kamis (19/6). Sebagai salah satu permainan tradisional, gasing di Indonesia memiliki banyak varian sesuai jumlah suku yang ada. Permainan ini sekarang nyaris punah sehingga perlu dilestarikan.
Rabu, 22 Oktober 2008 | 21:07 WIB

BOROBUDUR, RABU--Permainan tradisional anak yang sesungguhnya memiliki nilai-nilai pendidikan kini cenderung sudah tidak dikenal lagi oleh kalangan anak-anak.

"Festival permainan anak ini upaya untuk menyelamatkan permainan rakyat, yang relatif banyak tidak dikenal lagi di kalangan anak-anak," kata Kepala Seksi Nilai Budaya, Bidang Budaya, Seni, dan Film, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Nurshodiq, di sela Festival Permainan Anak 2008, di Borobudur, Selasa.

Ia mengatakan, festival yang berlangsung hingga Kamis (23/10) diikuti puluhan pelaku budaya yang berasal dari perwakilan eks-Keresidenan Semarang, Surakarta, Pati, Pekalongan, Purwokerto, dan Kedu.

Berbagai permainan anak yang ditampilkan dalam festival di Pondok Tingal, sekitar 500 meter timur Candi Borobudur itu, antara lain soyang, jamuran, nini thowok, egrang, benthik, dan jogorogo.

Ia mengatakan, festival itu sejalan dengan program Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, "Bali Ndeso, Mbangun Deso". "Permainan tradisional anak patut dihidupkan lagi, dilestarikan, dan diselamatkan, untuk mengurangi pengaruh negatif budaya asing, dan mengembangkan nilai-nilai positif dari permainan itu," kata Nurshodiq yang juga Ketua Panitia Festival Permainan Anak itu.

Ia menjelaskan, berbagai bentuk permainan tradisional anak juga menjadi kekuatan bagi pengembangan kepariwisataan di provinsi itu. "Permainan tradisional juga menjadi atraksi wisata," katanya.

Pada kesempatan itu, pengajar Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang, juga memberikan ceramah tentang pengertian dan pemahaman nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam permainan tradisional anak.(ANT)


JY
Share on Facebook
Nilai 3 A A A
Ada 4 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
reza.biki @ Jumat, 24 Oktober 2008 | 01:26 WIB
dulu permainan anak yg saya gemari: - main karet/lompat tali, bahkan bisa buat kompetisi dgn tetangga. - main batu koral, ada 2 jenis. bisa buat kompetisi juga. sekarang permainan klasik murah meriah dan kreatif tersebut sudah tidak ada lagi.... salah satu faktor yg berpengaruh besar... tak ada lahan utk anak2 bermain.
arif @ Kamis, 23 Oktober 2008 | 22:07 WIB
Jadi pengin kembali ke masa lalu! kasihan anak-anak sekarang!
rzky @ Kamis, 23 Oktober 2008 | 16:38 WIB
menghilangnya lahan terbuka untuk anak2 bermain (terutama di kota besar) serta tumbuhnya budaya "jalan2 ke mall" dan menjamurnya game online membuat anak (dipaksa) bermain dan bersosialisasi berdasarkan kondisi yang tersedia saat ini.
Lily Harahap @ Kamis, 23 Oktober 2008 | 13:45 WIB
Membaca tulisan tsb ada perasaan gembira sekaligus sedih. Gembira, krn wkt sy kecil msh dibr ksmptn melakoni permainan tradisional tsb, n hingga saat saya dewasa terasa manfaatnnya. Salah satunya bgmn kita berbagi dan berjuang untuk kwn kita. Sedih, krn jika anak-anak skrag tdk mengenal permainan tradisionanal akn mengurangi rasa kebersamaan dan berbagi. Tks
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
293