Kenapa Cuaca Panas Sekali?
Akibat suhu panas di dalam ruangan di bangsal kelas III dewasa di Rumah Sakit Umum Daerah Koja, Jakarta Utara, Suratin (58), salah seorang pasien, terpaksa membuka baju agar lebih sejuk. Meskipun demikian, tubuhnya tetap berkeringat.
Rabu, 22 Oktober 2008 | 20:46 WIB

BANDUNG, RABU - Kondisi lingkungan dan cuaca di wilayah Bandung Raya semakin rusak. Dampak pembangunan tidak terkendali menimbulkan fenomena urban heat island lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Menurut Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN, Thomas Djamaluddin, di Bandung, Rabu (22/10), cuaca panas yang saat ini terjadi sebenarnya merupakan kejadian biasa. Bulan April dan Oktober, sama seperti tahun sebelumnya, merupakan puncak panas. Saat itu posisi matahari berada di selatan dengan arah tegak lurus. Selain itu, bulan April dan Oktober merupakan musim peralihan. Akibatnya, udara pun akan terasa lebih panas.

Akan tetapi, ada hal signifikan yang terjadi pada tahun ini, yaitu fenomena urban heat island. Fenomena ini adalah keadaan yang disebabkan pemanasan lokal dimana daratan sangat panas di titik tengah tertentu dan lebih dingin di daerah yang mengelilinginya. Di Bandung Raya, urban heat island meliputi Kota Bandung dan Cimahi sebagai titik tengah, dan wilayah Kabupaten Bandung dan Bandung Barat di sekelilingnya.

Pada awal tahun 1990-an, menurut Thomas, suhu di Kota Bandung, pada April dan Oktober hanya sekitar 24 derajat celcius. Namun, pada tahun 2008, suhunya meningkat menjadi 33-34 derajat celsius. Dalam kurun waktu itu, Bandung kehilangan sekitar 30.000 hektar daerah dengan suhu ideal sebesar 28 derajat celcius. Namun, menambah sekitar 15.000 hektar daerah bersuhu 31 derajat celcius.

Hal ini menurut Thomas tidak lain disebabkan hilangnya daerah hijau di Kota Bandung akibat perubahan tata guna lahan. Dari tahun 1994 2001, Bandung kehilangan sekitar 30.000 hektar hutan tapi menambah sekitar 15.000 hektar lahan industri dan sekitar 8.000 lahan pemukiman.

"Hingga kini, pepohonan masih ditebang tapi pembangunan gedung bertambah. Hal itu hanya akan mempercepat peningkatan urban heat island di Kota Bandung," katanya.

 

 


Cornelius Helmy Herlambang
Share on Facebook
Nilai 4.42 A A A
Ada 22 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Aly @ Sabtu, 15 November 2008 | 12:25 WIB
Jangankan di bandung, di puncak aja sekarang mah sudah panas. Mungkin kiamat sudah dekat sehingga dunia makin panas aja.
EmHa @ Sabtu, 1 November 2008 | 10:22 WIB
Dengan banyaknya dampak negatif yang telah kita alami akibat kerusakan alam kayak banjir dan tanah longsor mestinya kita bisa menjadi manusia yang lebih arif dalam bersikap terhadap alam. Daerah yang seharusnya pelindung bagi umat manusia mbok yo jangan digunakan buat mencari keuntunngan sendiri. Kan masih ada tempat lain yang lebih memungkinkan. Masa iya kita mau menjadi orang bodoh terus sih yang selalu menyesal di kemudian hari...??? Coba kita renungkan bareng-bareng...!!!!
herlina @ Jumat, 31 Oktober 2008 | 11:04 WIB
buat AC alami aja...dengan nanam pohon di halaman rumah. Beres khan...
Kenapa Bandung kini makin panas? @ Rabu, 29 Oktober 2008 | 16:20 WIB
Ayo siapa yang tahu kenapa Bandung kini makin panas? Bukan karena orang Jakarta makin banyak yang ke Bandung gara-gara Tol Cipularang, tapi..... Gara-gara Matahari mbuka cabang di Bandung banyak-banyak, satu matahari aja udah panas, apalagi kalo di Bandung ada banyak Matahari. Ya gak?
ryu @ Rabu, 29 Oktober 2008 | 08:38 WIB
mungkin gara2 banyak orang2 jakarta ke bandung,,yg bawa uang hasil ngak bener jd panas dehh..he he hhehe capeee dehhh....beli ac banyakkin mas....!!
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
45