Jimmy S Harianto & Lusiana Indriasari
Pulang kampung. Tak semudah itu para buruh migran kita yang sebagian besar wanita itu mewujudkan keinginan mereka. Betapa banyak pihak memanfaatkan buruh migran ini bak ”mesin uang” mereka, mulai dari pencari tenaga kerja, majikan di rantau, sopir, kernet angkutan pulang kampung, pemilik warung di perjalanan, hingga keluarga di kampung mereka sendiri.
Padahal, dengan penghasilan rata-rata 600 real (sekitar Rp 1,8 juta) per bulan jika di Arab atau 350 ringgit (lebih kurang Rp 1,4 juta) di negeri jiran, sungguh bukan jumlah yang cukup untuk diperas-peras.
Datem (bukan nama sebenarnya), misalnya. Warga sebuah dusun di Indramayu dan ibu dari dua anak (ketika berangkat ke Malaysia) ini sudah mulai ”diterkam”, bahkan sejak ditampung di sebuah yayasan tenaga kerja di Semper, Jakarta Utara, tahun 2002.
”Satu setengah bulan ditampung di yayasan sebelum diberangkatkan. Makan dan ongkos pergi ke yayasan dari uang sendiri,” ujar Datem. Adapun paspor dan perizinan kerja, termasuk komisi untuk ”sponsor lokal” (calo desa) semua diurus yayasan, tetapi tentunya tidak gratis: harus potong gaji Datem tiga bulan nanti di rantau.
Majikannya di Kelang, Selangor, Malaysia, adalah seorang pemilik ”kedai runcit” (jual sayur-sayuran, beras, ikan, dan baju-baju) di lingkungan sebuah pabrik.
Kelewat beratnya beban kerja dan ”kejam”nya sang majikan— membuat Datem hanya bertahan lima bulan kerja di kedai Lie Tan Yu. Pertengkaran dengan majikan terjadi ketika permintaan Datem untuk mengirimkan sebagian penghasilannya ke kampung untuk uang Lebaran ditolak. Datem memutuskan kabur setelah sempat dikurung di sebuah ruang tertutup semacam gudang selama dua hari dua malam.
”Saya dibawa ke tempat itu dengan mata tertutup pada pukul 12.00 malam,” kata Datem. Meski paspor ditahan sang majikan, Datem bertekad bulat kabur dengan taksi menuju ke pasar burung Selangor.
”Di pasar saya berjumpa perempuan Jawa, mungkin Madura, mengajak saya tinggal bersamanya,” katanya. Tujuh bulan lamanya—tanpa identitas secuil pun—Datem membantu perempuan Jawa itu berjualan sayur di pasar. Selepas membantu, ia bekerja mencuci pakaian di pasar burung dengan penghasilan 400 ringgit per bulan.
Pindah lagi. Kali ini bekerja pada sebuah kedai milik seorang polisi Melayu. Jadi ”pelayan air” (bertugas membikinkan dan menyajikan minuman untuk tamu kedai). Ia berhenti lagi lantaran banyak ”razia” identitas oleh petugas kerajaan untuk menjaring para ”pendatang haram” (imigran gelap). Datem selamat karena selalu disembunyikan polisi itu supaya tak kena garuk aparat.
Pindah lagi, Datem ke Serdang, masih di Selangor. Ia bekerja di sebuah bank—jadi pesuruh, pakai identitas paspor yang ia beli dari seorang TKW Bandung yang mau pulang kampung.
”Aku pakai nama Siti. Paspor aku beli 500 ringgit, hasil jadi pelayan air di kedai polisi Melayu,” katanya. Sementara Siti pulang kampung ke Bandung memakai ”paspor tendang” (paspor tembakan). Setahun setelah bekerja di bank itu, bosnya, Fatimah, mengetahui bahwa Datem ternyata memakai paspor Siti. Ia tidak dipecat, tetapi malah dicarikan paspor baru oleh Fatimah.
”Saya pakai nama Sumiatun, nama pemberian bos pertama saya, Lie Tan Yu,” kata Datem. Biaya pembikinan paspor barunya ini dibayar potong gaji 350 ringgit dari 700 ringgit penghasilan per bulannya. Guna menambah penghasilan, karena ”Atun” ingin pulang kampung, malam hari selepas bekerja di bank ia pun menjadi pelayan restoran China dari pukul 17.00 sampai 01.00. Pagi-pagi pukul 07.00 ia sudah harus membuka pintu bank. Gaji di restoran semalam 30 ringgit.
”Tujuh bulan pakai paspor Atun, saya pun bisa pulang kampung lewat Bandung,” kata Datem. Meski tak membawa uang memadai, Datem bersyukur bisa kembali berkumpul bersama keluarga meskipun suaminya di kampung sempat ”kawin lagi” (kemudian kembali cerai) gara-gara Datem tidak ada kabar beritanya selama empat tahun.
Godaan seks
Lain lagi liku-liku para buruh migran, terutama para TKW, yang bekerja di negara-negara Timur Tengah, entah itu Uni Emirat Arab, Kuwait, Suriah, termasuk Arab Saudi.
”Saya sempat merasa terpukul ketika majikan mengatakan: mengapa kamu ’tak mau’ dengan saya? Padahal, setahu saya, TKW dari Indonesia umumnya mau ’digitukan’. Dia sempat mengiming-imingi saya duit agar saya mau, tetapi saya tolak...,” kata Rasinih. Selain pernah bekerja di Jeddah dan Dhahran (Arab Saudi), Rasinih juga pernah menjadi TKW di Sarja (Abu Dhabi).
”Di Dhahran, saya sempat mau diperkosa di kamar mandi sama anak majikan. Dia bahkan kemudian mengunjukkan uang lembaran 100 real, tetapi tetap saya tolak,” kata Rasinih.
Hal serupa—digoda untuk berhubungan seks—juga terjadi ketika ia kerja di Abu Dhabi. ”Kalau saya mau melayaninya (sang majikan), saya bisa punya banyak duit,” katanya. Karena mengaku dirinya masih perawan waktu itu, Rasinih menolak tawaran berhubungan intim dengan majikannya itu.
Liku-liku lain? Begitu mendarat, buruh migran yang turun dari pesawat ini masuk ke terminal 2. Dari terminal 2 mereka lalu dibawa dengan bus menuju terminal pendataan (terminal 4) yang lokasinya sekitar 2 kilometer dari terminal pesawat di bandara.
Begitu turun dari bus, mereka harus melalui loket pendataan. Setelah itu, mereka membeli tiket perjalanan ke kampung halaman. Harga tiket yang dijual ini luar biasa mahal. Untuk tiket kendaraan umum (travel) dari Cengkareng ke Pandeglang Banten, misalnya, dijual Rp 260.000 per orang, ke Lampung Selatan Rp 380.000 per orang, dan Yogyakarta Rp 430.000 per orang. Untuk jarak yang lebih jauh tentu lebih mahal lagi.
Sebagai perbandingan, musim Lebaran harga tiket bus eksekutif AC ke Lampung Selatan dikenai Rp 185.000 per orang. Sedangkan ke Yogyakarta harga tiket termahal hanya Rp 300.000 per orang. Hari-hari biasa lebih murah lagi daripada harga Lebaran. Namun, untuk angkutan kepulangan buruh migran, harga tiket kendaraan dipatok sama.
Setelah mendapat tiket, para buruh migran ini masih harus menunggu selama berjam-jam untuk diberangkatkan. Tasmah (20), buruh migran yang bekerja di Taiwan, misalnya, baru diberangkatkan ke kampung halamannya di Karawang, Jawa Barat, pukul 23.00. Padahal, Rabu (24/9), pesawatnya mendarat di Cengkareng sekitar pukul 15.00. Tasmah tiba di kampung siang hari berikutnya. Padahal, jarak dari Bandara Soekarno-Hatta hanya sekitar 100 kilometer.
Dalam perjalanan pulang, para buruh migran ini masih dibayang-bayangi pemerasan lain. Beberapa rumah makan di sepanjang jalur perjalanan pulang kampung ditengarai menjadi tempat untuk memerah buruh migran.
Di daerah Cibungur di jalur menuju Purwakarta, misalnya, ada satu rumah makan yang menjadi tempat wajib transit bagi kendaraan pengangkut buruh migran. Di rumah makan itu disediakan dua areal tempat makan. Buruh migran disediakan areal depan, sedangkan tamu biasa di bagian belakang.
Menu yang ditawarkan sama, mulai dari bakso, mi ayam, sate, nasi goreng, dan lain-lain. Namun, harga tentu lain. Tamu biasa yang menyantap satu mangkok bakso dan minum air mineral kemasan botol paling hanya menghabiskan Rp 11.000. Namun, untuk buruh migran yang menyantap menu sama bisa dikenai Rp 25.000.
”Istri saya pernah disodori teh botol yang sudah dibuka tutupnya, padahal dia tidak memesan. Mau tidak mau ia harus membayar, harganya Rp 15.000,” kata Dedi, suami mantan buruh migran asal Subang, Jawa Barat.
Selain diperas penyedia rumah makan, buruh migran juga menjadi sasaran pemalakan sopir angkutan buruh migran. Di perjalanan atau di rumah makan, sopir meminta tambahan uang di luar harga tiket yang dibeli di bandara. Jumlahnya bervariasi, tetapi biasanya di atas Rp 100.000 untuk pengantaran ke daerah Jawa Barat, seperti Karawang, Subang, dan Kuningan.
Bila buruh migran menolak memberi uang, mereka diturunkan di perjalanan. Sopir juga menolak melanjutkan perjalanan setelah beristirahat di tempat makan dengan alasan mengantuk atau sakit. Selanjutnya, kendaraan dibawa oleh joki (sopir tembak) untuk mengantar buruh migran hingga ke rumahnya. Sampai di rumah, si joki inilah yang meminta uang kepada orangtua buruh migran.
Modus lain, sopir tetap mengantar buruh migran sampai ke desanya. Namun, begitu sampai di rumah, buruh migran diminta membayar uang yang jumlahnya sudah ditentukan oleh sopir.
Bila tidak mau memberi, koper atau barang bawaan buruh migran yang masih di mobil disita sopir atau kernet.
Waduh....