Bagian 31
When Giants Learns to Dance: The IBM Story
Ilustrasi
"Hermawan Kartajaya adalah pakar pemasaran dari Indonesia. Sejak tahun 2002, ia menjabat sebagai Presiden World Marketing Association (WMA) dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di Inggris (CIM-UK) ia dinobatkan sebagai salah satu dari "50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing". Saat ini ia juga menjabat sebagai Presiden MarkPlus, Inc., perusahaan konsultan pemasaran yang dirintisnya sejak tahun 1989. Selain aktif menulis buku-buku seputar dunia bisnis dan pemasaran Indonesia maupun internasional, ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum di berbagai negara." 
(Email : newwave@kompas.co.id)
Senin, 29 September 2008 | 00:26 WIB

Transformation of an enterprise begins with a sense of crisis or urgency”. Itulah yang dikatakan Lou Gerstner, orang yang berhasil melakukan corporate turnaround pada IBM ketika raksasa komputer ini sedang mengalami krisis.

Memang, ketika Gerstner diangkat sebagai CEO dan Chairman IBM pada April 1992, perusahaan ini sedang di ambang kehancuran. Pada Januari 1993, IBM mengumumkan kerugian sebesar 5 milyar dollar AS selama tahun 1992! Itulah kerugian terbesar dalam satu tahun yang pernah dialami oleh sebuah perusahaan sepanjang sejarah Amerika. Masalah yang menimpa IBM ini menjadi perhatian banyak kalangan. Betapa tidak, IBM sudah menjadi salah satu ikon bisnis Amerika dan dunia.

Sejarah panjang IBM dimulai saat perusahaan ini didirikan pada tahun 1896 di New York. IBM mulai tumbuh dengan pesat sejak tahun 1935 ketika mendapat kontrak dari pemerintah untuk mengelola data pekerjaan 26 juta orang. Pada tahun 1950-an, IBM mendapat kontrak yang cukup besar dari Angkatan Udara Amerika (USAF)

bersambung...

---------------------------------------
Bahasan lengkap artikel ini sudah diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul "New Wave Marketing, The World Is Still Round, The Market is Already Flat." Anda bisa memesan buku tersebut di GramediaShop.com atau hubungi Direct Selling Gramedia Pustaka Utama (
gpudm@gramedia.com, telepon: 021-53677834 ext. 3252 & 3253).

Hermawan Kartajaya
Share on Facebook
Nilai 6.33 A A A
Ada 6 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
ricky @ Selasa, 30 September 2008 | 22:26 WIB
wah saya jadi keingat buku why elephant can't dance nih. Yang paling seru bagaimana langkah gestner membenahi internal IBM nya
Erik Tapan @ Selasa, 30 September 2008 | 16:30 WIB
Boleh saya komentar dari sisi user. Sktr thn 90-an, PC IBM kantor sy kuat banget. PC tersebut -meskipun sudah terendam air banjir- hanya dikeringkan dg hair dryer, sudah bisa digunakan kembali. Sekarang Notebook COMPAQ di rumah, walaupun sangat jarang digunakan (hanya 2 jam per minggu dalam setahun). Namun sejak sy punya akses internet di rumah, baru dua minggu digunakan untuk berinternet (after office hour), langsung kolaps. Bagaimana kualitas notebook COMPAQ? Sy mrs tertipu krn brand Compaq.
Nugo @ Senin, 29 September 2008 | 15:50 WIB
"Orang yang berpikiran maju, mamandang masalah sebagai momen untuk berubah, sedangkan orang kalah memandang perubahan sebagai masalah" Tidak ada yang aneh, hanya memetakan kekuatan sendiri dan menganalisa pasar serta kompetitor. Apakah definisi besar? Gemuk dan hirarkis.. jika begitu siap-siaplah menjadi obesitas dengan segala konsekuaensinya..
IBMER @ Senin, 29 September 2008 | 15:15 WIB
IBM save by the java. Kalau saya lihat banyak produck IBM lebih handal daripada microsolf contoh nya. lotus domino, lotus notes, DB2, tivoli network performance, AIX OS. Hampri semua di bagun base on Java. Windos membangun aplikasi dengan vb seperti execl, word n tidak portable. Jika dibandingkan tingkat akurasi, komplex, kehandalan maka dapat dikatakan IBM produk lbh oke n developer lebih pintar dari Microsoft, tapi Microsoft lebih banyak untung karena marketing strategy
Roy Nugroho @ Senin, 29 September 2008 | 11:11 WIB
IBM memang telah banyak melalui berbagai macam tantangan. Yang bisa dipelajari dari IBM story adalah: sekalipun sempat pernah jatuh, tapi IBM tetap bisa menggeliat (who says Elephants can't dance) sampai sekarang --> karena core value dari IBM adalah innovation that matters (selalu berusaha untuk berinovasi dan berubah)
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
299