Bagian 26
Sex and the City Meets Desperate Housewives
Serial Sex and the City
"Hermawan Kartajaya adalah pakar pemasaran dari Indonesia. Sejak tahun 2002, ia menjabat sebagai Presiden World Marketing Association (WMA) dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di Inggris (CIM-UK) ia dinobatkan sebagai salah satu dari "50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing". Saat ini ia juga menjabat sebagai Presiden MarkPlus, Inc., perusahaan konsultan pemasaran yang dirintisnya sejak tahun 1989. Selain aktif menulis buku-buku seputar dunia bisnis dan pemasaran Indonesia maupun internasional, ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum di berbagai negara." 
(Email : newwave@kompas.co.id)
Rabu, 24 September 2008 | 00:05 WIB

FILM Sex and the City dan Desperate Housewives adalah dua contoh pentingnya  penggunaan customer insight. Kedua serial TV itu berhasil menyajikan sebuah tontonan yang menarik secara komersial dan juga berkualitas tinggi. Karena itu, tidak heran jika keduanya punya banyak penggemar serta memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi, seperti Emmy Award dan Golden Globe Award. Sex and the City malah sudah dirilis film bioskopnya pada akhir Mei 2008 lalu.

Lantas, kenapa kedua serial TV ini bisa begitu sukses? Mari kita lihat dulu Sex and the City. Serial TV ini mengisahkan kehidupan sehari-hari empat wanita yang merupakan bagian dari kaum elite di New York. Walaupun usia mereka sudah menginjak kepala tiga dan empat, mereka masih sangat fashionable, sering gonta-ganti busana.

Keempat sahabat wanita ini saling ngobrol secara jujur dan terbuka tentang kehidupan mereka, terutama dalam soal cinta. Tak jarang mereka menceritakan fantasi-fantasi seksualnya. Selain isu-isu yang menyangkut seks seperti soal penyakit seks menular, safe sex, atau seks bebas, serial ini juga banyak membahas bagaimana seharusnya peranan wanita di tengah masyarakat kota besar seperti di New York.

bersambung...

---------------------------------------
Bahasan lengkap artikel ini sudah diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul "New Wave Marketing, The World Is Still Round, The Market is Already Flat." Anda bisa memesan buku tersebut di GramediaShop.com atau hubungi Direct Selling Gramedia Pustaka Utama (
gpudm@gramedia.com, telepon: 021-53677834 ext. 3252 & 3253).

Hermawan Kartajaya
Share on Facebook
Nilai 5.27 A A A
Ada 9 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Roy @ Senin, 6 Oktober 2008 | 19:39 WIB
gw bingung, survei kualitatif kan pertanyaannya mendetail, sedangkan survei kuantitatif kan ga ada pertanyaan detail, tapi knapa disebutkan di artikel di atas: survei KUALITATIF bisa lebih valid ketimbang survei KUANTITATIF. Hal ini karena orang itu akan ENGGAN memberikan jawaban-jawaban yang jujur terhadap pertanyaan-pertanyaan survei KUANTITATIF yang bagi mereka termasuk sensitif.
citra @ Minggu, 28 September 2008 | 22:33 WIB
yup! very good artical. its so real-life..
aleya @ Kamis, 25 September 2008 | 17:50 WIB
real smart
Hermawan Kartajaya @ Kamis, 25 September 2008 | 08:37 WIB
Mas Arie Yth, thx banget. Artikel ini cm ingin menunjukkan bhw perilaku yg ada di film2 itu memang srg terjadi (pd kenyataannya) tapi susah ketangkep oleh survei kuantitatif, krn respondennya gak mau ngaku..:) Mas Faruq Yth, thx jg. Menggunakan social media utk komersialisasi bisa saja tp hrs dilakukan scr halus
Erik Tapan @ Rabu, 24 September 2008 | 17:40 WIB
Wah Pak Hermawan canggih juga. Selamat yha. (saya tahu info ini dari facebook lho, ini juga, jarang ada yang ngaku kalau tahu dari face book). Harapan saya, Pak HK bisa terus menulis. Salam,
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
299