Bagian 24
Evolution of Dance: Have You Seen It?
Evolution of Dance
"Hermawan Kartajaya adalah pakar pemasaran dari Indonesia. Sejak tahun 2002, ia menjabat sebagai Presiden World Marketing Association (WMA) dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di Inggris (CIM-UK) ia dinobatkan sebagai salah satu dari "50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing". Saat ini ia juga menjabat sebagai Presiden MarkPlus, Inc., perusahaan konsultan pemasaran yang dirintisnya sejak tahun 1989. Selain aktif menulis buku-buku seputar dunia bisnis dan pemasaran Indonesia maupun internasional, ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum di berbagai negara." 
(Email : newwave@kompas.co.id)
Senin, 22 September 2008 | 00:34 WIB

PERNAH lihat video klip yang judulnya “Evolution of Dance”? Kalau belum, coba sekarang juga Anda buka situs YouTube dan ketik judul video klip tadi di kotak pencarian.

Sudah ketemu? Ya, inilah video klip yang menjadi fenomena di YouTube. Video klip ini tercatat disaksikan sebanyak hampir 100 juta kali! Video klip ini menjadi video klip nomor dua paling populer di YouTube setelah video klip dari penyanyi Avril Lavigne.

Sebelumnya, selama lebih dari 2 tahun sejak di-upload di YouTube pada 6 April 2006, “Evolution of Dance” ini merupakan video klip nomor satu paling populer di YouTube. Pada masa-masa awal, video klip ini bahkan disaksikan sebanyak lebih dari 10 juta orang hanya dalam jangka waktu kurang dari dua minggu! Luar biasa, bukan?

Di video klip sepanjang sekitar 6 menit ini, komedian dari Amerika yang bernama Judson Laipply memperagakan kemahirannya menari sambil diiringi sejumlah lagu dari berbagai penyanyi dari berbagai era. Laipply dengan sangat persis menirukan gaya yang ditampilkan para penyanyi tersebut di video klip mereka.

bersambung...

---------------------------------------
Bahasan lengkap artikel ini sudah diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul "New Wave Marketing, The World Is Still Round, The Market is Already Flat." Anda bisa memesan buku tersebut di GramediaShop.com atau hubungi Direct Selling Gramedia Pustaka Utama (
gpudm@gramedia.com, telepon: 021-53677834 ext. 3252 & 3253).

Hermawan Kartajaya
Share on Facebook
Nilai 4.73 A A A
Ada 6 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
rodra @ Sabtu, 27 September 2008 | 11:46 WIB
Karena bagaimanapun presiden adalah orang dengan jabatan tertinggi dan Orang yang sangat sibuk Jadi apabila beliau menyempatkan diri menonton film, berarti film itu spesial.. Pikiran saya, rodra
j.hermawan @ Rabu, 24 September 2008 | 10:31 WIB
Pelanggan di era New Wave Marketing saat ini memang lebih sensitif, hal ini agar menjadikan suatu tantangan bagi para pelaku pasar / marketer agar lebih smart dalam bertindak. Semoga ilustrasi yang disampaikan oleh pak Hermawan Kartajaya bisa memberikan inspirasi bagi para pelaku pasar / marketer. Salam Sukses...!!!
ade @ Rabu, 24 September 2008 | 08:04 WIB
Kenapa kesuksesan ayat-ayat cinta selalu dikaitkan dengan presiden dan wapres ikut menontonnya. Padahal tanpa ditonton presiden dan wapres film ini sudah sukses juga dan juga banyak film yg ditonton president dan wapres yang tidak sukses. Jadi mengapa menganggap sesuatu yang ditonton president dan wapres itu sesuatu yah wahhh? Padahal mereka adalah manusia biasa seperti halnya rakyat yang lain dan cuma beda jabatan so walaupun dia seorang dewa jika menonton sebuah film tidak bisa dijadikan acuan
endi_t @ Selasa, 23 September 2008 | 01:08 WIB
kebetulan dah lama liat video dance itu di youtube. fenomena promosi oleh penggemar memang menjadi impian banyak perusahaan. salam.
didin @ Senin, 22 September 2008 | 21:37 WIB
salam Pak Hermawan, tulisan ini benar-benar menginspirasi pengusaha dari tinggkat paling atas, UKM dan yang mau merintis bisnis serta pemerintah untuk mensosialisasikan program-programnya.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
299